LAST
QUESTION
Genre: Shonen Ai *yang ga suka, mundur teratur*
Rating: ... ? #plak
Starring: The Gazette
Pairing: Reituki, saya Reituki garis keras #lol
Summary: .... Apa itu summary? #ditabok
A/n : Ini bukan karya terbaik saya, tapi FF ini lama bgt mendem di Lappychan dan Keitaichan #ngok
sebelumnya sih yang minta baca saya Share via email ketemen2 deket aja, tapi saya memiliki HAK PENUH dan ABSOLUTE atas FF ini.
Komen bisa via fb, twitter atau komen disini juga ga apa2. Caci maki asal bahasa sopan pasti direspon XD
Enjoy minna...
Chapter
3
Ruki
mematikan laptopnya dansegera memasukannya ke dalam tasnya. Ia kebingungan
sesaat karena baik ipad dan ponselnya tidak ada ditempatnya. Padahal seingatnya
ia menyimpan semuanya diatas Soffa. Ia benci bila kecerobohannya mengingat
sesuatu terulang lagi.
Kemudian
lampu di studio itu mati. Mendadak gelap gulita. Hanya remang-remang cahaya
dari lampu diluar gedung ini yang sedikit masuk kedalam ruangan.
Ruki mulai panik dan takut. Ia benci kegelapan. Dan ini seperti
film horor yang di tontonnya semalam. Ruki berjalan cepat menuju pintu. Masa
bodoh dengan ponselnya. Ia harus segera keluar dari ruangan ini. Sekarang juga.
Pintu tidak mau terbuka. Ia menekan tombol berkali-kali. Tidak ada
bunyi klik atau perubahan apapun di pintu itu. Ruki semakin panik. Tidak
mungkin ia terjebak diruangan ini semalaman. Ia tidak suka gelap. Ia tidak suka
dalam ruang gelap dan terkunci seperti ini sendiri. Anggaplah mungkin ia
terkena serangan claustropobia mendadak. Yang jelas ia benci diruangan ini
sendiri.
Dan pintu benar-benar terkunci. Ruki mengumpat dan menggumamkan
kata kasar beberapa kali. Tidak ada yang terjadi. Ruki jatuh terduduk. Tubuhnya
gemetar.
----------
“Maaf
aku lama.“ Kata Reita duduk
disebelah Uruha yang masih menghabiskan white russiannya.
“Mana
Ruki?“ tanya Uruha.
“Tidak
ikut“ Jawab Reita singkat. “Dengar, ada yang mau bicarakan dengan kalian“
“Ada
apa? Kelihatannya serius sekali.“
kata Uruha.
“Ini
soal Ruki.“
“Ruki?“
Reita bergeser sedikit dan menegak minumannya dari sloki yang
disodorkan Aoi.
“Dia
membenci kita.“ kata Reita.
“Hah?
Apa?“ Uruha segera tertawa
tanpa henti.
“Ayolah
Uruha, kau sudah mulai mabuk ya?“Gerung
Reita.
“Tidak,
dengarkan aku, dia yang bilang sendiri padaku tadi.“
“Dia
mungkin benci padamu, tapi tidak dengan kami...“ Aoi menanggapi.
“Aku
serius.“
“Dengar.“ Uruha berdeham, menghentikan tawanya dan menatap Reita dengan
pandangan serius sekarang. “Apa dia
mengatakannya secara tersurat atau tersirat?“
“aku
tidak bisa membedakan kedua pharase itu.“
kata Reita bingung. Aoi kemudian mulai menampakan wajah seriusnya.
“Tapi
kalau itu semua benar, tidak mungkin dia bertahan lama di band ini. Bisa
merusak kelangsungan band“ kata
Aoi, kali ini dengan nada serius.
“Tunggu
sebentar. Itu tidak mungkin, kau tidak lihat dia sangat menggemaskan? Mana
mungkin anak yang sangat menggemaskan seperti itu bisa membenci orang lain.“ Uruha masih bersikukuh. Aoi mengerlingkan bola matanya, kadang
uruha selalu tidak masuk akal dan mempercayai hal yang menurutnya imut atau
lucu.
“Tapi
Uruhax seandainya itu benar..“ gumam
Aoi.
“
Maukah kalian membantuku?“ tanya
Reita lugas.
-----
Beberapa menit terlewat, Ruki masih duduk dilantai memeluk
lututnya. Ruangan itu semakin dingin. Petugas pengurus gedung mematikan aliran
listrik, termasuk penghangat ruangannya. Ruki sudah lelah berteriak memanggil
seseorang, berharap penjaga gedung lewat di tempat itu dan mendengar teriakan
putus asanya. Perut ya sudah berbunyi. Ia tidak tahan harus diam dalam gelap
seperti ini. Ia harus keluar dari tempat ini segera.
Tapi pintu ini dikunci oleh semacam electronik card. Mustahil
mendobraknya. Lagi pula, harus diakui, Ruki tidak memiliki tenaga sekuat itu.
Ia payah soal berolah raga atau sesuatu yang mengeluarkan tenaga. Memilih untuk
menyerah, Ruki beranjak di sofa dan merebahka. Dirinya disana, berharap pagi
cepat datang.
----
Reita memapah Aoi masuk kedalam kamar Uruha. Bau alkohol menyengat
tercium jelas dari tubuhnya. Dibaringkannya tubuh besar Aoi, sedikit dibanting
sebenarnya, keatas ranjang queen size Uruha. Sementara Uruha mengambil teh
hangat di pantrynya.
“Ini.“ Uruha menyodorkan segelas teh panas untuk Reita.
“Kau
punya beer saja?“
“Kau
sudah terlalu banyak minum, kau bawa mobil, ingat?“
Reita merengut. Uruha paling banyak minum tapi dia tetap terlihat
bugar. Padahal Aoi saja sampai tidak sadar begitu. Reita juga mulai merasa
pusing. Tapi Uruha, berdirinya masih tegak, bahkan bisa menyetir dengan
kecepatan normal dengan aman. Reita tidak meragukan kemampuan Uruha bertahan
terhadap alkohol, namun ini sih sudah keterlaluan. Ia dan Aoi jadi seperti
bocah dihadapannya. Pemabuk dan peminum memang berbeda jauh.
“Biarkan
saja Aoi, nanti pagi juga dia akan bangun dan sadar.“ Uruha menggedikan kepalanya.
“Dia
sepertinya sering sekali menginap disini.“
kata Reita dengan nada curiga.
“Cukup
sering, untuk sharing wanita mana yang dia tiduri kurasa.“ Uruha tersenyum, duduk disebelah Reita dan menyalakan
televisinya.
“Hanya
kau yang mau mendengarnya kalau dia sudah berceloteh tentang wanita-wanitanya.“
“Aku
tak punya pilihan lain selain mendengarnya. Lagi pula tak ada salahnya. Aku
jadi tahu gaya bercintanya seperti apa.“
Uruha mengangkat bahunya. Rambutnya yg panjang terurai tak mampu menyembunyikan
raut wajah getir saat mengatakannya meskipun ia tertawa.
“Kenapa
kau ingin tahu bagaimana dia bercinta???“
Reita tak mengerti.
“Entahlah.
Hanya ingin tahu saja...“ kata
Uruha gugup.
“Kalian
sangat dekat.“
“Tidak
sedekat itu. Hei, kau tetap teman masa sekolahku yang paling dekat denganku,
kau yang tahu ketika aku dikejar-kejar para yakuza itu!“
“hahaha...
ya Tuhan, aku tidak mau merasakannya lagi. Cukup sudah, Uru.“
“Yah,
waktu itu seru sekali“
“Tidak,
sama sekali tidak. Kau membuat hidupku jadi tidak tenang gara-gara berurusan
dengan para yakuza itu.“
“Nee
Reita...“ Uruha berkata serius
setelah tertawa panjang.
“Ya?“
“Kalau
benar si dolly itu membenci kita, dan memutuskan hengkang, apa yang akan kita
lakukan? Membubarkan band? Kau tahu, dia sudah membuat band ini memiliki ciri
khas.“
“Aku
tak tahu. Kurasa kita harus membuatnya tidak membenci kita. Tapi, alasab dia
membenci kita pun aku sungguh tak tahu.“
Uruha terdiam lama. Pikirannya melayang kemana-mana. Ruki memang
pendiam, tidak pernah bicara secara personal dengannya atau dengan member lain,
tidak pernah terlihat benar-benar membaur. Tapi Ruki baik. Uruha pernah
melihatnya tersenyum sangat lembut pada seekor kucing. Uruha juga pernah
melihatnya tertawa riang saat dia bertemu Nao, leader band yang satu management
dengan mereka. Mungkin mereka bisa bertanya pada Nao, tapi akan sangat riskan
kalau ada orang luar band yang tahu bahwa band ini sedang goyang. Mungkin nanti
malah tersebar ke publik dan timbul isu yang akan semakin memperparah keadaan.
Mungkin mereka memang harus mencari tahu sendiri.
“Aku
pulang, Uru...“
“Ya,
sampai nanti...“ kata Uruha mengantarkan
Reita sampai ke pintu dan mengunci pintunya. Ia menguap dan membuka kaos
tipisnya, menggantinya dengan yang bersih dan wangi.
Sesaat matanya melayang kearah Aoi yang berbaring terlentang,
menghabiskan space di atas ranjangnya.
“Ao,
kau ingin aku tidur di sofa malam ini ya? Kau pikir siapa tamunya?“ Uruha tertawa. Namun ia tak ingin membangunkan Aoi, ia mengambil
selimut cadangannya dan merebahkan diri di sofa.
----------------
Reita membuka pintu apartemennya yang berantakan. Senang rasanya
bisa pulang ke apartemennya yang berantakan namun nyaman. Reita segera melompat
keatas ranjangnya. Tak butuh waktu lama sampai ia terlelap dan tertidur dengan
nyenyaknya.
Reita benar-benar melupakan sesuatu yang penting. Rasa lelahnya
membuat ia tak tahan lagi dan tak ingin memikirkan apapun lagi. Ia hanya ingin
tidur.
---------
Ruki bersin dan terbatuk lagi. Ini masih jam dua pagi dan ia sudah
terbangun tiga kali. Ia tidak pernah terbiasa untuk tidur di atas sofa seperti
ini, tanpa selimut dan penerangan yang cukup. Tubuhnya mulai merespon,
hidungnya mulai merah dan perutnya perih karena ia tidak makan apa-apa dari
kemarin siang. ini benar-benar buruk untuknya. Besok managernya sudah meminta
mereka untuk tidur, bagaimana kalau ia masih tidak bisa keluar dari ruangan
ini? Sedari tadi saja tak ada petugas patroli gedung yang lewat. Dan Koron,
anjingnya, belum ia beri makan, bagaimana kalau anjing itu semalaman itu ribut
meminta makan? Ia menyembunyikan anjing itu dari pemilik apartemen karena di
apartemennya memang tidak diperbolehkan memelihara binatang, bahkan seekor
hamster pun.
Berbagai macam pikiran buruk melintas di kepalanya. Mungkin itu
penyebab ia tak bisa tidur semalaman.
Ruki berguling menghadap punggung sofa dan berusaha keras
memejamkan matanya.
“Hatsyiii!“
Ruki menggosok hidungnya. Ya Tuhan, sekarang rasa pening dan mual
menguasainya. Ruki memejamkan mata lebih keras.
---------
Reita mengeliat dan menguap.
Sudah pukul 6 pagi. Kalau mungkin burung bisa berkicau ditengah
perkotaan ini, tentu ia masih bisa mendengarnya. Matanya melirik keluar jendela.
Masih agak gelap dan mungkin sedikit berawan. Sudah mau memasuki musim gugur.
Cuaca mulai mendingin. Alangkah baiknya pihak managemen mengizinkan mereka
untuk libur. Bahkan mereka akan berlibur ke hokkaido dua hari lagi.
Reita berguling sebentar, mebenamkan wajahnya pada bantal
empuknya.
Sekilas ia mengingat-ingat kejadian kemarin. Uruha yang minum
tiada henti namun tidak mabuk, Aoi yang mabuk parah sampai harus menginap
ditempat Uruha, dan Ruki yang ia kunci di dalam studio.
EH???.
“Sialan!“ Reita segera terbangun mengambil kunci mobilnya dan berlari
keluar.
~Tsuzuku
Follow me on Twitter : @tsualla
Instagram : @tsuallamethuselluth
Tidak ada komentar:
Posting Komentar