Selasa, 26 Juli 2016

LAST QUESTION _ A Fanfic by Tsualla Methuselluth

LAST QUESTION

Genre: Shonen Ai *yang ga suka, mundur teratur*
Rating: ... ? #plak
Starring: The Gazette 
Pairing: Reituki, saya Reituki garis keras #lol


Summary: .... Apa itu summary? #ditabok

A/n : Ini bukan karya terbaik saya, tapi FF ini lama bgt mendem di Lappychan dan Keitaichan #ngok
sebelumnya sih yang minta baca saya Share via email ketemen2 deket aja, tapi saya memiliki HAK PENUH dan ABSOLUTE atas FF ini. 
Komen bisa via fb, twitter atau komen disini juga ga apa2. Caci maki asal bahasa sopan pasti direspon XD
Enjoy minna... 


Chapter 3

Ruki mematikan laptopnya dansegera memasukannya ke dalam tasnya. Ia kebingungan sesaat karena baik ipad dan ponselnya tidak ada ditempatnya. Padahal seingatnya ia menyimpan semuanya diatas Soffa. Ia benci bila kecerobohannya mengingat sesuatu terulang lagi.

Kemudian lampu di studio itu mati. Mendadak gelap gulita. Hanya remang-remang cahaya dari lampu diluar gedung ini yang sedikit masuk kedalam ruangan.

Ruki mulai panik dan takut. Ia benci kegelapan. Dan ini seperti film horor yang di tontonnya semalam. Ruki berjalan cepat menuju pintu. Masa bodoh dengan ponselnya. Ia harus segera keluar dari ruangan ini. Sekarang juga.

Pintu tidak mau terbuka. Ia menekan tombol berkali-kali. Tidak ada bunyi klik atau perubahan apapun di pintu itu. Ruki semakin panik. Tidak mungkin ia terjebak diruangan ini semalaman. Ia tidak suka gelap. Ia tidak suka dalam ruang gelap dan terkunci seperti ini sendiri. Anggaplah mungkin ia terkena serangan claustropobia mendadak. Yang jelas ia benci diruangan ini sendiri.

Dan pintu benar-benar terkunci. Ruki mengumpat dan menggumamkan kata kasar beberapa kali. Tidak ada yang terjadi. Ruki jatuh terduduk. Tubuhnya gemetar.

----------

Maaf aku lama. Kata Reita duduk disebelah Uruha yang masih menghabiskan white russiannya.

Mana Ruki? tanya Uruha.

Tidak ikut Jawab Reita singkat. Dengar, ada yang mau bicarakan dengan kalian

Ada apa? Kelihatannya serius sekali. kata Uruha.

Ini soal Ruki.

Ruki?

Reita bergeser sedikit dan menegak minumannya dari sloki yang disodorkan Aoi.

Dia membenci kita. kata Reita.

Hah? Apa? Uruha segera tertawa tanpa henti.

Ayolah Uruha, kau sudah mulai mabuk ya?Gerung Reita.

Tidak, dengarkan aku, dia yang bilang sendiri padaku tadi.

Dia mungkin benci padamu, tapi tidak dengan kami... Aoi menanggapi.

Aku serius.

Dengar. Uruha berdeham, menghentikan tawanya dan menatap Reita dengan pandangan serius sekarang. Apa dia mengatakannya secara tersurat atau tersirat?

aku tidak bisa membedakan kedua pharase itu. kata Reita bingung. Aoi kemudian mulai menampakan wajah seriusnya.

Tapi kalau itu semua benar, tidak mungkin dia bertahan lama di band ini. Bisa merusak kelangsungan band kata Aoi, kali ini dengan nada serius.

Tunggu sebentar. Itu tidak mungkin, kau tidak lihat dia sangat menggemaskan? Mana mungkin anak yang sangat menggemaskan seperti itu bisa membenci orang lain. Uruha masih bersikukuh. Aoi mengerlingkan bola matanya, kadang uruha selalu tidak masuk akal dan mempercayai hal yang menurutnya imut atau lucu.

Tapi Uruhax seandainya itu benar.. gumam Aoi.

Maukah kalian membantuku? tanya Reita lugas.

-----

Beberapa menit terlewat, Ruki masih duduk dilantai memeluk lututnya. Ruangan itu semakin dingin. Petugas pengurus gedung mematikan aliran listrik, termasuk penghangat ruangannya. Ruki sudah lelah berteriak memanggil seseorang, berharap penjaga gedung lewat di tempat itu dan mendengar teriakan putus asanya. Perut ya sudah berbunyi. Ia tidak tahan harus diam dalam gelap seperti ini. Ia harus keluar dari tempat ini segera.

Tapi pintu ini dikunci oleh semacam electronik card. Mustahil mendobraknya. Lagi pula, harus diakui, Ruki tidak memiliki tenaga sekuat itu. Ia payah soal berolah raga atau sesuatu yang mengeluarkan tenaga. Memilih untuk menyerah, Ruki beranjak di sofa dan merebahka. Dirinya disana, berharap pagi cepat datang.

----

Reita memapah Aoi masuk kedalam kamar Uruha. Bau alkohol menyengat tercium jelas dari tubuhnya. Dibaringkannya tubuh besar Aoi, sedikit dibanting sebenarnya, keatas ranjang queen size Uruha. Sementara Uruha mengambil teh hangat di pantrynya.

Ini. Uruha menyodorkan segelas teh panas untuk Reita.

Kau punya beer saja?

Kau sudah terlalu banyak minum, kau bawa mobil, ingat?

Reita merengut. Uruha paling banyak minum tapi dia tetap terlihat bugar. Padahal Aoi saja sampai tidak sadar begitu. Reita juga mulai merasa pusing. Tapi Uruha, berdirinya masih tegak, bahkan bisa menyetir dengan kecepatan normal dengan aman. Reita tidak meragukan kemampuan Uruha bertahan terhadap alkohol, namun ini sih sudah keterlaluan. Ia dan Aoi jadi seperti bocah dihadapannya. Pemabuk dan peminum memang berbeda jauh.

Biarkan saja Aoi, nanti pagi juga dia akan bangun dan sadar. Uruha menggedikan kepalanya.

Dia sepertinya sering sekali menginap disini. kata Reita dengan nada curiga.

Cukup sering, untuk sharing wanita mana yang dia tiduri kurasa. Uruha tersenyum, duduk disebelah Reita dan menyalakan televisinya.

Hanya kau yang mau mendengarnya kalau dia sudah berceloteh tentang wanita-wanitanya.

Aku tak punya pilihan lain selain mendengarnya. Lagi pula tak ada salahnya. Aku jadi tahu gaya bercintanya seperti apa. Uruha mengangkat bahunya. Rambutnya yg panjang terurai tak mampu menyembunyikan raut wajah getir saat mengatakannya meskipun ia tertawa.

Kenapa kau ingin tahu bagaimana dia bercinta??? Reita tak mengerti.

Entahlah. Hanya ingin tahu saja... kata Uruha gugup.

Kalian sangat dekat.

Tidak sedekat itu. Hei, kau tetap teman masa sekolahku yang paling dekat denganku, kau yang tahu ketika aku dikejar-kejar para yakuza itu!

hahaha... ya Tuhan, aku tidak mau merasakannya lagi. Cukup sudah, Uru.

Yah, waktu itu seru sekali

Tidak, sama sekali tidak. Kau membuat hidupku jadi tidak tenang gara-gara berurusan dengan para yakuza itu.

Nee Reita... Uruha berkata serius setelah tertawa panjang.

Ya?

Kalau benar si dolly itu membenci kita, dan memutuskan hengkang, apa yang akan kita lakukan? Membubarkan band? Kau tahu, dia sudah membuat band ini memiliki ciri khas.

Aku tak tahu. Kurasa kita harus membuatnya tidak membenci kita. Tapi, alasab dia membenci kita pun aku sungguh tak tahu.

Uruha terdiam lama. Pikirannya melayang kemana-mana. Ruki memang pendiam, tidak pernah bicara secara personal dengannya atau dengan member lain, tidak pernah terlihat benar-benar membaur. Tapi Ruki baik. Uruha pernah melihatnya tersenyum sangat lembut pada seekor kucing. Uruha juga pernah melihatnya tertawa riang saat dia bertemu Nao, leader band yang satu management dengan mereka. Mungkin mereka bisa bertanya pada Nao, tapi akan sangat riskan kalau ada orang luar band yang tahu bahwa band ini sedang goyang. Mungkin nanti malah tersebar ke publik dan timbul isu yang akan semakin memperparah keadaan. Mungkin mereka memang harus mencari tahu sendiri.

Aku pulang, Uru...

Ya, sampai nanti... kata Uruha mengantarkan Reita sampai ke pintu dan mengunci pintunya. Ia menguap dan membuka kaos tipisnya, menggantinya dengan yang bersih dan wangi.

Sesaat matanya melayang kearah Aoi yang berbaring terlentang, menghabiskan space di atas ranjangnya.

Ao, kau ingin aku tidur di sofa malam ini ya? Kau pikir siapa tamunya? Uruha tertawa. Namun ia tak ingin membangunkan Aoi, ia mengambil selimut cadangannya dan merebahkan diri di sofa.

----------------

Reita membuka pintu apartemennya yang berantakan. Senang rasanya bisa pulang ke apartemennya yang berantakan namun nyaman. Reita segera melompat keatas ranjangnya. Tak butuh waktu lama sampai ia terlelap dan tertidur dengan nyenyaknya.

Reita benar-benar melupakan sesuatu yang penting. Rasa lelahnya membuat ia tak tahan lagi dan tak ingin memikirkan apapun lagi. Ia hanya ingin tidur.

---------

Ruki bersin dan terbatuk lagi. Ini masih jam dua pagi dan ia sudah terbangun tiga kali. Ia tidak pernah terbiasa untuk tidur di atas sofa seperti ini, tanpa selimut dan penerangan yang cukup. Tubuhnya mulai merespon, hidungnya mulai merah dan perutnya perih karena ia tidak makan apa-apa dari kemarin siang. ini benar-benar buruk untuknya. Besok managernya sudah meminta mereka untuk tidur, bagaimana kalau ia masih tidak bisa keluar dari ruangan ini? Sedari tadi saja tak ada petugas patroli gedung yang lewat. Dan Koron, anjingnya, belum ia beri makan, bagaimana kalau anjing itu semalaman itu ribut meminta makan? Ia menyembunyikan anjing itu dari pemilik apartemen karena di apartemennya memang tidak diperbolehkan memelihara binatang, bahkan seekor hamster pun.

Berbagai macam pikiran buruk melintas di kepalanya. Mungkin itu penyebab ia tak bisa tidur semalaman.

Ruki berguling menghadap punggung sofa dan berusaha keras memejamkan matanya.

Hatsyiii!

Ruki menggosok hidungnya. Ya Tuhan, sekarang rasa pening dan mual menguasainya. Ruki memejamkan mata lebih keras.

---------

Reita mengeliat dan menguap.
Sudah pukul 6 pagi. Kalau mungkin burung bisa berkicau ditengah perkotaan ini, tentu ia masih bisa mendengarnya. Matanya melirik keluar jendela. Masih agak gelap dan mungkin sedikit berawan. Sudah mau memasuki musim gugur. Cuaca mulai mendingin. Alangkah baiknya pihak managemen mengizinkan mereka untuk libur. Bahkan mereka akan berlibur ke hokkaido dua hari lagi.

Reita berguling sebentar, mebenamkan wajahnya pada bantal empuknya.

Sekilas ia mengingat-ingat kejadian kemarin. Uruha yang minum tiada henti namun tidak mabuk, Aoi yang mabuk parah sampai harus menginap ditempat Uruha, dan Ruki yang ia kunci di dalam studio.

EH???.

Sialan! Reita segera terbangun mengambil kunci mobilnya dan berlari keluar.


 ~Tsuzuku

Follow me on Twitter : @tsualla
Instagram : @tsuallamethuselluth

Tidak ada komentar:

Posting Komentar