LAST
QUESTION
Genre: Shonen Ai *yang ga suka, mundur teratur*
Rating: ... ? #plak
Starring: The Gazette
Pairing: Reituki, saya Reituki garis keras #lol
Summary: .... Apa itu summary? #ditabok
A/n : Ini bukan karya terbaik saya, tapi FF ini lama bgt mendem di Lappychan dan Keitaichan #ngok
sebelumnya sih yang minta baca saya Share via email ketemen2 deket aja, tapi saya memiliki HAK PENUH dan ABSOLUTE atas FF ini.
Komen bisa via fb atau komen disini juga ga apa2. Caci maki asal bahasa sopan pasti direspon XD
Enjoy minna...
Chapter
2
Rapat
hari itu selesai ketika Sakano mengkonfrimasikan jadwal tour mereka yang baru.
Mereka akan keliling jepang selama enam bulan dan sebagai hadiah atas kerja
keras mereka, management akan memberika mereka li uran sebelum tour selama satu
minggu di sebuah pegunungan di hokkaido.
Reita
sengaja berlama-lama di studio agar ia bisa berdua saja dengan Ruki dan
membahas kenapa Ruki begitu marah kepadanya.
Ruangan itu masih sama seperti tadi pagi, berantakan dan kopi yang
tidak diminum RUki ada di atas meja, tidak bergerak seincipun.
Uruha dan Aoi asyik saling bersandar di depan drumset Kai
sementara sang drumer bersiap-siap untuk pulang.
Dia disana.
Reita berusaha mencari celah, namun Ruki sok sibuk dengan wajah di
tekuk memainkan ipadnya. Reita ingin sekali langsung menegur dan mendengar
alasan Ruki. Tapi Uruha pasti ikut campur. Ia rasa, membahasnya saat tengah
banyak orang seperti ini tidak akan membantu. Ia harus membuat Ruki berdua saja
dengannya.
“Minna
otsukaresama deshita...“ kata
Kai. “Dua hari lagi kita akan
nerangkat ke hokkaido, besok kalian bersantai saja dirumah.“
“kau
sudag mau pulang, Kai?“ tanya
Aoi.
“kau
tidak mau pulang, Aoi?“ Kai
malah balik bertanya. Uruha menggeleng mewakili Aoi.
“Kami
akan ke bar. Kalian mau ikut?“ Tanya
Uruha serya menatap kearah Reita dan Ruki juga.
Ruki langsung menggeleng. Reita mengerutkan dahinya. Ruki tidak
pernah ikut hang out ke pub atau bar dengan mereka. Malah setelah Reita
ingat-ingat, Ruki hampir tidak pernah bersosialisasi dengan member lainnya.
Hanya sekali Ruki ikut bermain kerumah Uruha, itu pun untuk urusan pekerjaan.
Dan seingat Reita, mereka pernah datang ke apartemen Ruki. Tapi hanya sekali.
Ia bahkan lupa bentuk apartemen Ruki seperti apa.
“Aku
akan menyusul,Uru. Aku harus ke tempat wardobe dulu.“ Jawab Reita.
“Kau
yakin?“
“Iya.
Nanti aku akan menyusul kalian.“ Jawab
Reita lagi. “Kau tidak akan ikut, Ruki?“
“Aku
mau disini dulu, aku mau menyelesaikan lirik.“
Uruha tersenyum mengiyakan dan segera membenahi barang-barangnya.
Aoi menggumam tetang sesuatu mengenai ponselnya yang kehabisan baterai dan
mengingatkan Uruha agar membawa charger ponselnya. Uruha mengiyakan serya
tertawa. Entah hanya perasaan Ruki saja, namun sepintas Uruha menatap Aoi dengan
lembut. Ruki benar- benar muak.
Aoi menarik kaos Uruha, seperti kebiasaannya kalau mengajak Uruha
untuk pulang.
“Ao,
tunggu, rambutku tersangkut!“ keluh
Uruha saat rambut panjang bergelombangnya tersangkut di engsel pintu.
“Apa?
Astaga Uru, rambutmu sudah kepanjangan. Sebaiknya kau potong saja rambutmu
ini...“ Aoi berusaha membantu
Uruha melepaskan rambutnya yang tersangkut di engsel pintu.
Uruha tertawa gugup. Ruki bisa melihat wajahnya yang merona merah.
“Aku
tidak akan memotong rambutnya, Ao. Menunggunya panjang seperti ini membutuhkan
kesabaran.“
“Iya
sih, rambutmu bagus panjang seperti ini... lain kali akan aku belikan jepit
rambut agar kau bisa mengaturnya lebih rapi.“
Kata Aoi pelan. SEjenak tangannya membelai lembut rambut halus Uruha.
“Te-terima
kasih...“ wajah Uruha semakin
merah.
“Hei
hei... apa sih kalian, kenapa bertingkah seperti dorama-dorama televisi begitu?“ celetuk Reita, setengah tertawa. Ia memang selalu merasa kalau
Uruha dan Aoi terlalu dekat dan intim sekali. Uruha hanya tersenyum tipis.
Setelah menarik paksa beberapa saat kemudian, rambut Uruha terlepas dari engsel
pintu. Uruha terus menertaeakan kebodohannya dan bergegas pergi dari ruangan
itu.
Tinggalah Reita dan Ruki dalam kecanggungan luar biasa. Ruki
terlihat tidak senang berduaan saja ditempat ini.
“Kau
tidak pergi?“ Kata Ruki dingin. Reita
menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Aku
mau mengurus wardobe“ gumam
Reita pelan. “Kenapa kau tidak mau ikut
dengan kami?“
“Ke
pub maksudmu? No, Im leave.“
“Ya
kenapa? Kau tidak pernah ikut bersama kami kemana pun itu.“
“aku
mengikuti kalian tour“ kata
Ruki kalem.
“Hang
out maksudku.“ Reita menahan nafas saat
pemuda mungil dihadapannya berusaha menghindari pertanyaan sebenarnya dengan
tenang.
“Itu
bukan urusanmu!“ Nada bicara Ruki semakin
rendah, menandakan bahwa dia semakin tidak senang dengan pertanyaan yang
diajukan Reita.
“Kau
ini kenapa sih? Tidak bisa ya kau berbaur dengab kami? Demi Tuhan, Ruki, jangan
anggap kami hanya bandmatemu! Kami juga adalag sahabatmu!“
“Kenapa
kau egois sekali, kau pikir kau siapa bisa memutuskan siapa sahabatku? Aku akan
mengatur hidupku sendiri. Dan tuam suzuki akira yang terhormat, silahkan anda
keluar dari ruangan ini, aku tidak membutuhkan siapapun.“ Ketus Ruki. Reita terkejut namun ia tak bisa memperlihatkan
kemarahannya. Baginya Ruki memang sudah menyinggung perasaannya, dan mungkin
member yang lain. Namun Reita tak bisa sepenuhnya m3nyalahkan Ruki, ia tak tahu
kenPa Ruki seolah-olah dia membencinya dan semua member.
“Kau
ini kenapa sih?“ tanya Reita akhirnya.
“Tidak
ada alasan khusus, aku hanya tidak ingin diganggu.“
“Aku
tidak bermaksud mengganggumu.“
“Sikapmu
menggangguku.“
“Baiklah,
maafkan aku untuk segala kesalahan yang tidak aku ketahui apa.“
Ruki menaikan alis tipisnya.
“Pergilah.
Aku hanya tidak ingin diganggu.“
katanya dingin.
Reita meraih tasnya dan keluar dari ruangan itu tanpa berkata
apa-apa lagi. Ruki mungkin tidak menyadarinya, sesaat sebelum Reita keluar,
tangannya bergerak cepat mengambil ipad dan ponsel milik Ruki. Karena Ruki
tidak mau menatapnya sehingga ia sama sekali tidak sadar.
Reita menutup pintu studio dan menguncinya dari luar. Ia tidak
tahu kenapa bisa sejahat itu, namun ia harus memberi pelajaran pada Ruki karena
memganggap mereka semua menganggunya.
“Reita-san,
belum pulang?“ tanya Sakano, managernya.
Reita tersenyum tipis, tanyannya melambaikan kunci elektronik card studio. “Sudah tak ada orang disana?“
“Ya,
sudah tak ada orang, aku yang terakhir.“
~Tsuzuku
a/n : Kelamaan update. Ternyata saya ga rajin update X'D
Komen dipersilahkan. Boleh via pm fb, atau dm twitter n IG. Arigatou yang udah baca..
Follow me on Twitter : @tsualla
Instagram : @tsuallamethuselluth
Tidak ada komentar:
Posting Komentar