Selasa, 26 Juli 2016

KAGEFUMI _ The Shadow and The Moon _ A fanfic by Tsualla Methuselluth

KAGEFUMI

The shadow and The Moon


Pemuda itu membuka pintu salah satu apato yang tidak terlalu besar dengan takut takut, mengendap masuk kedalamnya seolah jika orang lain yang sedang tertidur di ranjangnya itu bangun, maka hidupnya akan berakhir.

Ia membuka secara perlahan lemari pendingin dan mengambil sebotol air mineral untuk menghilangkan rasa hausnya setelah sepanjang jalan menuju apato itu, ia setengah berlari mengejar waktu. Segesit apapun ia berlariz tetap sajaz wakty berlalu begitu cepat. Dan tanpa disadari ia tetap terlambat pulang. Jam murah berwarna silver yang setahun lalu dibelinya disalah satu sudut kota itu pun tidak berniat memundurkan jarumnya menuju dua angka dibelakangnya. Ia tetap terlambat. Dan orang ity, teman satu apartemennya itu, sudah mendahuluinya tiba di apato kecil itu mungkin satu atau dua jam yang lalu, entahlah.

Ruki, nama pemuda manis itu. Seorang yatim piatu miskin yang entah dengan cara seperti apa bisa bertahan hidup ditengah kota Tokyo yang kejam dan keras selama hampir seumur hidupnya, dua puluh tahun. Ia besar di panti asuhan dan menempa pendidikan formal di sekolah umum milik negara melalui jalur beasiswa dengan susah payah. Setelah lulus dengan nilai yang standar, dia pun memutuskan untuk bekerja paruh waktu dibanyak tempat dan berusaha mempertahankan hidupnya dengan susah payah.

Dan di kota itulah ia bertemu dengan Reita, pemuda lain yang saat ini masih terlelap dikamarnya. Reita seorang musisi jalanan. Hidup untuk bermusik dan bekerja sebagai bassist sebuah band yang secara reguler mengisi live musik di sebuah caffe. Reita masih memiliki orang tua, setidaknya itu yang Ruki tahu. Masih memiliki orang tua dan seorang adik yang entah berada dimana, Ruki tak pernah mendengar jawaban pasti dari pemuda tampan itu.

Mereka tinggal bersama. Apato ini milik Reita, masih mencicilnya beberapa tahun lagi, tapi apato ini satu2nya milik Reita yang berharga. Sebelumnya Ruki menyewa kamar kos di sudut kota Tokyo, tapi Reita berbaik hati menampungnya apa lagi setelah mereka memutuskan bahwa satu sama lain terlibat hubungan yang sama.

Reita adalah Kekasih Ruki. setidaknya itulah yang terikrar tiga tahun lalu, beberapa bulan setelah mereka bertemu dan berinteraksi.

Ruki kecil mungil dan menggemaskan meskipun dia kurus dan kurang terawat, tapi Reita begitu mengagumi sosok cantik dibalik kusamnya rambut kecoklatan itu dan kulit mulus putih pucat yang selalu disentuhnya.
Hanya Ruki yang selalu membuatnya merasa dibutuhkan dan membuatnya selalu merasa dicintai.

Begitu pula dengan Ruki, ia selalu merasa diantara sekian banyak kesialan dan penderitaan hidupnya, bertemu dengan Reita adalah hadiah besar dari Tuhan untuk menyelamatkan hidupnya yang putus asa. Reita tampan, gagah dan misterius. Dia tidak banyak bicara dan selalu membuat Ruki bertanya2 apa yang dia pikirkan. Reita selalu menjaga dan melindunginya, menyayanginya dengan tulus, satu hal yang tak pernah ia dapatkan dari orang lain sebelumnya. Rasa sayang dan cinta dari Reita begitu meluap2 hingga rasanya Ruki tak pernah merasa sekenyang ini sebelumnya.

Dulu.
sebelum kesalahan bodoh yang dilakukannya membuat Hidupnya tak lebih dari seorang hina yang memohonkan ampunan pada tuan besarnya.

clik!

Ruki terkejut dab menjatuhkan botol air mineral yang diminumnya tanpa sengaja saat lampu ruangan kecil itu tiba2 menyala.

"Rei..." kata Ruki tercekat mencoba tersenyum meskipun membuat wajahnya jadi terlihat aneh, campuran antara takut dan lega ternyata yang menyalakan lampu adalah kekasihnya.

Reita berdiri disudut ruangan, menahan dirinya yang bersandar ditembkk dengan sebelah tangannya. Reita tidak tersenym atau mengubah ekspresinya menjadi lebih ramah. Dia menatap Ruki dingin lalu melirik Genangan air yang tumpah kelantai.

"A-aku akan segera merapikannya." kata Ruki gugup, buru2 ia mencari lap untuk membersihakan lantai dibawah tatapan dingin Reita.

Pemuda yang lebih jangkung darinya itu hanya mendengus dan masuk kembali ke kamarnya sebelum membanting pintu kuat2 membuat Ruki kembali terlonjak.

Ruki mengelus dadanya yang terasa sakit. Beberapa bulan terakhir ini jantungnya terlalu banyak menerima kejutan dan membuatnya sedikit banyak menjadi sensitif akan suara gebrakan sekecil apapun.

Ruki meremas botol air mineral yang tadi di jatuhkannya, sedikit merasa tidak nyaman dengan pengabaian pemuda jangkung itu.

-----
Pagi hari menjelang. Ruki tersentak bangun saat sesuatu terjatuh di pantry. Buru2 ia bergegas menuju pantry dan melihat penyebab suara keras itu.

"O-ohayou..." sapa Ruki saat tidak disangka Reita tengah berada di pantrynya, memungut pan dan panci yang terjatuh ke lantai.

Reita tidak menjawab sapaannya. Dia hanya menuangkan air panas ke dalam cangkir kopi dan segera wangi kopi menguar di pagi hari itu.

"Kau mau sarapan? Aku akan membuatkan sesuatu..." kata Ruki, dengan gugup membuka lemari pendingin dan mengambik beberapa butir telur dan keju, bersiap membuat omelet.

"Kau terlambat..." kata Reita.

"Ah, maafkan aku. Aku tertidur jauh malam dan sedikit lelah. Aku lupa memasang jam wekkerku." Ruki berkata dengan nada ceria. Berusaha mengembalikan keadaan apatonya seperti dulu, saat awal dia menjalin hubungan dengan Reita. Tapi rupanya hal yang sama tidak dirasakan oleh Reita.

"Kau semalam pulang sangat larut."

"Hmm... yah, aku harus bertemu..." Ruki terdiamz menahan kata2nya keluar. Sayangnya pemuda yang kini menyesap kopi panas di hadapannya sudah menyadari apa yang hendak ia katakan.

"Kau dan pekerjaan hinamu..." gumam Reita jengkel. Ruki meringis menahan sakit di dadanya lagi saat mendengar kata2 itu keluar kembali dari mulut kekasihnya.

"Tidak boleh berkata begitu.. Rei..." gumam Ruki pelan, menundukan kepalanya dalam, berusaha menahan air matanya yang entah tanpa diundang, merangsek hendak keluar dari mata indahnya.

"Cih, aku tidak peduli." Reita berkata kata lagi. Ia menyalakan rokoknya dan mengeluarkan ponsel dari saku celananya.

"A-aku akan pulang sedikit terlambat lagi malam ini." Ruki berbalik dan segera membuatkan Reita sarapan.

"Oh ya tentu saja. Aku tahu sesibuk apa kau di malam hari." Kata Reita.

"Rei, aku tahu aku salah tapi apa yang kulakukan ini ada alasannya." Ruki berusaha menjelaskan.

"Katakan."

"...." Ruki mengigit bibirnya, bingung.

"Kau membuatku muak." Reita sepertinya masih dalam mood yang sangat buruk. Ia meraih cangkir kopi panasnya dan melemparkannya pada pemuda mungil dihadapannya.

Ruki spontan menangkis benda itu tapi cairan kopi panas didalamnya tumpah dan mengenai lengannya.

Prank!

"Ouch! Itte!" Ruki bisa merasakan kalau sekarang tangannya melepuh sementara Reita sudah melenggang meninggalkannya bersama pecahan cangkir, lengan yang melepuh dan air mata yang tertahan.

"Rei... Maafkan aku..."

--------

"Oi. Hentikan itu." Seorang pemuda cantik dihadapannya menghentikan kegiatannya melamun dan melayangkan pikirannya jauh entah kemana.

"Uruha-san." Ruki terkesiap dengan teguran pria berambut panjang dengan bibir kritibg itu.

"Kalau kau ingin segera dapat tamu malam ini, jangan melamun seperti itu. Pergilah ke depan dan sapalah beberapa tamu." Uruha duduk disampingnya dan menyulut sebatang Rokok merk terkenal dengan ekspresi sok.

Hari ini sama seperti hari2 sebelumnya. Uruha selalu menjadi primadona ditempat itu. Dia tinggi, langsing, cantik dan menawan. Dia tidak menunjukan sikap murahan namun tetap ramah membuat daftar tamunya selalu penuh setiap malam.

"Ah, aku sedang menunggu seseorang." Ruki berusaha tersenyum. Uruha mengerutkan dahinya.

Baru beberapa bulan yang lalu Pemuda mungil itu datang ke tempat ini, mencari pekerjaan. Cukup membuat Uruha heran, karena Ruki memang manis, tapi tampangnya terlalu polos untuk berani bekerja di tempat ini. Awalnya malah Uruha pikir Ruki datang untuk mencari pekerjaan sebagai tukang cuci piring di bagian dapur atau cleaning service. Ia cukup kaget saat melihat Ruki duduk di salah satu kursi pendatang baru dengan baju yang indah yang dipilihkan oleh bagian wardobez mencoba tersenyum gugup pada siapa saja tamu yang datang dan melihat.

Dan orang sekelas Uruha, sebenarnya tidak perlu susah2 menyapanya atau menjadikannya teman. Peringkat mereka berbeda jauh bagaikan bumi dan langit. Tapi saat melihat anak itu kebingungan mencari tasnya yang disembunyikan oleh seniornya yang lain, Uruha tidak tega.

"Oh... Apa Kojima-sama? Kelihatannya dia sangat tertarik kepadamu." Uruha menebak serya meliarkan pandangannya, mengawasi tempat kedatangan tamu.

"Iya..." Ruki tersenyum lemah.

"Kau yakin tidak mau menolaknya? Aku pernah sekali menjadi Invitationnya, dia yang terburuk. Maksudku, dia tipe S kan?" Uruha bergidik ngeri saat mengingat bagaimana terakhir kali ia berurusan dengan tuan besar yang kini menjadi Invitation Ruki.

"Uhn... aku butuh uangnya besok pagi." Kata Ruki lagi. Uruha menatap anak mungil yang sibuk memperhatikan sepatu boots yang dipakainya.

Anak itu manis sekali. Polos dan sangat baik hati. Entah bagaimana dia bisa terjebak didunia hitam seperti ini. Katanya butuh uang yang sangat banyak. Semua orang butuh uang. Sebanyak apa hingga anak itu memutuskan untuk menjual dirinya?. Lagi pula untuk apa?.

Ruki tidak pernah menjawabnya. Uruha pun tidak mau repot2 memaksanya bicara. Hanya mungkin terkadang seorang Uruha yang cantik dan seorang bintang ini tidak tahan untuk tidak tega kepadanya. Mungkin ini perasaan seorang kakak mengingat Uruha pernah memiliki seorang adik yang mungkin seumuran dengan Ruki yang sudah meninggal beberapa tahun lalu?. Entahlah.

"Semangat!" Uruha mengacak rambut Ruki yang tertata rapu dan menepuk punggungnya. Ruki hanya tersenyum simpul.

Senior yang dikaguminya itu selalu membuatnya merasa lebih baik meski hanya sedikit.

"Uruha-san, Shiroyama-Sama sudah menunggu anda di tempat biasa." seorang pelayan menghampirinya.

Seketika wajah Uruha berubah menjadi lebih cerah. Ia mematikan rokoknya dan membubuhkan sedikit parfume beraroma mawar di leher dan tangannya. Membuat orang2 disekelilingnya termasuk Ruki sesaat terpesona oleh harumnya yang sangat khas Uruha. Ditempat itu hanya sang ratu yang mengenakan parfume bunga mawar asli yang mahal.

"Aoi sudh datang, aku duluan Ruki. Semoga beruntung dengan Kojima-Sama."

"Arigatou Uruha-san." Ruki tersenyum lagi padanya saat pemuda cantik itu setengah berlari menuju lantai atas, tempat tamu Regulernya menunggu.

"Ruki-kun, Kojima-Sama sudah tiba." Pelayan ITU kembali mengangetkannya.

Ruki menatapnya pasrah.

"Ya, aku akan segera menemuinya. Terima kasih." kata Ruki.

Pelayan itu tersenyum dan mengangguk prihatin. Sejak awal kedatangan Ruki ditempat itu, ia merasa kalau Ruki tidak pantas berada disana. Anak itu terlihat sangat tertekan.

Ruki menarik nafas dan menghembuskannya. Ia bercermin sebelum mencoba tersenyum agar tak seorangpun tahu kalau ia tidak ingin berada ditempat itu.

Ia kemudian memakai blazernya dan bergegas menemui Invitationnya yang mungkin sudah lama menunggu.

"Konbanwa Kojima-Sama..." Ruki menyapa seorang pria yang memakai mantel bercorak leopard dan mengamati wine di gelas anggurnya sebelum meminumnya dengan gerakan yang sangat elegan.
Pria itu sangat tampan dan berambut pirang kecoklatan. Tubuhnya tinggi dan bentuk tubuhnya bisa dibilang sangat proposional dan Indah. Matanya setajam elang namun selalu ada kilat nakal menggoda yang tersirat dari matanya.

Byou Kojima seorang pengusaha super sukses. Jaringan bisnisnya sudah merambah dunia internasional dan asetnya dimana2. Dia memang lahir dikeluarga pengusaha kaya, seluruh keluarganya merupakan orang terkenal. Adiknya adalah designer pakaian yang terkenal dan orang tuanya memiliki berbagai bisnis disegala bidang dan aktif di parlemen. Tapi Byou sukses dengan jalannya sendiri.
Dia masih sangat muda. Ruki pikir mungkin mereka hanya terpaut 5-6 tahun saja. Tapi kekayaannya sudah terkenL dimana2.

"Ruki-kun..." Byou tersenyum padanya dan segera menarik tangannya kedalam pelukannya.

Ruki terlihat jengah namun ia diam saja. Aroma parfum mahal Byou dari balik mantelnya menyita indra penciumannya.

"Maaf sudah lama menunggu." kata Ruki sopan, duduk disebelah Byou setelah orang kaya itu melepaskan pelukannya.

"Tidak selama itu..." Byou masih tersenyum kepadanya.

Senyum Byou sebenarnya sangat manis dan hangat. Dia sangat baik hati kepada Ruki. Ketika awal dia melihat Ruki di salah satu kursi pendatang baru, dia sudah jatuh hati pada tatapan sendu dan tertekan milik Ruki, rasanya anak itu membuat dirinya bertanya2 kenapa anak itu memiliki tatapan sesedih itu.

Byou menyapanya dan Ruki terlihat takut dan tidak nyaman diawalnya. Namun Ruki pemuda yang cerdas, Byou bisa merasakan itu setelah beberapa kali mengajaknya bicara.

Hingga akhirnya Byou memutuskan untuk membawanya keluar.

lagi pula itu tujuan Byou datang ketempat itu. Untuk membawa pulang ke hotel atau deretan apartemennya sebuah boneka yang bisa mengusir rasa bosannya akan pekerjaan yang menumpuk. Dan beberapa hal lain yg membuatnya muak.

"Kenapa lenganmu?" Tanya Byou ketika menyadari bahwa tangan kanan Ruki berbalut perban asal2an.

"A-ah ini tersiram air panas..." gumam Ruki, tterlalu ingin membahasnya.

"Begitukah? apa kau ingin ke rumah sakit dulu sebelum pergi bersamaku? aku bisa membawamu ke dokter paling bagus di negri ini."

"Tidak perlu, Kojima-sama..  terima kasih. Tapi ini tidak terlalu sakit." kata Ruki tersenyum lagi. Kali ini dengan lebih natural.

Diantara sekian banyak orang, mungkin Byou yang paling baik terhadapnya meskipun kadang Ruki merasa kalo Invitationnya ini tidak pernah serius dengan ucapannya.

"Hangatkan dirimu dulu kalau begitu." kata Byou memanggil pelayan dan memesan long island untuknya.

"Kojima-sama, aku tidak bisa minum alkohol..."

"Tidak apa2 kalau hanya satu sloki tidak akan membuatmu mabuk." kata Byou, tersenyum jahil lagi. Ruki hanya memgangguk.

membantah kata2 Invitationnya hanya akan membuatnya terjebak dalam situasi yang sulit.

"Selamat malam, Kojima-sama..." Uruha menyempatkan diri menyapa mantan tamunya saat melintas bersama seorang pemuda berambut Raven yang tatapannya terlihat dingin. Tangannya merangkul lengan pemuda berambut panjang itu.

"Uruha-chan! Wah, kau cantik sekali malam ini." Byou memuji. Ia menghampirnya dan mencium tangan Uruha yang tersenyum bisnis dihadapannya. "Dan ah, kalau tidak salah anda.... Shiroyama Yuu. Senang sekali melihat anak dari teman bisnisku malam ini ditempat seperti ini."

"Apa kabar, Kojima-Sama... Terima kasih atas bantuan anda kepada Klan Shiroyama selama ini." Pemuda yang menggandeng Uruha itu membungkukan badannya, Memberi hormat kepada Pria bermantel leopard itu.

"Bukan masalah besar. Aku senang berbisnis dengan klan paling jenius yang ada di negri ini. Bagaimana kabar Shiroyama Gackt, ayahmu? apa dia sehat?"

"Iya, dia sangat sehat."

"Sampaikan permohonan maaf ku karena tidak bisa secara langsung memberinya ucapan selamat atas pembukaan cabang terbarunya."

"Akan aku sampaikan dengan senang hati."

"Kalian akan seger pergi?" tanya Byou.

"Iya, kami akan segera pergi. Ada beberapa urusan yang ingin aku selesaikan sebelum pagi menjelang."

"Dengan membawa si cantik ini?"

"Karena bukan urusan Bisnis, Kojima-sama. Aku ingin Uruha ikut menemaniku."

"Begitukah..." Byou tertawa. "Baiklah kalau begitu, aku tidak akan menganggu waktu kalian lagi. Selamat menikmati malam yang indah ini..."

"Terima kasih, selamat menikmati waktu kalian juga."

"Rukiz aku duluan..." Uruha melambai padanya. Ruki hanya tersenyum dan mengangguk.

"Mereka lebih cocok menjadi pasangan kekasih dari pada, yah kau tahu kan..." komentar Byou ketika kedua pasangan itu pergi dari hadapan mereka.

"Ya. Uruha-san cantik sekali malam ini." puji Ruji. Byou menoleh padanya dan merangkulnya dengan erat.

"Dan kau manis sekali malam ini. Lucu sekali. Aku jadi ingin memakan mu..."

"Eeh..." Ruki salah tingkah.

"Haha... ayo, sebaiknya kita pun segera pergi. Aku tidak ingin malam ini cepat berlalu."

Karena Byou begitu ingin pergi dan mwnghabiskan malam hanya berdua saja dengan Ruki, mereka berdua pergi keluar segera setelah Byou menghabiskan long islandnya.

Sebuah mobil mewah berwarna hitam berhenti tepat dihadapan mereka. Seorang pemuda yang tidak kalah muda dari Byou keluar dari sisi supir dan membukakan pintu mobil untuk mereka berdua.

"Perkenalkan, ini Jin. Sekretaris pribadiku. Dia orang yang paling aku percaya setelah diriku sendiri tentu saja..." Kata Byou saat Ruki menatap pemuda itu penuh takjub.

Jin untuk ukuran sekretaris pribadiz berpenampilan sangat nyentrikz tak kalah dari penampilan Byou sendiri. Ruki malah mengira kalau dia adalah salah satu host yang bekerja secara pribadi pada Byou.

Jin tidak mengenakan taxedo ata setelan jas pada umumnya para sekretaris bekerja. Sebaliknyaz dia memakai celana yang sangat pendek yang memperlihatkan pahanya yang putih mulusz dengan boots selutut dan baju berwarna hitam. Rambutnya sebahu dan bergelombang berwarna kecoklatan. Ia menindik salah satu sudut bibirnya dan memasang pierching perak disana.
Jin menganggukan kepalanya mempersilakannya masuk kedalam mobil.

Jin sempat memandangnya dari atas sampai bawah seolah menilai penampilan Ruki, dan membuat si mungil itu merasa diintimidasi oleh sekretaris manis itu.

"Jin-chan, kita segera ke Plantry House. Aku ingin segera beristirahat sebelum pagi." kata Byou ketika mereka sudah berada didalam mobil.

"Baik." hanya itu yang diucapkan Jin sebelum mobil sedan mewah hitam itu melaju gesit dijalanan.

"Jadi .. ceritakan tentang dirimu." kata Byou dengan nada manja pada Ruki yajg setengah terpana oleh interior mobil mewah itu.

Sepertinya Konglomerat ini penyuka segala aesuatu berbau leopard. Mantel leopardnya sangat menyatu dengan interior mobilnya yang juga bertema leopard dan penuh bulu halus.

"Ruki-chan..." Byou mencolek dagu Ruki yang termangu.

"A-Ah! Maafkan aku, aku malah terpesona dengan isi dalam mobil anda..." Ruki berkata tidak enak.

"Bagus kan? ini semua hasil buruanku." Byou tertawa bangga.

"Benarkah? ini semua asli??" Ruki meraba furr yang ada dihadapannya dan merasakan kelembutannya.

"Bohong. Ini semua memang asli tapi bukan hasil buruan Byou-sama..." Jin menjawab pertanyaan Ruki dan mematahkan kekaguman Ruki meski hanya sesaat.

"Aw Jin-chan. Kau membuatku terdengar tidak keren..." Byou terkekeh sementara sekretarisnya itu hanya mencibir serya membelokan mobilnya menuju sudut lain kota itu.

Ruki menatap keduanya heran. Byou dan Jin sepertinya sangat dekat. Jin bahkan memanggil nama depan Byou, bukan nama keluarganya.

"Jadi bagaimana? Ceritakan tentang dirimu..." kata Byou.

Ruki menggaruk kepalanya bingung. Ia tak tahu harus menceritakan apa pada konglomerat itu. Ia bahkan tidak memiliki sesuaty yang harus diceritakan atau dibanggakan.

"Aku... tidak tahu harus menceritakan apa."

"Apa saja. Seperti, seperti apa keluargamu? apa kau memiliki keluarga?"

"Tidak..." Ruki menggelengkan kepalanya.

"Apa maksudmu dengan tidak?" Byou mengerutkan dahinya heran.

"Aku tidak memiliki keluarga. Aku besar dipanti asuhan..." gumam Ruki, menundukan kepalanya lagi.

"Apa... oh... maaf kan aku. Aku tidak tahu. Apa kedua orang tuamu sudah meninggal?"

"Aku tidak tahu. Aku ditemukan di depan pintu panti asuhan. Itulah yang mereka katakan."

"Kasihan sekali...Lalu kau saat ini tinggal dengan siapa?"

"Dengan..." Ruki menelan ludahnya. "Dengan seseorang yang baik hati..."

"Kekasihmu?"

Ruki tidak menjawab. Ia menundukan kepalanya semakin dalam. Mengingat sikap Reita yang tidak seperti dulu lagi terhadapnya, ia takut mengakui kalau dia masih kekasih pria bernoseband itu.

Tanpa disadari, sebulir air mata jatuh menuruni pipi Ruki dengan cepat.

---------
"Otsukaresama Deshita..." Reita merapikan bassnya.

"Rei, bagaimana dengan besok?" tanya Kai, pemuda berlesung pipit, temannya bermain band.

"Yah, itu boleh." jawab Reita. Ia tersenyum dan menyulut rokoknya, menyesapinya dengan ekspresi lelah namun lega.

satu lagi perfomnya di catfe itu bersama Kai sukses besar. Meskipun bayarannta tidak besar, tapi ini cukup untuk makan dia dan Ruki seminggu kedepan.

"Hati2 Koichi! Astaga, kau tidak bisa diam ya...." seorang pemuda berambut hitam berlari mengejar pemuda lain yang berambut pink menyala yang tertawa-tawa menghindarinya serya menjinjing boneka kelincinya.

"Tangkap ini, Tsuzu!" Pemuda berambut pink itu melempar boneka kelincinya yang langsung ditangkap pemuda berambut hitam itu.

"Astaga Koi!" pemuda berambut hitam itu menangkap boneka kelincinya dan tersenyum kepada si rambut Pink. "Kau benar2 yah!" lalu menangkapnya dalam sebuah pelukan sebelum menyeret si rambut pink yang terus meronta itu untuk pergi bersamanya serya tertawa2.

"Itu Tsuzuku dan Koichi. vokalis dan bassis dari band yang tampil sebelum kita." Kata Kai bahkan tanpa ditanya oleh Reita.

"Mereka kelihatan akrab." komentar Reita.

"Memang. Mereka kan couple. Disetiap aksi panggungnya mereka berdua selalu melakukan fans service." ujar Kai lagi. "Kenapa kau menatap mereka seperti itu?"

"Seperti apa maksudmu?" Reita balik bertanya jengkel.

"Ngomong2, sudah beberapa bulan ini kau tidak pernah membawa si mungil itu bersama mu..." Kai menyulut rokok yang sama dengan yang di sulut oleh Reita.

"Ruki maksudmu?"

"Ya."

"Aku kan tidak harus kemana2 membawanya. Aku bukan pengasuhnya." Kata Reita jengkel.

"Aneh sekali." Kai meliriknya sekilas. "Sebelumnya kau pernah berkata kepadaku, kau tidak bisa jauh dengannya."

"Aku tak ingin membahasnyaz Kai..." gumam Reita.

"Begitu..." Kai terkekeh. "Kurasa saat melihat Tsuzuku dan Koichi, kau seperti melihat dirimu dan anak itu dulu,kan?"

"Aku duluan, Kai..." Reita berkata malas pada Kai, menenteng hardcase bassnya dan pergi dari hadapan Kai yang tersenyum prihatin.

sepertinya pemuda bernoseband itu sedang dalam kondisi setengah frustasi dengan anak mungil itu.

"Ouch! Apa ini???" Kai menatap boneka kelinci yang dilempar tepat ke wajahnya.

"Aaa! Maafkan aku, Kai-san! Koichi! Kemana kau melempar!" Tsuzuku merebut boneka itu kembali dan mengejar Koichi dengan gemas.

"Yare..."

---------
Reita menyalakan semua lampu yang ada diruangannya.

Tidak ada siapa2 disana.

Ruangan itu sepi dan dingin.

Reita menghela nafas lelah.

"Okaeri, Rei-kun..."
senyum itu selalu menyapanya dibalik pintu apartemen iniz menghilangkan segala lelahnyaz meski semalam apapun ia selalu menyambutnya dengan senyum yang sama.

"Tadaima..."

"Nee Rei, aku membuatkan makan malam untukmu. Lihat, ini Resep baru, aku menirunya dari acara masak di tv."

"Benarkah? Apa rasanya aan enak?"

"Rei!" bibir tipis itu mengerucut.

Reita membuka matanya.
Sekelebat bayangan masa lalu membuatnya jengah untuk menutup matanya. Ia melihat kearah jam dinding.

Sudah jauh larut malam tapi Ruki tidak ada tanda2 akan pulang.Ia muak dengan keadaan ini.

Entah sejak kapan Ruki nya yang polos dan menggemaskan berubah menjadi sesosok yang ia benci.

"Rei, aku akan pulang terlambat."

"Huh? kenapa?"

"Aku... ada pekerjaan tambahan."

"Jadwalmu sudah padat. Sekarang kau masih mau mengambil pekerjaan lain?"

"Ah ini bisa dikerjakan di malam hari dan... tidak selalu setiap malam aku mengerjakannya, Rei..."

"Pekerjaan apa? Aku akan mengantarmu kesana."

"Ti-tidak perlu, Rei... Aku akn langsung kesana sepulang dari konbini."

"Pekerjaan macam apa yang kau kerjakan, Ru?"

"Itu.... hanya menjadi pelayan di sebuah lounge..."

"Benarkah? apakah kau tidak lelah, Ru?"

"Aku akan baik2 saja, Rei..."

Tapi itu adalah kebohongan pertama dan yang terbesar yang kau lakukan padaku, Ru.

"KAU MEMALUKAN!! APA YANG KAU LAKUKAN DENGAN PRIA ITU???" Aku berteriak penuh emosi padamu, tak peduli apakah tetangga sebelah apartemenku mendengar atau tidak. Kau berdiri dengan penuh ketakutanz wajahmu pucat dan keringat dingin mengalir di pelipis wajahmu. Pakaian itu, pakaian yang aku tahu tak akn pernah mampu kau beli dan atau mampu aku beli, terliat sangat indah di tubuh mungilmu. Kau bisa memakainya dari mana?. Siapa yang memakaikannya padamu?.

"Re-Rei... aku bisa menjelaskannya padamu..." Air mata menggenangi mata badammu yang indah.

"KAU MENJUAL DIRIMU PADA HIDUNG BELANG ITU??? DEMI TUHAN RU, KAU MEMBUATKU KECEWA!!" Entah setan apa yang merasukiku, aku yang begitu menyayangimu, akhirnya melayangkan tangan tepat di wajahmu, mencetak lebam sebesar telapak tangan di pipi putih mulusmu.

"Rei... aku memiliki alasan... maafkan aku..."

Reita membuka matanya kembali. Ia sempat tertidur beberapa saat tadi dan mimpi masa lalu kembali merasukinya.

Ia melirik jam dinding sekali lagi.

Pukul 3 pagi.

Ia beranjak keluar dari kamarnya dan mengintip kamar disebelahnya.

Kamar itu masih kosong. Futon yang biasa telah tergelar dengan Ruki meringkuk diatasnya. Tapi kamar itu masih kosong dan sepi.

sepertinya Ruki belum pulang.

kau menikmati pekerjaanmu kan, Ru?

-------------
Sakit sekali...

Ruki merangkak menuju kamar mandi mewah di hotel itu. Luka di kakinya masihmengeluarkan darah, tapi mungkin setelah ia membasuhnya dan merendamnya dengan air hangat, darahnya akan berhenti mengalir.

Ia memutar kran air hangat di bath tubnya, membiarkannya penuh untuk beberapa saat dan ia menarik ikat kimono tidur yang dipakainya semalam.

Rasa perih dan sakit akibat luka2 yang diakibatkan permainan Byou semalam semakin terasa saat ia mencelupkan dirinya kedalam air hangat itu. Sedikit menahannya, ia menenggelamkan seluruh tubuhnya sebelum kehabisan nafas, ia menariknya kembali.

Byou Kojimaz benar seperti yang dikatakan oleh Uruha. Tipe S. Diawal permainan Ia memulai dengan membakar sebatang lilin yang tetesannya dia biarkan menetes diatas kulit Ruki yang mulus. Dilanjutkan dengan mengikat kedua tangan Ruki di board ranjang besar itu dan entah apa lagi yang dilakukannya.

yang pasti ditengah permainan Ruki hampir kehilangan kesadaran saking sakit dan perihnya seluruh luka yang ditimbulkan oleh benda2 tak lazim milik Byou. Belum lagi bagian analnya yang tak luput dari siksaan Byou.

Tapi rupanya hanya dengan cara itu Byou bisa memperoleh kenikmatan yang dicarinya.

Setelah lelah dan puas dengan permainannya sendiri, Byou merangkul Ruki yang tertidur dalam kelelahan di pelukannya, menciuminya dengan hangat dan ikut terlelap bersamanya.

saat pagi hari menjelang, Byou terbangun dan membersihkan dirinya. Kemudian ia langsung pergi dari tempat itu setelah sebelumnya meninggalkan tumpukan uang untuk Ruki bisa bawa pulang.

Memgingat peristiwa yang dialami semalam, entah kenapa Ruki merasa kotor dan mual.

Ia menatap kedua tangan nya yang kini mulai memarah.

Tangan ini sangat Kotor. Melebihi apapun juga. Ia tak sanggup lagi. Mungkin menangis tidak akan menyelamatkannya dari situasi apapun. Tapi ia tak bisa memghentikan air matanya yang semakin deras mengalir.

-----------

Reita tetap mempertahankan ekspresi dinginnya saat pintu terbuka dan sosok Ruki memasuki ruangan dengan sempoyongan.

"Rei, kau belum berangkat?" Ruki berujar kaget saat menemukan Reita masih di apato itu, menonton tv entah acara apa dengan menyilangkan tangannya.

Reita hanya mengerling sinis pada pemuda mungil itu. Dilihatnya kondisi Ruki yang berantakan. Ada bekas merah dilehernya. Bibirnya yang terlihat lebih merah tua, bahkan nyaris berwarna ungu,Perban dikedua lengannya. Dan wajahnya yang sangat pucat.

Reita mengambil bassnya dan membesarkan volume amplinya. Ia mematikan tvnya dan mulai membetot bassnya dengan tempo yang cepat, mengabaikan keadaan Ruki.

"Kau sudah makan siang, Rei? Kau mau kubuatkan spagetty?" tanya Ruki tersenggal.

Untuk berdiri saja dia sudah kepayahan. Apalagi untuk memvuatkannya masakan?. Reita tidak menjawab dan hanya membetot bassnya semakin kuat dan cepat.

Ruki menatapnya sedih.

Pemuda bernoseband itu bahkan tak sudi menjawab sapaannya.

"Umm... kalau kau mau makan, aku ada dikamar..." kata Ruki sebelum masuk kedalam kamarnya, membuka futon secara asal dan segera merebahkan diri disana, menyelimutinya dengan selimut tipis miliknya yang selalu setia menemaninya disaat sepeeti ini.

Ya. Yang dia butuhkan hanya tidur.

-----
Byou mencoretkan sebuah tanda tangan diatas selembar kertas kontrak yang selesai ia baca. Ini akan menguntungkan perusahaannya.

Pintu ruangannya tiba2 diketuk.

"Masuklah, Jin..." meskipun orang yang mengetuk pintu tidak menyebutkan nama ataupun mengeluarkan suara, Byou tahu siapa yang berani menganggunya disaat sibuk seperti ini.

"Byou-Sama." panggil Jin saat pemuda ITU memasuki ruangannya.

"Jin-chan... kau mau makan siang bersamaku?" kata Byou ceria, menyingkirkan setumpuk dokumen yang sedari tadi ditekuninya. Jin meletakan tumpukan dokumen baru dihadapan Byou menggantikan dokumen yang lama.

"Makan siang untukmu sudah aku atur. Kali ini kau akan makan siang bersama dengan Komisaris perusahaan XX."

"Tidak mau..." Byou memanyunkan bibirnya.

"Jangan manja!" Jin memberinya death glare. "Acara makan siang ini penting untukmu. Kau bisa melobi Komisaris untuk menanam saham besar di cabang perusahaan ini. Lagi pula--"

"Tapi kupikir aku bisa makan siang bersamamu." Ujar Byou memotong kata2 Jin.

"Ha?"

"Iya, batalkan saja acara makan siangnya. Aku tidak ingin mual karena makan siang sambil menatap wajah orang tua itu."

"Kau tidak bisa seenaknyaz Byou-sama. Lagi pula, bukankah semalam kau sudah cukup bersenang2?"

"Ah semalam itu memang menywnangkan..." Byou menjilat bibir bawahbya dan tersenyum jahil pada Jin yang ekspresinya berubah lebih muram. "Apa kau cemburu, Jin-chan?" goda si penyuka leopard print itu.

"Tidak. Tapi kalau kau menunda pekerjaanmu mungkin aku akan membuatmu tidak bisa keluar dari ruangan ini barang satu langkah." Kata Jin serya menutup pintu Ruangan Byou dengan sedikit lebih kencang dari ia yang mau.

"Cih.. Aku kan hanya ingin menghabiskan waktu lebih banyak denganmu... Jin-chan..."

-------
"Rei..."

Reita merasa namanya dipanggil dengan lirih oleh kekasih mungilnya dari kamar. Tapi ia terlalu jengkel dan kesal untuk menjawab panggilan itu.

"Rei... bisakah aku minta tolong?"

Reita masih diam serya membetot bassnya semakin kuat. Volume suara dari amplinya menggedor2 gendang telinganya sendiri.

"Reita... to-tolong ambilkan minum... bisakah?"

"... kau bisa mengambilnya sendiri." jawab Reita dingin.

"Kepalaku sakit Rei, pusing sekali... Tolong ambilkan minum... aku haus..."

Reita mengabaikannya. Ia terus membetot bassnya. Ia tidak kehilangan hatinya. Tapi ia begitu marah pada Ruki hingga memutuskan untuk mengabaikannya. Lagi pula entahlah. Mungkin saja Ruki pun sudah tak memiliki hati lagi sehingga mengabaikan pendapatnya.

"Reita... tolong..."

Reita terus membetot bassnya. Tidak peduli.

----------
Ruki membuka matanya. Ia merasa sangat pusing dan kepalanya sakit luar biasa. Tenggorokannya sakit dan kering.

Ia meraba dahinya sendiri.

Seperti dugaannya, ia terkena demam. Mungkin ini karena semua luka yang dibuat oleh Byou? atau memang daya tahan tubuhnya menurun?. Ia tidak tahu.

Serta merta ia meraba dadanya. Syukurlah bagian itu belum terasa sakit.

Terbatuk, Ruki mencoba untuk berdiri dan mencari air untuk ia minum. Suara bass masih terdengar di telinganya. Reita rupanya masih disana. Ruki terbiasa diabaikan oleh si bassis itu dan mencoba mengerti dan mengalah.

sempoyongan dan tertatih2, Ruki akhirnya tiba di pantry dan mengambil segelas air mineral dingin untuk dia minum. Entah bagaimana, gelas yang sudah ia genggam erat tiba2 tergelincir dari tangannya hingga jatuh dan pecah.

"Yabai..." Ruki mengeluh. Pecahan gelas itu sekarang tersebar dimana2.

"Kau! Tiba bisa untuk tidak berisik ya?" bentak Reita tiba2.

"Aa... maafkan aku. Akna segera aku bereskan." kata Ruki serya berjongkok dan memunguti pecahan gelasnya satu persatu.

"Lagi2 kau membuatku muak!" Reita mendorong punggung Ruki yang labgsung kehilangan keseimbangan dan nyaris tersungkur kalau saja tangannya tidak sigap menahan. Sayangnya telapak tangan yang ia pakai untuk menahannya, mendarat di pecahan gelas yang segera menancap disana. Ruki bahkan tidak sempat mengerang kesakitan, Reita keburu menjambak rambutnya dan menyeretnya keruang tengah.

"Rei..  Rei..." Ruki mencoba melawan. Kepalanya pusing.

"Aku ingin memberi pelajaran kepadamu!"

"Hentikan Rei! Lepaskan aku! Kau mau apa?" tangan Ruki yang berdarah2 menggapai tangan Reita yang menjambak rambutnya.

"Kau..  benar2 membuatku marah! Setelah ini segeralah pergi dari tempatku! Aku tidak mau menampung orang hina sepertimu!"

"Rei... Maafkan aku... Kumohon..." Ruki meronta lagi. Air mata menggenangi matanya lagi. Tapi belum tumpah sama sekali. Ia sudah bersumpah tidak akan menangis lagi. "Aku sebegitu buruknya kah dimatamu, Rei?"

"Yang terburuk..."

Ruki menatap Reita.

"Maafkan aku... Rei. Aku tidak akan melawan lagi..."

Ya, kalau itu bisa membayar semua kesalahanku padamu. Ketahuilah Rei, aku tidak ingin semua ini terjadi. Tidak ingin...

-----------

"Jin-chaaaaan~" Byou memanggil sekretarisnya dengan manja yang disambut death glare sadis dari si pemilik mata kecoklatan itu.

"Jangan jutek begitu dong. Aku sudah selesai nih. Ayo kita pergi makan siang..."

Jin menghela nafas. Ia tahu benar tabiat bos besarnya ini. Tidak akan mengalah untuk mendapatkan apa yang ia inginkan.

"Aku sudah membatalkan acara makan siang bersama Komisaris. Sekarang katakan kepadaku, kau ingin makan siang dimana?" Jin memang sekretaris yang baik. Kadang memang dia memanjakan bosnya, bukan kareba terpaksa, tapi karena ia memng selalu mengalah pada Byou.

"kau baik sekali, Jin-chan. Bagaimana kalau kita makn berdua di roppongi? di restoran bintang lima di lantai tertinggi disana dan dsertai kerlip bintang, cahaya lilin dan musik yang---"

"Byou, kita akan makan siang, bukan candle light dinner romantis. berhentilah membuat segalanya seakan2 penuh mawar dihadapanku." Jin memotong.

kerlip bintang apa?

"Jin-chan, kau tidak romantis." sungut Byou, tidak terima khayalan indahnya pupus oleh sekretaris pribadinya yang jutek.

"Jadi, kau mau makan siang dimana?" tanya Jin lagi.

"Hmm... terserah padamu."

"Padaku?" Jin mendecak sebal. "Kenapa harus padaku?"

"Karena aku ingin makan siang berdua saja bersamamu. Terserah padamu."

Jin menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Mereka hanya punya waktu satu jam untuk makan siang dan Byou memintanya untuk memutuskan tempat? dimana2 pasti penuh. Ia sudah tidak sempat untuk reservasi tempat. Kadang sikap Byou yang seenaknya menyulitkannya. Ia mudah sebal untuk hal2 seperti ini.

"Nee, Jin-Chan?" Byou nyengir dihadapannya membuat urat syaraf di kepala Jin semakin bertonjolan.

"Jangan nyengir penuh maksud seperti itu dasar kau hentai ouji-san!"

-------------
Ruki menyeka darah yang mentes dari sudut bibirnya yang sobek. Tangannya gemetar dan air matanya yang hendak tumpah ia tahan mati2an. Pelipis matanya memar dan banyak lecet yang sekarang mewarnai wajah mulusnya. Ia merangkak menuju kamarnya. Kakinya begitu lemas hingga tak mampu lagi menopang dirinya untuk berdiri.

Reita sudah pergi sejam yang lalu. Ia tidak tahu kemana Reita pergi. Mungkin ke tempat bandnya biasa berkumpul atau entah kemana. Reita tidak memiliki tempat tetap untuk bekerja. Tidak seperti Ruki yang setiap pagi hingga sore ada di konbini dan saat malam ada di host clubnya.

Ruki merasakan sakit disekujur tubuhnya. Reita menambah daftar luka yang harus ditanggung olehnya. Bahkan bekas luka dari Byou masih terasa hangat, Reita tidak peduli.

Ponselnya berdering.

Tidak pernah ada yang meneleponnya. Kecuali Reita. itu pun sudah berbulan2 berlalu sejak terakhir kali Reita meneleponnya.

Ruki mengerutkan dahinya dan melihat display ponselnya menunjukan nomor asing yang memanggilnya.

"Mos-moshi2... dare desu ka?" kata Ruki.

"Ruki-kun... Ini aku."

"Aku?" Bagaimana mungkin dia bisa mengenal orang yang meneleponnya jika hanya mengatakan 'Ini aku' ?

"Masa kau sudah melupakanku... semalam bukankah kita menghabiskan waktu yang sangat hebat?"

Ruki terkesiap.

"Ko-Kojima-sama..."

"Akhirnya kau ingat..."

"Ma-maafkan aku, Kojima-sama... aku tidak tahu kalau ini nomormu. Bagaimana kau bisa tahu nomor ponselku?"

terdengar tawa disebrang sana. Tawa ini sangat khas Byou. Tawa iseng yang Ruki tidak mengerti kenapa orang seelegan itu bisa memiliki tawa seperti itu.

"Tentu saja aku tahu."

"A-ada apa Kojima-sama sampai meneleponku?" tanya Ruki lagi.

"Hmm... menurutmu kenapa?"

"Aku tidak tahu."

"Aku ingin mengajakmu makan malam."kata si Konglomerat itu. Ruki mengerutkan dahinya.

"A-aku tidak mengerti.."

"Sebelah mana dari kata2ku yang tidak kau mengerti? Kau tahu kan, makan malam. Makan malam..." Byou terdengar gemas dengan katanya2 sendiri.

"Uh..  aku mengerti. Tapi kenapa?" tanya Ruki.

"Tidak boleh ya? Aku hanya berpikir kita akan lebih dekat lagi dan mengenal satu sama lain. Dan mungkin kita bisa lebih akrab..."

"A-aku..." Ruki terlihat bingung.

"Kau tidak mau?"

"Ahh..  bukan. Aku hanya berpikir, untuk apa? aku pasti tidak akan menguntungkan untukmu dan hanya akan merepotkanmu..."

"Hei... hubungan pertemanan tidak didasari. apakah salah satu pihak akan menguntungkan atau tidak." kata Byou. Ruki terdiam. "Kalau begitu, jam berapa kau bisa aku jemput?"

"A-aku tidak bisa, Kojima-sama. Maafkan aku..."

"Kenapa?"

"Aku... tidak enak badan. Sedikit demam. Aku bahkan tidak datang ke tempat kerja atau ke club."

"Benarkah? Apa kau baik2 saja?"

"Sedikit..." gumam Ruki.

"Aku tidak tahu apakah ini semua karena kegiatan kita semalam, tapi aku minta maaf, Ruki... sampai membuatmu sakit seperti itu..."

"Tidak Kojima-sama baik sekali, mengirim taxi untuk mengantarku pulang dan memberiku uang..  yang sangat banyak. Aku sangat membutuhkannya. Terima kasih banyak..."

"Itu sudah menjadi kewajibanku... Baiklah, kalau kau memang sedang sakit, beristirahatlah. Semoga cepat sembuh..."

"Iya, terima kasih banyak Kojima-sama..." kata Ruki pelan sebelum menutup sambungan teleponnya.

Kojima itu sepertinya tertarik padanya. Apa karena Ruki terlalu penurut? atau hanya karena dia merasa bersalah telah meninggalkan Ruki dengan berbagai macam luka yang tak tahu kapan bekasnya akan menghilang?.

Ruki menarik semakin erat selimutnya. Ia sudah beberapa bulan ini tidak mendapatkan perhatian selembut itu dari orang lain. Ruki tahu, Byou adalah orang yang sangat baik. Dia penuh perhatian dan lembut. Jika ia tipe s, itu hanya karena mungkin orientasi sexualnya yang berbeda dari orang lain. RUki samar2 ingat, saat ia nyaris pingsan saat Byou melakukan berbagai aksi sadisnya saat bercinta, Byou berkali2 membisikan kata maaf padanya. Mungkin saja Byou memilikk semacam kepribadian lain

Ruki menghela nafas dengan gemetar.

Jika Reita terus menerus tidak mengubah sikapnya, Ruki takut dia akan merasa nyaman dengan Byou. Dia takut suatu.hari dia menyerah dan pergi dari Reita.

-------------

"Yak..." Byou meletakan garpu dan pisaunya lalu meneguk jus lemonnya.

Jin menaikan sebelah halisnya, melirik pria di hadapannya dengan tatapan mencela.

"Kupikir seharusnya 'Terima kasih atas makananya' " kata Jin, menyuapkan sepotong steak kedalam mulutnya.

"Itu cara tradisional, Jin chan..." Byou terkekeh.

"Itu cara yang sopan."

"Ya,baiklah. Bagaimana kalau nanti sore kita pergi kesuatu tempat?" tanya Byou, jelas tidak mendengarkan ucapan sekretaris pribadinya itu.

"Kau harus menandatangani dulu SOP untuk pembiayaan--"

"aku tahu." Byou memotong. "maksudku, setelah semua pekerjaan selesai."

"Baiklah." ujar Jin. "Kau ingin pergi kemana?"

"Ah, bisa kau urus, kan. Dimana alamat anak manis itu?"

Jin menatapnya lagi. Ia meletakan pisaunya dan menyesap sedikit air mineral di gelasnya.

"Ruki-san?" tanya Jin.

"Siapa lagi..." Byou terkekeh lagi.

"Akan aku urus." Jin berkata lagi dengan nada tak ingin membahasnya lagi. Ia memang sempat mendengar Byou menelepon host baru di host club itu dan menanyakan keadaannya. Ini tidak biasa. Byou tidak pernah seperhatian itu pada bonekanya.

"Anak itu kena demam..." ujar Byou. "Mungkin saja karena aku keterlaluan kepadanya. Dia sampai tidak.masuk kerja hari ini. kasihan sekali."

"Host yang melakukan pillow bisnis tahu akibat yang akan diterimanya setelah melakukan pillow bisnis. Kuharap kau memberinya uang yang cukup untuk beberapa bulan ke depan. Dia anak baru dan berani mengambil pillow bisnis, beberapa bulan kedepan rangkingnya akan.turun dan mungkin saja dia akan dipecat."

"Aku hanya memberinya uang sejumlah yang dimintanya. Tidak terlalu banyak." kata Byou santai.

"Apa dia bodoh?"

"Sepertinya dia tidak tahu mengenai penurunan ranking. Uruha-chan itu temannya kan? mungkin dia melihat Uruha, yang melakukan pillow bisnis tapi tetap menjadi nomor satu."

"Uruha-san memang sangat cantik. Apa yang membuat anak itu sepercaya diri itu kalau dia akan seperti Uruha." kata Jin jengkel.

"Aku akan sangat bersyukur kalau dia keluar dari host club itu." Byou mengangkat gelasnya dan mengoyang2kan isinya.

"Agar kau bisa menguasainya sendiri?"

"Kenapa kau selalu menebak apa yang aku pikirkan?" Byou tersenyum senang.

"Kalau kau belum tahu, wajahmu sangat mudah dibaca,ibarat buku, kau itu headline judulnya.," kata Jin kejam. Byou terkekeh semakin keras. Jin menatapnya datar. Dia tidak bermaksud membuat sebuah lawakan, tapi rupanya bosnya itu menganggap apa yang keluar dari mulutnya semuanya adalah candaan belaka.

"Kau sudah selesai?" tanya Byou saat Jin mengisyaratkan pelayan untuk memberikannya bill.

"Ya, kita harus segera kembali ke kantor. Aku belum menyelesaikan laporan yang kau minta tadi pagi."

"Kau belum menghabiskan makananmu..." Byou mengerutkan dahinya. Dihadapan Jin, hot platenya masih terisi penuh. Hanya sedikit potongan daging yang menghilang dari sana. Byou tahu restoran ini adalah restoran steak yang disukai Jin, bahkan Jin bisa setiap ada kesempatan datang dia akan datang dengan gembira ke restoran itu. Byou juga tahu menu yng dipesan Jin adalah salah satu favoritnya.

"Aku sedang diet." kata Jin asal. Dia membayar billing yang disodorkan oleh pelayan dan bergegas mendahului Byou menuju mobil mewahnya di tempat parkir.

Byou tersenyum kecil.

"Kalau kau sakit, sepertinya itu akan menjadi salahku..." gumam Byou. Jin tidak mendengarnya.

----------

Mudah bagi seorang Jin mencari tahu dimana alamat host baru seperyi Ruki. Karena semua orang tahu, Jin adalah orang kepercayaan konglomerat Byou Kojima dan karena Jin bisa dibilang selalu bekerja dengan sempurna.

Host seharusnya dirahasiakan identitasnya. Bahkan pelanggan sekelas pejabat ternama tidak akan mampu mendapatkan identitas asli seorang host di host club kelas satu semacam Bion ini. Tapi pihak management Bion dengan mudahnya memberikan alamat Ruki pada Jin. Mereka tak ingin kehilangan pelanggan seperti Byou Kojima dan mereka tidak ingin mendapatkan masalah dengan orang seperti Byou.

Secarik kertas bertuliskan alamat pemuda bernama asli Matsumoto Taanori sudah berada ditangannya. Dihadapan pintu kayu mewah ruangan Byou, ia menatap berkali2 alamat itu.

Ia memasukan kedalam sakunya kertas berwarna biru itu. Kemudian dia membetulkan dasinya dan mengetuk pintu kayu itu.

"Masuk saja, Jin-chan..."

Jin mengerutkan dahinya. Bosnya itu santai sekali, mamanggilnya dengan tidak formal di kantor. Bagaimana bila pegawai lain yang mendengar?. ah tapi Byou sengaja membuat ruangannya jauh dari ruangan lain lantai paling tinggi gedung itu.

"Byou-sama." Jin masuk dan menghampiri Byou yang terlihat sedang asyik menandatangani dokumen yang sejam yang lalj diserahkan pada Byou.

"Kau sudah mendapatkannya?" tanya Byou langsung.

"Tidak."

Byou melepaskan kacamatanya dan menatap Jin yang berdiri dihadapan mejanya.

"Tidak? Mereka menolak memberi?" tanya Byou.

Jin hanya menganggukan kepalanya.

Byou mendengus tak sabar. Setengah marah dan tidak terima.

Jin menyodorkan kertas biru kepada Byou dan menatapnya tanpa expresi.

"Oh! kau mendapatkannya!" Byou terlihat lega.

"Pada siapa kau meminta." Jin mengerling jengkel. "tentu saja mereka akan memberi."

"Aku tahu. Kau adalah Jin-Chanku yang paling bisa kuandalkan!" kata Byou senang.

"Katakan padaku, kapan kau akan mengunjunginya?" tanya Jin.

"hmm... sore ini juga. Ini nama asli anak itu? Matsumoto Takanori.. namanya sedikit norak..." kata Byou, sedikit tersenyum.

"Namamu juga..." Jin mengerlingkan matanya.

"Menurutmu aku harus membawakan oleh2 apa?" tanya Byou, tidak memperdulikan crmoohan Jin.

"Karena dia sedang sakit, bagaimana jika kau membawakannya kotak obat? Oh, mungkin sekalian dengan dokter terbaik sejepang."

"Nada bicaramu tidak enak, Jin-chan..." cengir Byou.

"Masa?" Jin menaikan halis matanya. "Aku tidak peduli. Nah kalau sudah selesai, aku ingin sekali kembali ke meja-ku."

"Sebaiknya siapkan mobil. Kau kan harus mengantarkanku kan." Byou masih tersenyum padanya. Jin yang sudah akan keluar dari ruangan itu membalikan badannya.

"Kau tidak punya supir lain, yah..." jelas sekali Jin bertambah kesal.

"Aku memang tidak punya supir sejak kau menjadi sekretarisku."

"Sebaiknya kau mulai mencari satu." kata Jin lagi.

"Aku hanya cocok denganmu."

"Aku tidak hanya mengurusimu saja. Pekerjaanku banyak." gerutu Jin.

"Panaskan saja mobilnya, Jinchan..." Byou tersenyum lagi padanya. Jin hanya menghela nafas dan keluar dari ruangan itu dengan jengkel.

-----------

"kelihatannya moodmu sedang buruk..." kata Kai saat Reita menegak birnya.

"Sepertinya sih begitu..."Kata Reita pelan.

"ada apa? Ruki lagi?" tanya si drumer itu. Entah bagaimana ia merasa naik turunnya mood sahabatnya itu selalu berhubungan erat dengan sobat mungilnya yg sudah tidak pernah terlihat lagi sejak beberapa bulanlalu. padahal dulu mereka tidak terpisahkan.

"Kenapa sih kau selalu menghubungkan aku dengan dia?" kata Reita, kali ini dengan nada lebih jengkel.

"Lho, kalian memang berhubungan kan?" kata Kai, tersenyum hingga matanya menyipit sedemkian rupa.

Reita tidak langsung menjawab. Dia malah menerawang ke langit2 dan berpikir beberapa hal. Rasanya tadi dia begitu emosi hingga tak puas memukuli anak mungil itu.

Keadaan Ruki lah yang begitu menyulut emosinya. Datang dengan keadaan penuh luka dengan cara berjalan yang begitu aneh, Reita bukan anak kecil lagi, sehingga dia sudah tahu dan sudah tidak lagi akan hal2 semacam itu. Ruki tidak oulang. Mungkin bersama tanunya, siapa lagi, dan melakukan hal yang menjijikan hingga terjadi penuh luka..
Reita tidak tega. Dia tidak ingin kekasihnya terluka seperti itu. Pucat, kuyu dan terlihat lelah. Tapi entah kenapa Reita malah semakin membuatnya terluka. Tatapan mata Ruki ketika Reita memukulinya begitu ketakutan tetapi penuh pengertian. Sebuah tatapan yang sangat aneh. Reita tidak menemukan setitik pun kebencian. yang ada hanya perasaan bersalah dan penuh penyeselan dari orang yang sangat ia sayangi itu.

Ruki anak yang sangat kuat. Lebih kuat dari pada Reita sendiri. Anak itu mampu bertahan dari buruknya nasib dan tetap tersenyum tulus. Reita ingat, disisinya Ruki tidak pernah tidak tersenyum.

"Reitaーkun adalah sumber kebahagiaanku, apapun yang membuatmu bahagia akan menjadi bahagiaku pula." Ruki tersenyum dan memeluknya hangat.

"Benarkah? baiklah, aku akan selalu menjadi sumber kebahagiaan untukmu...."

"Uhn... Reita akan selalu menjadi sumbeer kebahagiaanku... selamanyaaaaaaaaaaaa"


"Cih..." Reita mendengus dan mematikan rokoknya. memikirkan Ruki membuatnya semakin muak.
Namun Reita tidak bisa memungkiri, dia mungkin merasa bersalah dengan apa yang dilakukannya.pada anak itu.

--------------------

"ah, disini ya..." Byou menatap pintu kayu sederhana yang ada dihadapannya. Gedung ini secara keseluruhan sangat sederhana, dengan salah satu flat disana mungkin ditinggali oleh orang yang sore itu dicarinya. Sebuket bunga mawar mahal dengan ucapan semoga lekas sembuh yang dibelinya disebuah toko bungga saat menuju kemari tak lupa dibawanya. Byou merapikan sedikit pakaiannya. Mantel leopard itu kesayangannya, hingga mungkin ia akan selalu memakainya meski di musim panas sekalipun.

Ping Pong...

Byou menekan bel yang ada di dekat pintu itu. Heran, flat sekecil itu mengapa masih disediakan bel disetiap unitnya.

tak ada tanda seorangpun menjawab panggilannya.

Ping Pong...

Byou menekan sekali lagi.

Masih tidak ada jawaban.

Tuan besar itu mengerutkan dahinya. Bukannya berbalik pulang, ia malah memutar knop pintu dan melenggang masuk begitu saja kedalam flat tanpa peduli apakah flat ini benar tempat tinggal seseorang yang ia cari atau bukan. Toh kalau salah ia tinggal minta maaf saja dan selesai.

Flat ini sama sederhananya dengan tampak luarnya. Terdiri dari dua buah kamar yang sangat kecil, dapur yang sempit serta sebuah ruangan perpaduan antara ruang tamu dan ruang keluarga. Ruangan di flat ini terkesan rapi dan bersih meskipun ditinggali oleh dua orang pemuda miskin tapi Byou suka dengan pengaturan letak barang dan perabot yang ada disana.

Byou berhenti mengagumi segala sesuatu yang terlihat murah dan benda2 yang tak pernah ia lihat sebelumnya saat ia mendengar sesuatu bergerak di dalam salah satu kamar ditempat itu.

"Kojima-sama!" seru Ruki terperanjat saat menyadari Byou sudah masuk kedalam kamarnya, berlutut disamping futonnya dan menyentuh dahinya dengan telapak tangannha yang besar. "Ba-bagimana..."

"Oh, aku meminta alamatmu kepada manager dan mencarimu keseluruh Jepang." Byou nyengir. Ruki masih menatapnya tidak percaya saat  tuan besar yang tampak janggal mengenakan pakaian mewah di flat miskin ini ada dihadapannya.

"A-aku akan mengambilkanmu minuman..." Ruki hendak bangkit namun ditahan oleh Byou.

"Sudahlah... Aku tidak haus..." Byou tersenyum.

"Aaa... tapi..."

"Sudahlah...." Byou menegaskan dan menyuruhnya berbaring lagi. "Ini untukmu."

Ruki tercengang menerima buket mawar merah besar dan terlihat mahal itu. Tapi ia tersenyum senang. Sudah lama sekali sejak Reita memberinya setangkai bunga, bukan mawar tapi lily of the valley berwarna putih. Kata Reita, setiap bunga menggambarkan seseorang. Lily of the valley itu sangat Ruki. Tapi Byou mungkin tidak mengerti, dia hanya memberikan apa yang dia suka dan menurutnya bagus.

"Arigatou..." bisik Ruki lirih.

"Kemana orang yang tinggal bersamamu?" tanya Byou, memutuskan untuk duduk disamping Ruki.

"Ah itu...Reita sedang bekerja."

"Namanya Reita? Kareshi?" Byou terkekeh saat Ruki merona merah. "Ngomong2, apa kau sudah pergi ke dokter? kau kelihatan gawat..."

"I-itu tidak perlu... aku baik2 saja, butuh sedikit tidur dan besok aku sudah siap bekerja kembali."

"Kau terlihat seperti orang yang akan mati besok bagiku.. " Byou mengerutkan dahinya kembali.

"Benarkah?Haha..." Ruki tertawa lemah. Ia memang sudah tidak memiliki tenaga lagi. Reita membuatnya hampir mati tadi.

"Kau beristirahatlah, aku akan menungguimu sebentar lagi kemudian pulang." Byou mengusap kepala Ruki penuh sayang. Ruki memejamkan matanya.

Byou memperlakukannya seperti manusia disaat Reita menganggapnya tak berbeda dengan binatang. Ia rindu sentuhan penuh kelembutan seperti ini.

Byou mungkin memiliki orientasi sexual yang abnormal, tapi dia baik. Itulah yang Ruki rasakan. Ia begitu terlena dengan usapan Byou dikepalanya hingga ia jatuh tertidur. Tanpa sadar salah satu lengannya menggenggan tangan kiri Byou.

Byou tersenyum saat menyadari salah satu tsngannya digenggam erat oleh anak itu. Ia kemudian mengeluarkan ponselnya dan menghubungi nomor seseorang.

"Jin-chan, naiklah..."

--------

"Rei, aku duluan..."

"Yo..." Reita melambaikan tangannya. Ia masih ingin bermain bassnya mungkin untuk satu atau dua kali lagi.

Taman itu masih lumayan ramai. Banyak pasangan kekasih bermesraan disana. Reita juga belum ingin pulang. Mungkin Ia bisa mengumpulkan beberapa ratus yen lagi disana. Ia entah kenapa ingin membelikan Ruki okonomiyaki yang enak dan meminta Ruki berhenti dari pekerjaannta dan mereka bisa mulai lagi dari nol.

mungkin.

-------------

Jin melepaskan pakaian yang dipakai oleh Ruki saat bocah itu masih lelap tertidur dengan nafas yang berat. Ia berusaha agar Ruki tidak terbangun, sepertinya Ruki memang tipe yang tidak mudah terbangun tidak sepertinya yang mendengar gerakan sedikit saja membuatnya waspada dan terbangun.

Alis Jin berkerut.

"Ngapain kau masih disitu, Hentai Ouyaji!" Jin menegur Byou yang asik memperhatikan mereka sambil minum cola.

"Menonton..." Kata Byou polos.

Urat di dahi Jin mulai bertonjolan kembali.

"KELUAR!" Jin menendangnya.

"Itte! Jinchaaaaaan~ aku mau lihaaat~"

BRAKH!

Jin menutup pintu kamar Ruki dengan sekali sentakan. Mengerut dahinya pelan, stres dengan kelakuan boss besarnys tersebut.

"Anoo..."

Jin mendongkak menyadari Ruki terbangun kaget dengan aksi banting pintunya tadi.

"Maafkan saya sudah membuat anda terbangun, Tuan..." Jin membungkukan badannya dan kembali menghampiri Ruki.

"Ti-tidak apa-apa... Uuum... apa yang Jin-san lakukan dikamarku? kemana Kojima-sama?"

"Saya diperintahkan oleh Byou-sama untuk mengobati luka anda, Tuan..." Jin mulai kembali membersihkan semua luka yang terlihat olehnya dengan antiseptik yang dibawanya. Dahinya berkerut saat luka-luka itu terlihat janggal. Dia kenal bossnya. Byou tidak pernah melukai wajah orang lain.

Byou adalah seorang pengagum keindahan dan seni sejati. Dia mungkin terlihat norak dan berlebihan, tapi dia tetap seorang aristokrat seutuhnya. Dia memuja siapapun ysng cantik dan tidak akan pernah tega melukainya.

Tapi, wajah Ruki penuh lebam dan lecet, menodai kecantikannya. Hal yang tidak akan pernah dilakukan oleh seorang Byou.

"Ini... bukan perbuatan Byou-sama kan?" kata Jin serya mengoleskan sntiseptiknya. Ruki menggeleng dan menundukan kepalanya. Jin memghela nafas.

"Maaf aku jadi merepotkan semua orang..." kata Ruki lirih.

"Kalau begitu, kenapa tidak segera pergi ke klinik?"

"Hmm... aku ketiduran..." Ruki mencoba tersenyum. Jin meraih telapak tangan Ruki dan mulai mencoba membersihkannya dari pecahan gelas kecil yang tersangkut didalam kulitnya. Jin mengabaikan ekspresi kesakitan Ruki atau ringisan yang lolos dari mulutnya. Jin tetap memasang wajah tenang bahkan nyaris dingin.

"Kalau tidak mengetahui tehniknya, anda bisa mati kapan saja." kata Jin setelah merekatkan perban steril dikedua telapak tangan Ruki. "Byou-sama mungkin tipe S, tapi beliau tipe S yang mempelajari tehniknya jadi pasangan sexualnya tidak akan mati. Byou-sama akan berhenti sebelum pasangannya terluka terlalu parah."

Ruki menatap Jin yang sibuk membereskan peralatan pertolongan pertamanya.

"Ini... memang bukan karena Kojima-Sama..." Kata Ruki lirih. Jin membantu Ruki untuk berbaring di futonnya. "Terima kasih... Jin-san sepertinya terampil mengobati luka seperti ini."

"Karena saya sering mengalaminya..." kata Jin pelan.

"Eh?!"

"Sudah selesai, saya akan membuatkan anda makan siang. Sekarang silahkan anda beristirahat dulu. Saya sudah menyuntikan antibiotik dan obat tidur, mungkin anda akan segera mengantuk dan tertidur..."

"Arigatou... Jin-san..."

Jin tidak tersenyum atau menandakan kalau dia mendengar ucapsn teima kasih Ruki, alih2 menjawab, ia segera keluar dan menutup pintu kamar Ruki.

"Bagaimana?" tanya Byou saat Jin berbalik.

"Dia akan tidur." jawab Jin.

"Apa kita tidak perlu membawanya kerumah sakit?"

"Kalau begitu kenapa kau menyuruhku mengobatinya? Kau tidak percaya padaku? apa kau berpikir aku mungkin akan membunuhnya alih2 mengobatinya?"

Byou berkedip heran.

"Jin-chan... kau kenapa marah2 begitu? hari ini kau terlihat penuh emosi sekali..."

Jin terkesiap.

"A-aku.. Maafkan aku..."

Byou masih menatapnya heran.

"Aku mau melihat keadaannya dulu." Kata Byou kemudian ia melangkah masuk kembali kedalam kamar Ruki diiringi bungkukan badan Jin.

Jin terdiam dan menghela nafas.
Ia menatap pintu kamar Ruki dan memutuskan untuk merapikan peralatannya dan menunggu diluar flat kecil itu.
-------

Reita memakai jaket kulitnya dan menenteng bassnya dipunggungnya sementara sebelah tangannya membawa plastik berisi kotak okonomiyaki panas yang baru saja dibelinya di sebelah studio tempatnya berlatih malam itu.

Dilengan kirinya jam menunjukan pukul 10 malam. Entah Ruki masih berada di Flatnya atau sudah pergi. Tapi mengingat Ruki sepertinya tidak mampu bahkan untuk bangun saja, sepertinya Ruki masih berada di flatnya.

Reita berjalan sedikit tergesa menuju flatnya, menaiki tangga dan mencapai lantai flatnya.

Tapi ada seseorang berpakaian aneh yang berdiri bersandae di dinding disebelah pintunya. Pria itu memakai berambut kecoklatan dengan panjang sebahu dan bergelombang. Di dagunya ada sebuah bola perak kecil, sebuah pierching.

Reita menatap heran pria yang balas menatapnya tanpa mengucapkan sepatah katapun. Pria itu membungkukak sedikit badannya saat Reita meraih knop pintunya. Mengabaikannya, Reita masuk kedalam flatnya yang sempit.

Sepasang sepatu kulit mahal menyambutnya. Reita mengerutkan dahinya.

Sepertinya tamu. Reita tidak ingat memiliki teman yang mampu membeli sepatu semahal itu. Mereka memang bukan dari kalangan berada. Reita tidak memanggil Ruki, sebaliknya dia tetap diam dan masuk kedalam flatnya yang sunyi. Pria berpakaian aneh di depan pintu dan sepatu mahal itu mengganggunya.

"Siapa kau?" Reita spontan nenyerukan pertanyaan yang semakin mengjanggal ketika ia melihat pria lain yang sama tingginya dengannya, memakai mantel dengan corak leopard tengah duduk ditengah ruangan di flatnya dengan tangan memegang segelas minuman berwarna kemerahan.

Pria itu tersenyum kecil.

"Namaku Kojima Byou..."

Reita mengerutkan dahinya kembali. Ia merasa jawaban sang orang asing sama sekali tidak membuat pertanyaannya terjawab.

"Rei... Reiiii...hhh" Sosok lain berwajah pucat dan bertubuh pendek keluar dari salah satu kamarnya, tertatih2 dan sedikit menyeret tubuhnya tapi Ia tetap mencoba tersenyum saat Reita mengalihkan pandangannya. "Okaeri... a-aku... I-Ini temanku... Ko-Ji-ma... Samaa..."

"Ruki, sebaiknya kau tetap di tempat tidurmu, kau masih demam..." Byou hendak menghampirinya namun Ruki malah menatap pria bernoseband yang melemparkan pandangan dingin pada keduanya.

"Aku tidak peduli." Reita masuk kedalam kamarnya dan menbanting pintu dengan keras.

Ruki meringis sementara Byou masih menatap pintu kamar Reita, tersenyum kecil.

"Ma-maafkan aku Kojima-sama... dia tidak bermaksud bersikap tidak-"

"Jangan kau pikirkan, Ruki-chan. Ayo, kembali ke tempat tidurmu."

"Uhm..."

"Aku harus pergi sekarang." kata Byou serya memapah Ruki menuju futonnya yang hangat, menyelimutinya dan mengusap dahi Ruki pelan. Tangan kirinya meraih ponsel Ruki, menekan beberapa tombol dan meletakannya ditelinganya hingga ponselnya sendiri yang berada di saku celananya bergetar. "Aku sudah menyimpan nomor ponselku di kontak ponselmu. Kalau kau butuh sesuatu, kau harus meneleponku. Mengerti?"

"Ha-hai..."

"Dan jangan kembali ke Shinjuku-Cho apalagi masuk Bion sampai kau benar2 sembuh..."

"Kenapa... Kojima-sama sangat baik padaku?" tanya Ruki lemah, merasa dirinya semakin mengantuk.

"Kau... mengingatkanku akan seseorang dimasa lalu..." Byou berbisik.

"Apakah Jin-san?" Ruki mulai menutup matanya, diliatnya terakhir kali adalah senyum seorang Byou yang berbeda dari biasanya.

"Tidurlah..."

----------

"Sepertinya pemuda dengan noseband itu adalah pacarnya." gumam Byou saat Jin menyetir mobilnya menuju condominiumnya yang mewah. Jin tidak menanggapinya. Matanya fokus ke jalanan dan tangannya masih asyik mengendalikan mobil mewah dengan interior serba leopard itu. Bibirnya sesekali mengerucut, tampak sekali ia sedang memikirkan sesuatu.

"Pemuda itu aneh sekali, maksudku, kenapa dia pakai noseband? apa hidungnya terluka atau sesuatu?" Byou juga tampaknya tidak menyadari kalau sekretaris pribadinya itu tidak peduli akan gumamannya.

"Dan lagi pula, kenapa dia menatap Ruki dengan dingin seperti itu? seperti Ruki melakukan kesalahan sangat besar." Byou masih menggumam hingga menyadari bawahannya yang paling setia itu tidak tertarik dengan semua gumaman2nya, bisa dibilang mengabaikannya. "Jinchan, aku bicara padamu."

"Aku mendengarkan." kata Jin pendek.

"Lalu kenapa kau tidak menjawab?"

"Kau tidak butuh jawaban kan." Jin mendengus pelan.

"Tapi kan..." Byou masih bersungut2 tidak terima. Tapi Jin diam saja.

"Sudah sampai." Kata Jin. Ia membuka seatbeltnya dan turun keluar mobil, membukakan pintu untuk atasannya yang nyentrik. "Selamat malam Byou-sama, selamat beristirahat."

"Lho, kau tidak masuk?" tanya Byou heran.

Jin menggeleng.

"Aku akan menjemputmu besok pagi untuk pergi ke proyek H di blok X. Selamat malam, permisi." Jin hendak masuk kedalam mobilnya tapi tangannya ditahan Byou. "Apa lagi?"

"Kalau kau merajuk begitu, manis deh..." Byou menyerengai. Jin melepaskan tangannya.

"Siapa yang merajuk?!" bantah Jin, tapi dia menghindari tatapan Byou.

"Ah ya, sangat khas Jin. Tidak mau mengaku. Nah, tidak apa2, sekarang mungkin aku ada Ruki yang bisa bermanja2 padaku karena sekretarisku yang paling jenius ini tidak suka bermanja2 padaku..."

Jin menoleh padanya.

"Hentai Ouji-san..." gumamnya serya membuka pintu mobil.

"Ii nee, Jinchan? anak itu sangat menarik... dengan segala masalah yang dimilikinya mungkin aku bisa menjadi pahlawan baginya dan dia akan tergila2 padaku...sepertimu." Byou menekankan kalimat terakhirnya. Jin menaikan sebelah alisnya dan tersenyum kecil.

"Lakukan sesukamu, Byou-sama..."

Byou hanya tersenyum melihat tingkah sekretaris pribadinya yang langsung banting stir, menghilang dari hadapannya.

--------

"Ma-maafkan aku, Rei...." Ruki memegangi pipinya yang terasa panas akibat beberapa detik sebelumnya sebuah tangan yang lebar dan besar melayang tepat disana, menyebabkan bagian itu memerah dan membekas. Ruki menatap Reita takut2.

Ia tidak menyangka, dan tidak berani menyangka, kalau Byou akan datang ke flatnya yang kecil bersamaan dengan Reita yang baru pulang. Reita tidak mau mendengar alasannya. Dia bukan lagi Reita yang pengertian yang dulu selalu menyediakan waktu untuk Ruki bicara. Reita yg sekarang tidak lebih dari tukang marah yang tidak sabar.

"Ini masih Flatku! kalau kau berencana membawa pelangganmu untuk kau layani diFlatku, kau akan merasakan akibatnya!"

"Rei... Kojima-sama hanya datang untuk menjenguku.." Ruki berkata lirih.

"Oh! Sekarang kau sudah pandai beralibi..."

"Rei..."

Reita tidak mau mendengar lagi apa yang dikatakan oleh Ruki. Ia melangkah masuk kedalam kamarnya dan membanting pintu membuat Ruki terlonjak kaget.

------------

Jin melempar kunci mobilnya keatas desk dan melepas dasinya. Apartemennya selalu sunyi. Bahkan akhir2 ini ia jarang pulang kesana. Byou selalu melarangnya pulang karena tahu, ia tidak suka sendirian.

Jin beralih mengambil segelas air putih hangat dari dispensernya dan meneguknya pelan2. Entah kenapa hatinya terasa sangat kacau. Ia tidak mengerti.

Byou memang sering sekali membawa perempuan atau laki2 untuk bermain bersamanya. Tapi itu hanya satu malam. setelah pagi menjelang, Byou akan melupakannya, dan tidak pernah menyinggungnya di hadapannya sama sekali.

Jin memang tidak berhak cemburu. Ia hanya sekretaris pribadi orang nyentrik itu, tidak lebih. Bahkan perasaan sentimen seperti itu tidak boleh dimilikimya. Tapi melihat Byou dan host baru itu rasanya....

Jin mendesah lelah. Ia bangun dari duduknya dan mengambil pakaian tidurnya.

Sejak dulu ia selalu mengalah pada Byou dan mementingkan keinginan Byou seorang. Ia memang tidak pernah egois. Sepertinya kali ini pun ia harus menjadi sekretaris pribadi yang sempurna, yang mengerjakn seluruh perintah atasannya tanpa protes atau memikirkan perasaannya sendiri.

Tiba2 perutnya terasa perih.

Jin meringkukan tubuhnya diatas kasurnya yang empuk.

Entah kenapa hari ini ia merasa sangat sedih.

--------------

"Ini laporannya." Jin menyodorkan map file berwarna kuning untuk Byou periksa.

"Ya ya ya... keuntungan bulan ini terus meningkat.. Baguslah." Byou tersenyum senang serya membuka2 file tersebut.

"Besok sore, komisaris perusahaan XX ingin mengadakan rapat terbuka denganmu. Tempatnya di Internal Palace. Aku sudah mereservasi tempat."

"Ya, tidak masalah."

"Kalau begitu, aku kembali ke mejaku." Jin membungkukan badannya dan meninggalkan ruangan Byou.

"Hmm nah... bagaimana keadaan si mungil itu yah.." Byou mengetuk2an pena ditangannya dan tersenyum iseng. "Aku akan mengunjunginya lagi, nanti malam."

--------

Sementara itu diflat kecil milik Reita..

Ruki memakai sweeter hangtnya dan topi rajutan berwarna creamnya. Ia jadi terlihat sangat imut seperti anak2. Hari ini, ia akan pergi ke dokter. Dia memang sudah menjadwalkan diri untuk pergi mengikuti pemeriksaan rutin tapi baru bisa terlaksana sekarang karena akhirnya ia bisa memiliki uang yang cukup untuk membayar biaya perawatan di dokter spesialis.

"Rei... aku mau pergi dulu." Ruki tersenyum pada Reita yang tidak mempedulikannya. "Aku sudah membuatkan makanan kesukaanmu untuk makan siang nanti. Jangan lupa dimakan."

Reita masih tidak menanggapinya. Ruki meremat jemarinya.

"Ittekimasu .." kata Ruki, membuka pintunya pelan dan menutupnya.

Udara hari itu cukup dingin untuk seorang Ruki. Ia mengeratkan giginya menaan dingin dan berjalan menuju rumah sakit terdekat dari tempatnya.

"Kyaaah... anginnya besar sekali, dingin..." seorang gadis menjerit manja saat angin yang kencang berhembus kearahnya.

"Iya, sangat dingin. Ah kemari, aku akan memelukmu supaya kau tidak kedinginan lagi..." pemuda yang disebelahnya merangkulnya dengan mesra.

Ruki menghela nafas dan menggelengkan kepalanya. Sebuah memori indah melintas begitu saja tanpa izin dikepalanya.


"Reita... lama sekali. Kemana dia?" Ruki berkali2 melihat jam tangannya. Reita sebenarnya belum terlambat, Ruki memang sengaja datang lebih awal, tapi udara hari itu sangat dingin. Bisa2 Ruki terkena hypotermia jika ia terus2an diam diluar seperti ini.

Tiba2, sesosok hangat memeluknya dari belakang.

"Aku tahu, kau pasti datang lebih awal seperti biasa..."

"Oh, Rei!"

"Lihat, jemarimu sudah mendingin..." Reita meremas lembut jari2nya dan meniup2nya agar terasa hangat. Ruki merona merah. "Ayo, aku akan membuatmu merasa hangat..." Dengan serta merta Reita merengkuhnya dan memberikan kehangatan yang nyata pada bahu dan lehernya.

Reita memang yang paling hangat...

Ruki menatap langit biru pucat yang ada dihadapannya. Air matanya lagi2 menetes.

Aku merindukan Reita...

----------------

"Otsukare..." Byou mendesah lega setelah seluruh dokumennya berhasil ia kerjakan.

"Byou-sama, aku duluan." Jin berkata serya menumpuk dokumennya jadi satu dan menyimpsnnya di lemari penyimpanan ordner diruangan Byou.

"Aku baru mau mengajakmu makan malam bersama."

Jin mengerucutkan bibirnya.

"Kenapa kau tidak mengajak anak itu?"

"Ah dia... aku memang berencana mengunjunginya setelah kita makan malam bersama. Aku sudah pesan tempat di restoran sushi sekitaran roppongi."

"Aku mau bertemu Manabu." kata Jin. "Tidak bisa."

"Ide bagus, ajak Manabu juga. Makan malam bersama orang cantik pasti akan sangat menyenangkan." kata Byou, segera menarik mantelnya dan memakainya.

"Kau selalu saja seenaknya..." gumam Jin.

"Manabu-chan, moshi2..."

Jin menoleh cepat pada Byou yang ternyata sudah menelepon Manabu, salah satu sahabatnya.

"Bagaimana kabarmu? Senang sekali. Apa malam ini kau sedang kosong? Ah, iya, Jin baru saja memberitahukanku, bagaimana kalau kita makan malam bersama? Restoran sushi di sudut Roppongi kudengar disana ada menu khusus. Aku yang traktir. Oke? Baiklah, aku akan segera meluncur kesana..." Byou memasukan ponselnya kedalam saku celananya dan segera tersenyum pada Jin yang menatapnya datar. "Manabu-chan bilang oke, tuh." cengirnya.

"Yakinlah, kalau kau bukan atasanku, kau sudah bersemayam di liang lahat." gerutu Jin.

"Kalau aku bukan atasanmu atau kalau aku bukan Byou Kojima yang nenawan?"

Jin melempar salah satu ordenernya dengan senang hati dan mengacungkan jari tengahnya.

-------------

"Lho, Rukichan, kenapa wajahmu?" seorang berambut panjang kecoklatan memakai jubah dokter berwarna putih polos tercengang saat Ruki duduk dihadapannya mencoba tersenyum meskipun malah terlihat semakin mengenaskan. Dia adalah Kiyoharu. Dokter dirumah sakit itu yang entah sejak kapan menjadi teman Ruki.

"Ah ini... sedikit kecelakaan."

"Sedikit? terlihat banyak untukku." Kiyoharu menyentuh sebuah memar didahinya yang putih. Ruki hanya meringis. "Saa, ayo kita mulai pemeriksaannya. Kelihatannya kau tidak cukup sehat hari ini."

"Aku demam semalam. tapi sudah tidak apa." Ruki membuka kemejanya dab berbaring diatas ranjang.

"Benarkah?" Kiyoharu tidak melanjutkan pertanyaannya, dia sibuk memeriksa Ruki dengan seksama dan mengerutkan dahi saat melihat banyak luka tersebar di tubuh putih mulusnya. Lalu kemudian ia meminta Ruki mengikuti prosedur pemeriksaan hingga tuntas.

"Aku sudah mengatakannya padamu kan? Jantungmu sangat lemah. Kau tidak boleh terlalu lelah. Kurangi pekerjaan dan kegiatanmu, ambil lebih banyak waktu dan tidur lebih lama." kata Kiyoharu. "Kau mau hidup lebih lama kan?"

"Yang kulakukan memang tak lebih hanya mengulur waktu... kalau saja aku tak punya Reita, pasti..." Ruki menundukan kepalanya sedih. Kiyoharu menatapnya prihatin.

Pasien kecilnya yang satu ini memang terlihat sekali sangat tertekan dengan kehidupannya. Bagaimana tidak, dia bukan orang kaya, malah hanya bertahan hidup dengan kerja part time dibanyak tempat, memiliki seorang pacar yang sejenis yang juga tidak jelas pekerjaannya, sementara dia sendiri didiagnosa menderita kelainan jantung yang terdeteksi sangat lambat. Entah bagaimana anak itu harus membayar biaya operasinya nanti.

"Aku harus menjadwalkan operasi besar untukmu. Apa kau sudah siap?"tanya Kiyoharu. Ruki menggeleng.

"Aku belum memiliki uang yang cukup. Tapi... tapi segera setelah aku memilikinya, aku akan menghubungimu untuk menjadwalkan operasu itu... kurasa saat itu belum terlambat, kan?"

Dokter itu menghela nafas dan melepas kacamatanya, mengamati anak lugu dihadapannya. Tersenyum, ia menepuk kepala Ruki seperti seorang ayah pada anaknya.

"Tentu saja, tidak ada kata terlambat. Asal kau berjanji mau menjaga kesehatanmu. Ini resepmu, jangan lupa, yang ini tidak boleh sampai kau tidak meminumnya."

"Uhn... arigatou, Sensei..."

-------------

"Manabu-chan... ohisashiburi~" Byou merentangkan tangannya dan memeluk pria yang tidak lebih tinggi darinya, yang terlihat sangat amat cantik dengan rambut keabuan dan bola mata kebiruan lengkap dengan bibir yang dipulas merah rouge.

"Byou-sama..." Manabu tersenyum. Salah satu yang paling Byou suka dari Manabu adalah senyumnya, senyum itu terlihat sangat polos, membuatnya gemas. "Jin-chan!" Manabu terlihat lebih riang saat menemukan teman lamanya dibelakang Byou dengan ekspresi malas.

"Mana..." Jin memeluk bahunya sepintas dan tersenyum lebih ikhlas.

"Maaf menunggu lama." kata pria cantik itu.

"Tidak, kami juga baru datang." kata Jin.

Manabu duduk ditengah, diantara Byou dan Jin sementara seorang pelayan mulai mengedarkan buku menunya serta bersiap mencatat pesanan mereka. Byou hanya mengatakan "Keluarkan semua yang terbaik, masing2 untuk tiga orang, dan sake." dan pelayan itu mohon pamit untuk membuatkan pesanan mereka.

"Tumben sekali, kau mengajakku makan diluar..." Manabu membuka pembicaraan.

"Ya, aku ingin hang out berdua saja denganmu, tapi orang ini..." Jin terus cemberut menandakan ia merasa terganggu dengan kehadiran Byou, sementara yang dimaksud malah tidak merasa tersindir sama sekali. Manabu mengerutkan dahinya.

"Bagaimana kabar Kazu-chan?" tanya Byou saat Manabu menoleh kepadanya.

"Ah, baik. Dia titip salam untuk kalian berdua. Sayang sekali dia tidak bisa ikut. Dia sedang di Ibaraki sekarang, menyusun project bisnis dua arah dengan ayahnya." kata Manabu, sumringah saat Byou bertanya perihal orang yang dipanggil Kazu-chan itu.

"Kalau begitu, kau kesepian malam ini, Manachan?" tanya Byou lembut. Tangannya merayap begitu cepat hingga menggenggam tangan Manabu.

"Eeeh .." Manabu terlihat bingung.

"Kalau kau kesepian, kapanpun aku bersedia untuk---- ITTA!" Byou tersentak meringis kesakitan saat Jin serta merta melempar sumpit dihadapannya ke dahi Byou bagai seorang ninja.

"Berhenti menggoda temanku, kau hentai Oujisan..." kata Jin datar. Byou memegangi dahinya yang memerah serya menatap Jin tajam.

"Kau kan tidak perlu melemparku dengan sumpit! Kalau kepalaku bocor, bagaimana?"

"Masih untung bukan meja yang kulempar ke dahimu! kau terdengar nenjijikan! kau kan CEO Duality, masa tingkahmua tidak lebih baik dari om om senang yang menggoda gadis sma!"

"Habis mau bagaimana lagi, Manabu memang cantik kok, siapa pun tidak tahan untuk tidak menggodanya!"

"Tapi seharusnya kau bisa lebih menjaga sikapmu, kau kan----"

"Aku CEO Duality, terus kenapa?"

"Grrrrttt .. kau...."

"A-anoo... bagaimana kalau kita makan dulu?" kata Manabu menengahi. Sebenarnya sedari tadi ia tidak tahan ingin tertawa dengan tingkah laku dua orang pria dewasa dihadapannya.

"Ah, Manachan benar... ayo kita makan dulu..." kata Byou saat menyadari makanan sudah terhidang dihadapan mereka.

"Dan bagaimana kabar dengan bisnismu sendiri, Byou-sama?” Tanya Manabu serya mencomot salah satu lauk mahal yang terhidang dihadapannya. Sebenarnya ini terlalu berlebihan baginya, tadi Jin meneleponnya untuk mengajaknya makan ramen disalah satu kedai ramen favorit mereka, lalu kemudian tiba-tiba Tuan Besar nyentrik dihadapannya menelepon kalau akan bergabung dan menraktirnya di restoran mahal seperti ini. Manabu ingin makan Ramen Kitsune yang rasanya lebih ringan, bukan makan makanan berat seperti ini. Lagi pula, ini sake paling mahal bisa melukai lambungnya jika dia terlalu banyak meminumnya. Tapi ia tidak mengatakan apapun juga, apalagi melihat wajah Jin yang terlihat sangat terganggu dengan bergabungnya Bos besar nyentrik itu.

Manabu sudah berteman sangat lama dengan Jin, sudah banyak mengalami berbagai macam hal bersama, dan cukup mengerti kalau pemuda itu sekarang butuh teman bicara, dan sejak dulu, teman bicaranya selalu saja Manabu, tidak ada yang lebih memahaminya selain Manabu yang cantik. Sayangnya, Byou tidak mengerti itu, tidak mengerti kalau Jin saat ini tidak ingin bersama dengannya.

Manabu mengerutkan dahinya.

Sepertinya Tuan Besar itu sangat tahu. Jadi ini sengaja?. Manabu menahan kikikanya.

Setelah sekian tahun berlalu, tidak ada yang berubah dari mereka berdua. Byou sangat suka menggoda dan membuat marah sekretarisnya itu.

“Hmm… yah,begitulah.” Jawaban yang sangat Byou.

“Begitu ya…” sahut Manabu lagi, kali ini menuangkan soyu di piring kecilnya untuk membumbui beberapa daging yang menggoda perhatiannya.

“Ya, Begitulah…”

“Apa-apaan kalian ini? Dan kau, Manabu, jangan terbawa oleh arus pembicaraannya yang tidak menyenangkan, dia bahkan belum menjelaskan apa-apa.” Jin lagi-lagi brkata penuh dengan emosi. Bibirnya mengerucut lucu membuat Byou tersenyum kecil disela-sela kunyahannya saat melihatnya.

“Aku tidak seperti itu…” kata Manabu, setengah terkikik. Jin masih mengerucutkan bibinya tidak terima tapi dia diam saja.

“Ah, aku harus ke toilet, tunggu sebentar…” kata Byou. Ia kemudian berdiri dan mohon diri untuk pergi ke Toilet.

Manabu meletakan sumpitnya dan menatap Jin lekat-lekat.

“Ada apa?” Tanya Manabu, kali ini dengan nada yang lebih lembut pada Jin.

“Mmm… nande mo nai…” kata Jin pelan.

“Jin-chan, sudah berapa lama kita berteman, kau kira aku percaya-percaya saja kalau kau baik-baik saja?” Kata Manabu, menekan tapi tanpa tedensi. “Ini tentang Byou-sama lagi kan?”

“Lagi? Kau bercanda, kapan aku selalu memikirkannya?”

“Aku tidak mengatakan kalau kau memikirnya, aku hanya mengatakan ini tentang Byou-sama? Sepertinya iya ya… soal Byou-sama…” Manabu tersenyum. Bibirnya yang merona merah melengkungkan sebuah senyum penuh pengertian yang hanya dimiliki oleh seorang Manabu.

Jin menyesap sedikit minumannya dan melempar pandangan kemana saja asal bukan pada sahabatnya itu.

“Kupikir… dia menemukan mainan yang lebih menarik saat ini … “gumam Jin pelan.

Manabu masih menatapnya tanpa jeda.

“Dan kupikir, kali ini serius…” lanjut Jin.

“Ah, sou? Kupikir orang seperti Byou-sama tidak paham arti kata ‘serius’ yang kau maksud itu, kalau kau mengerti maksudku.” Manabu meneguk sedikit sakenya.

“Kita sangat tahu seperti apa Byou.. jika dia sudah sangat tertarik pada sesuatu, dia tidak akan melepaskannya sampai dia mendapatkannya.”

“Ah, ini aneh sekali…” Manabu terkikik. “Kupikir kau hanya sedang cemburu…”

“Manabu… aku serius kali ini.”

“Baiklah, katakan padaku kau merasa takut… yang benar saja, apa yang kau takutkan?”

Jin terdiam. Lidahnya mendadak kelu.
Ya, apa yang ia takutkan? Ia bahkan bukan siapa2nya seorang Byou, hanya seorang sekretaris pribadi merangkap babu yang selalu membenahi semua kesalahan bodoh tuannya. Tidak lebih.

“Jangan terlalu banyak berpikir… santailah.”

“Aku tidak pernah menyangka ada saat aku khawatir dengan posisiku saat ini. Byou-sama--- “

“Aku kenapa?”

Mata besar Jin semakin membola. Ia terkesiap tak menyangka kalau Byou kembali secepat ini dari Toilet.

“Bukan apa-apa…” kata Manabu tersenyum.

“Benarkah? Namaku disebut dengan jelas.”

“Maksudku, Byou-sama begitu bodoh sampai melewatkan untuk memeriksa laporan aktiva bulan lalu…” Jin memotong dengan jengkel.

“Benarkah? Aku melewatkannya? Kupikir semuanya akan baik-baik saja selama aku memilikimu.” Kata Byou enteng. Dia menyibakan mantelnya dan duduk dengan anggun di kursinya.

“Aku bukan mahluk yang selalu punya waktu untuk melakukan hal yang seharusnya kau lakukan.”

“Sudah sudah, jangan bahas pekerjaan dimeja makan.” Byou mengerucutkan bibirnya.

“Tuh kan, kau selalu saja begitu. Bagaimana kalau aku ini orang yang sangat amat jahat dan mengalihkan semua asset milikmu sebagai miliku tanpa kau ketahui?”

“Lakukan saja, toh kau itu miliku. Berarti milikmu adalah miliku juga. Kita seri.”

“Aku benci padamu.” Geram Jin jengkel.

“Ya ya, aku juga menyukaimu, Jinchan…”

“Apa kau tuli??”

Disudut lain, Manabu tak lagi bisa menahan tawanya.

-----------------------

“Byou-sama, terima kasih banyak atas traktirannya hari ini…” kata Manabu, tersenyum lembut.

“Suatu kebanggaan bagiku untuk bisa duduk makan malam bersama dengan orang cantik…” Byou kembali meraih tangan Manabu dan mengecup punggung tangannya dengan lembut.

Luar biasa. Byou tidak percaya bahwa mahluk super cantik dihadapannya ini adalah seorang pria yang usianya hanya beberapa tahun lebih muda darinya. Segala sisi dari Manabu begitu cantik dan menarik perhatiannya. Kulitnya pun bahkan sangat halus. Mungkin saja jika Byou tidak tahu kalau Manabu itu sudah memiliki seorang kekasih, dia akan dengan senang hati berusaha memilikinya dengan cara apapun.

“Byou-sama… Kau tahu kan kalau Jinchan adalah sahabatku?” kata Manabu pelan.

“Satu-satunya sahabat Jinchan adalah kau, Manachan…”

Manabu tersenyum.

“Oleh karena itu, apapun yang membuatnya sedih, akan menjadi bagian dari kesedihanku pula…” sambung Manabu lagi.

“Apa yang membuatnya sedih?” Byou menatapnya, cengiran setan melintas dibibir sexy Byou.

“Tidak ada tentu saja, selama bersamamu, aku yakin tidak ada…” Manabu mengangguk mantap. “Tapi, memiliki dan membahagiakannya adalah dua hal yang berbeda. Baiklah, itu Jinchan, aku akan naik taxi saja dari ini.”

“Eh? Tapi ini sudah malam, tidak baik kalau ---“

“Kazuki akan marah bila aku selalu merepotkan orang lain, saa.. Jyaa!” Manabu membalikan badannya dan menyetop taxi yang lewat sementara mobil yang dikendarai Jin sudah mampir di hadapan Byou.

“Padahal kalau orang cantik seperti itu sih, aku akan senang bila direpotkan…” Gumam Byou.
---------------------

“Resign dari Konbini? Kenapa??” Uruha bereaksi heran saat malam hari menjelang dan Ruki, yang masih terlihat sangat pucat dan lemah nekat datang kembali untuk bekerja. Tim make up dan kostum sampai harus menutup semua luka yang dimiliki Ruki dengan foundation khusus. Beberapa orang bahkan menyarankan Ruki untuk pulang saja karena dibeberapa bagian tubuhnya terlihat membengkak dan sepertinya sangat sakit ketika disentuh. Tapi Ruki mengabaikannya. Dihadapan Uruha yang tengah dirias serya menghisap sebatang rokok, Ruki mengatakan kalau dia memutuskan untuk tetap bekerja di Bion dan berhenti dari konbini.

“Karena… penghasilan ditempat ini lebih besar…” Ringis Ruki.

Uruha menghembuskan asap rokoknya dan menghela nafas seolah lelah.

“Ruki, kau baru saja melakukan pillow bisnis, maaf maaf saja, itu tidak akan membuatmu bertahan lama ditempat ini atau mungkin ditempat lain sedistrik Shinjuku ini. Kau tahu hokum alamnya kan? Sayangnya, aku berpikir ini akan terjadi padamu, menjadi yang paling rendah lalu ditendang dari Bion. Tidak seorang pun bisa menyelamatkanmu, termasuk aku.”

“Tapi Uruha-san, kau bisa bertahan bahkan setelah kau melakukan pillow bisnis… kau bahkan tetap menjadi nomor satu.”

Uruha menggaruk kepalanya yang tidak gatal, bingung menjelaskkan pada anak sepolos Ruki.

“Kalau begitu, kau harus menjadi regular dari seorang tamu VIP disini.” Kata Uruha. “Pillow bisnisku dengan Aoi, lalu kemudian aku kembali dipanggil untuk  Kojima-Sama, tapi setelah Aoi memutuskan untuk menjadi Regulerku, posisiku, bisa dibilang aman. Faktor keberuntungan pula. Shiroyama-sama punya kedudukan terbesar kedua setelah Kojima-sama. Kau harus mencari Reguler sekelas Kojima-sama dan atau Aoi…”

“Menjadi regular, apakah sama … dengan simpanan?”

Uruha tertawa kecut.

“Kuharap berbeda. Tapi kenyataannya, Aoi sudah punya seorang tunangan.” Lalu Uruha terlihat sedih.

“Ma-maafkan aku…” Ruki mendadak menyesal membuat wajah Uruha menjadi lebih sedih.

“Haha, untuk apa kau minta maaf? Ini bukan salahmu kan?. Lagi pula, apa yang bisa aku harapkan dari hubungan seperti ini….” Uruha menggumam. “Dari pada itu, bukankah kemarin kau melakukan pillow bisnis dengan Kojima-sama? Sampai luka-luka seperti ini…”

“Ya, Kojima-sama… baik sekali. Dia bahkan menjenguku di flat ketika aku sakit…” Ruki merapikan perban yang melilit tangannya dan mengambil dua butir obat dari dalam tasnya lantas meminumnya, tidak sadar dengan raut wajah Uruha yang sangat terkejut.

“Dia apa?” ulang Uruha, memastikan kalau dia tidak salah dengar.  “Datang ketempatmu? Ke flatmu? Secara personal? Dia sudah tahu identitasmu? Haaaah? Kok bisa?”

Ruki hanya mengangkat bahunya tidak mengerti.

“Membawakanku sebuket bunga mawar merah dan menyuruh sekretarisnya mengobatiku.”

“Begitukah…” Uruha diam sebentar. “Ah, mungkin dia bisa jadi penyelamatmu, Ruki.”
“Ha?”

“Kau harus memastikan Byou Kojima menjadikanmu Regulernya….”

------------------------------

Ruki masih asyik terdiam di kursinya, di counter Bar dengan segelas minuman manis buatan bartender yang sangat dikenalnya, Jurri. Awal pertama kali Jurri mengenalnya ditempat ini, ia menertawakan Ruki yang tak kuat sama sekali minum, sementara pekerjaan ditempat ini mengharuskan Ruki menjual minuman. Karena kasihan, akhirnya Jurri memberinya saran agar meminum sesendok makan minyak zaitun atau memakan sesendok besar mentega sebelum memulai bekerja, agar Ruki tahan terhadap alcohol dan tidak mabuk meskipun tamunya memaksanya banyak minum.

“Peringkatmu turun?” Tanya Jurri,serya menuangkan cairan merah kedalam gelas cocktailnya.

Ruki mengangguk.

“Sudah bisa ditebak kan? Aku bukan Uruha-san.”

“Lalu bagaimana? Kalau seperti ini terus, Miyavi-san akan memecatmu dari Bion.”

“Aku tidak tahu…” gumam Ruki. “Aku sudah resign pula dari konbini…”

Jurri tertawa.

“Pikiranmu pendek ya…” komentarnya sadis. “Cobalah untuk menggodan beberapa pria newbie ditempat ini. Mungkin kau bisa sedikit bertahan.”

“Apa menurutmu aku bisa bersikap semurahan itu?”

“Membuktikan kalau tampang imut saja tidak cukup untuk bertahan ditempat ini kan?”

“Kau membuatku semakin depresi.” Kata Ruki datar.

Jurri tertawa lagi.

“Maaf maaf, aku memang tidak pandai menghibur orang.”

-----------------------------------

“Kita ke Flat Ruki dulu, Jinchan…” kata Byou saat mobilnya tertahan dilampu merah persimpangan jalan.

“Huh? Sekarang? Apa tidak kemalaman untuk bertamu?” kata Jin masih memfokuskan matanya pada lampu merah, bersiap jika tiba-tiba lampu itu berubah warna.

“Tidak akan lama, aku hanya ingin memastikan kalau anak itu baik-baik saja.”

“Dia akan baik-baik saja kurasa.”

“Kupikir kau tahu maksudku, Jinchan sayang… Kau menyadari beberapa luka diwajahnya itu bukan perbuatanku kan?” Byou terkekeh pelan. “Kareshinya itu… ah bukan, orang yang tinggal satu flat dengannya itu… kupikir bukan orang yang lembut.”

“Kau mengkhawatirkannya?”

“Entah kenapa aku merasa akhir-akhir ini nada bicaramu selalu sinis jika menyangkut anak itu.” Kata Byou diantara kekehannya, matanya menatap Jin dari spion mobilnya. Jin mendengus tidak terima tapi tidak balik menatapnya.

“Baiklah, kalau itu perintahmu.”

“Perintah? Bukankah ini lebih seperti permintaan?”

“Tanpa kata ‘Tolong’ kuanggap itu perintah.”

Byou tertawa semakin keras.

Mobil kembali melaju menuju flat Ruki dalam hening. Kali ini Byou tidak banyak bicara, hanya terus menerus menatap Jin dari kursinya. Arloji mahal ditangannya menunjukan waktu sudah lewat pukul sepuluh malam.

Sepertinya Ruki sudah tidur jika malam sudah selarutn ini.

Tapi Byou memutuskan untuk mengganggunya jika pun ia memang sudah terlelap tidur.

Byou Kojima memang paling tidak bisa dibantah.

Sudut matanya menangkap sosok lain yang terlihat sangat tidak ikhlas untuk menemaninya.

Kali ini seringai jahil Byou kembali terulas.

-------------------

Reita menghembuskan asap rokoknya serya menggenggam sekaleng bir murah yang dibeli dari mesin penjual otomatis. Disampingnya, Kai asik menghentak2an tangan dan kakinya seolah sedang memukul drum secara virtual.

“Kita hanya terus menerus latihan tapi satu bulan ini job yang kita terima hanya satu. Aku bisa benar-benar mati kelaparan kalau begini terus.” Gumam Reita.

“Kau bisa datang kerumahku jika kau sudah benar-benar akan mati kelaparan. Aku bisa memasak untukmu.”

“Hentikan itu. Kau terdengar seperti seorang gadis yang ingin membuatkan bento untuk cowo paling popular sekampus.”

“Benarkah?” Kai tertawa. Lesung pipitnya tercetak jelas dipipinya yang manis dan matanya menyipit seolah menghilang.

“Kau kan leader, buatlah sesuatu agar member band mu tidak mati kelaparan.”

“Aku leader band, bukan jin dari teko ajaib. Jangan minta sesuatu yang diluar kemampuan manusia normal.” Kata Kai. “Lagi pula, aku khawatir, Ryuto bilang mau keluar saja dari band karena bulan depan sudah mulai masuk kuliah.”

“Ryuto bilang begitu?” kata Reita kaget.

“Bagaimana lagi, Ryuto memang additional member kan, kita tidak bisa menahannya terlalu lama didalam band.” Ekspresi Kai kali ini lebih dari serius.

Reita mendesah lelah.

“Sekarang kita harus khawatir dengan kehilangan vokalis? Yang benar saja…”

“Aku bermaksud membuka audisi untuk mencari vokalis baru. Nao menyarankan beberapa orang tapi aku belum memutuskan. Lagi pula… band sekecil ini, siapa yang tertarik untuk bergabung.”

“Sebelumnya Yuuto lalu Ryuto, mungkin kali ini kita harus mencari member yang namanya tidak berakhiran To.”

“Begitukah…” Kai tersenyum kecil. “Aku akan pikirkan soal ini nanti. Dan soal job, aku ada kabar gembira… mungkin.”

“Apa itu?”

“Aku mendapat tawaran untuk mengisi slot kosong di festival musim dingin tepat seminggu sebelum Ryuto hengkang. Bayarannya lumayan dan… kudengar akan ada orang penting dari industry musik yang akan datang.” Kata Kai, kali ini dengan nada yang lebih ceria.

“Benarkah? Tapi… sebenarnya aku agak pesimis dengan kualitas suara Ryuto…”

“Kau baru keluhkan sekarang? Aku sudah ingin mengatakan itu sejak jamming pertama ]kita. Tapi kupikir karena dia member cabutan, tidak masalah dengan itu.”

“Itu sebabnya kita tidak punya banyak job?” Dahi Reita mengerut. “Lain kali, carilah member cabutan yang lebih punya skill dari pada Ryuto, kita tidak ingin band ini bubar, kan?”

“Soal itu… aku sempat berpikir akan membubarkan band ini kalau… di summer festival tahun ini kita tidak lagi mendapat slot.”

“Yang benar saja, Kai! Kau tahu kan, hidupku bergantung pada band ini!” Reita berteriak nyaris menjatuhkan bassnya akibat gerakannya yang tiba-tiba.

“Terimalah ini, Rei. Bahkan kau kini tidak lagi berpikir hanya tentang music kita. Ingat? Kau nyaris bersikap tidak professional akibat masalahmu dengan Ruki. Kau tidak lagi bisa berkonsentrasi penuh dengan bandmu.” Kai menatapnya. “Kupikir, band kita memang sudah diujung tanduk. Kau itu mood booster di band, dan ketika kau kehilangan mood, semuanya berakhir.”

“Apa? Kenapa kau membawa-bawa anak itu dalam hal ini?”

“Akuilah, Rei! Saat kau masih membawa-bawa Ruki kemanapun dan kapanpun kau pergi, moodmu jauh lebih baik. Permainanmu jauh lebih terarah. Kau bahkan bisa membuat satu atau dua lagu yang bagus. Sekarang? Apa yang kau buat tak lebih dari sampah!”

Buakh!

Kai terjengkang dari tempatnya duduk.

“Jangan mengatakan hal yang buruk tentang musikku! Lebih dari itu, jangan pernah membawa-bawa Ruki lagi dalam diriku, karena aku benar-benar akan membuangnya…” geram Reita. Ia melemparkan kaleng bir kosongnya dan melangkah pergi sementara Kai terengah berusaha berdiri serya menyeka darah disudut bibirnya.
-------------------

“Sepertinya tidak ada orang…” kata Jin. “Pintunya terkunci.”

“Kemana anak itu?” Kata Byou heran.

Mereka berdua berdiri didepan pintu flat Ruki dan berkali kali mengetuk serta membunyikan bell namun tidak ada tanggapan. Ketika Jin berusaha membuka pintu itu, terkunci.

“Kita pulang saja, ini sudah larut malam.” Kata Jin. “Mungkin dia pergi bersama kekasihnya.”

“Menurutmu apa hubungan mereka berdua terlihat seperti akan pergi jalan-jalan malam hari berdua saja lalu duduk memandangi bintang di gunung belakang kota?”

“Mereka terlihat seperti itu sampai kau datang dan merusak segalanya.” Kata Jin datar.

“Aku? Sekarang kau menyalahkan aku?”

“Kau memang salah.”

“Dan kau selalu benar. Ayolah, aku tidak seburuk itu.”

Mata Jin menyipit.

“Kalau kau sudah puas, ayo kita pulang, ini sudah malam dan ocehanmu bisa mengganggu tetangga.”

“Kalau mereka terganggu, kau tinggal minta maaf dan kalau mereka tidak memaafkanmu, kita panggil saja pengacaraku.”

“Kau ini bodoh ya?” Jin menggeleng tidak percaya.

“Nah, sekarang kau mengatai atasanmu sendiri bodoh.”

“Aku memang bekerja pada orang bodoh.”

Sementara mereka berdebat tidak penting, dari arah Lift, Reita datang dengan menggendong bassnya dibelakang punggungnya, terlihat sangat lelah dan putus asa.

“Ah!” Jin menyadari kehadiran pemilik flat itu.

Reita menatap keduanya dengan pandangan tidak suka yang tidak perlu susah-susah disembunyikannya.

“Kau tidak bersama Rukichan?” Tanya Byou langsung tanpa perlu basa basi. Reita mengerutkan dahinya, setengah jengkel.

“Dia tidak ada?” Reita berkata dengan nada tidak peduli. Ia mengeluarkan kunci flatnya dari dalam saku celana jeansnya.

“Jadi kau tidak bersamanya?”

“Bukankah paling mungkin dia bersamamu, menjual dirinya seperti biasa?” kata Reita dingin.
Byou, anehnya tersenyum.

“Jadi kau sudah tahu mengenai pekerjaannya?”

Reita membeku sesaaat.

“Kau pelanggannya kan? Bagaimana rasanya? Dengan uangmu, tentu saja kau bisa membeli segalanya, kan?”

Masih tersenyum, Byou menatap dingin mata sang bassist dihadapannya.

“Tentu saja, aku memiliki banyak uang bisa kuhabiskan hanya untuk membeli kebahagiaannya. Jadi apa ini artinya kau akan melepaskan Ruki? Bukankah dia layak hidup lebih baik bersamaku?”

Reita membalikan tubuhnya.

“Aku tidak peduli lagi.”

“Lagi? Kurasa kau memang tidak pernah peduli dengannya.”

“Apa pedulimu?”

“Peduliku? Aku hanya orang yang akan menjadi malaikatnya. Dia akan menyembahku, memujaku sampai mati dan dia akan bahagia bersamaku, itu lebih baik dari pada hidup bersama orang yang bahkan tidak mengakui keberadaanya.”

Reita mengeratkan kepalan tangannya menahan marah.

“Oh?” kata Reita, mendekat pada Byou.

“Aku memang suka menikmati tubuhnya… apa kau pernah melihat wajah terangsangnya dibawah tindihan seseorang? Atau perlu lain kali aku melakukannya dihadapannya?”

Tanpa pikir panjang lagi, Reita segera melayangkan kepalan tinjunya lurus menuju wajah Byou tapi tanpa diduga Jin menahan kepalan tangan penuh tenaga itu dengan telapak tangannya tanpa merubah ekspresi datarnya.

“Kekerasan tidak diijinkan, Tuan.” Kata Jin.

Reita menggeretakan giginya dan menurunkan tinjunya. Menatap mereka penuh amarah dan menghentakan kakinya kesal, kemudia membuka pintu flatnya, masuk tanpa menoleh lagi pada dua pengunjung tidak diinginkannya itu.

Kepalan tinjunya merona merah, memar, padahal sekretaris aneh itu hanya menahan dengan telapak tangannya.

Reita masih memandangi tangannya yang memar.

“Sial! Dia kuat sekali…”

Sementara diluar pintu Flat itu, Tuan Besar Kojima menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

“Dia pemarah sekali.” Gerutunya.

“Siapa pun akan marah kalau kau berkata seperti itu tentang kekasihnya.” Jin menatapnya jengkel.

“Harusnya kan tidak perlu memukul.” Gumam Byou lagi. “ Ayo kita pergi. Kita ke Bion.” Kata Byou, kali ini matanya berkilat marah.

Jin diam sebentar.

“Baik…”

Tsuzuku~


A/n: SCREW BUBAR! Dan saat itu terjadi, fanfic ini bahkan belom kelar sama sekali DX. Screw mengumumkan akan melakukan pembubarnya tepat dihari ultah saya yang ke 26 tahun tanggal 2 mei kemarin dan resmi dibubarkan tanggal 1 november 2016 mendatang.
Rasanya tuh gimana? SAKIIIIIT. Kayak dapet hadiah paling buruk sepanjang masa.
Screw bukan fandom utama saya, tapi saya punya banyak kenangan dengan lagu-lagunya dan terutama dengan Byou, saya suka banget Byou, dia tuh sexy… lol
Well uh, saya sering bilang ‘Cinta yang tidak pernah berkhianat adalah Band pada fansnya… kecuali mereka bubar’ tentu aja. Masalahnya, managemen melreka (PSC) mungkin berpikir kalo tidak ada yang bisa dipertahankan dari mereka pasca hengkangnya Rui dari Band.

Teori sotoy Bab 1 versi saya mengenai penyebab bubarnya Screw yang udah sepuluh taun ngeband bareng mungkin bisa membuka mata reader sekalian mengenai gambaran kasar industry music kejam yang ada didunia nyata.
Setelah ViViD, tentu aja agak mengangetkan kalo tiba-tiba Screw juga ikutan bubar jalan.
Kenapa? Screw keliatan baik-baik aja dan kompak meski udah beberapa kali narik tendang bassist.
Seperti yang dikutip dari para member, mereka tidak memiliki masalah internal dalam band maupun secara personal (kecuali punya leader geblek macem Kazuki dan vokalis najis macem Byou itu jadi masalah), agak aneh kalo mereka tiba-tiba bubar jalan.
Beberapa orang bilang, itu karena Rui hengkang, music Screw jadi ngga jelas mau kemana.
Well, sepertinya alas an itu bisa dibenarkan bisa juga ngga, soalnya dalam sebuah band, tidak melulu satu orang mengambil peran besar dalam aliran dan jenis music. Mungkin sejak ada Rui music Screw jadi lebih terarah, mungkin benar, tapi saya rasa itu agak terlalu dibuat-buat aja. Maksudnya, Rui juga selama ini tidak terlihat akrab2 amat ama member lain, sepertinya dia bahagia2 aja udah keluar, toh Screw itu membesarkan namanya, bahkan setelah keluar dari Screw, doi keliatan asik banget ama bisnis barunya (yang ga jelas itu) dan jadi seleb instagram :v
Cuma saya juga sempet bertanya “Ini ga apa2 nih? Tetep jalan tanpa bassist baru?”
Tapi itu pertanda kalo mereka ternyata udah lama merencanakan buat bubar.
Screw lumayan lama juga baru bisa ditarik jadi Major bandnya PSC (secara, suara Byou emg ga bagus2 amat n lagu2nya juga ga jelas *ditendang), kemudian setelah itu Rui keluar, dan tak lama, Screw bubar.
Hmm gini, di PSC ada yang disebut Kontrak 10 tahun perpanjang.
Inget, Screw udah berapa lama? 10 Tahun. Pas dengan masa habis kontraknya dengan PSC, dan sepertinya PSC juga tidak tertarik buat memperpanjang kontrak tsb jadi mereka ga dicariin bassist tetap yang baru setelah Rui hengkang X’D
Naas emang, tapi begitulah, fans yang banyak bukan jaminan band itu akan bertahan kan?.
Sepertinya isu mengenai kebangkrutan PSC udah jadi rahasia umum ya dengan banyaknya Band yang dibubarkan dan diakuisisi oleh label lain. Sebut aja SuG yang diakuisisi jadi brand image Pony Canon, Alice Nine yang lebih milih keluar dari PSC dan balik lagi jadi Indie dengan rombakan nama menjadi A9, terbaru pembubaran ViViD dan terakhir Screw, ditambah isu kalo The GazettE emg sapi perah PSC yang kontraknya ga abis2 dan ga ada tanda2 akan berakhir gitu.
PSC emang bisa dibilang sangat amat menyokong gaya hidup para artisnya. Tapi isu tunggakan pajak yang dilakukan PSC mungkin jadi salah satu gambaran betapa PSC itu sangat amat loyal kepada artisnya dengan syarat, si artis mau dijadiin tambang emang kesayangannya :v
Padahal seharusnya dengan penghasilan sebesar itu, PSC ga usah nunggak pajak, jadi ga ngutang dan ga perlu bubar jalanin semua artisnya. Lama2 tinggal sejarah. Tunggu aja sampe PSC bener2 bangkrut dan The GazettE punya label sendiri X’D

Kalo saya sih ngeliatnya seperti gini “Rekrut band, bikin mereka selayaknya copycat dari seniornya, peras para fans (ini saya yang nsgerasa gini, maksudnya tiap rilisan bisa sampe Limited Edition, Regular A B C D E F G H dll version, goodies yang harganya bikin ngejengkang, fans club berbayar, mau handshake aja kudu jadi member exlusif, ga boleh ambil foto sembarangan kecuali udah bayar, apa namanya kalo bukan ngebolongin dompet fan? T__T), jadiin major, lalu bubarkan. Tamat.” Hati tenang, semua senang… ndasmu, nenek -____-

Jadi bagaimana nasib para member Screw selanjutnya setelah bubar nanti? Itu yang saya takutkan. Selama ini yang belajar dari ViViD, tidak mudah bertahan setelah band bubar. Mungkin Cuma Reno yang namanya masih berkibar kayak kolor didunia music sementara satu jenius lainny, Shin, menghilang tanpa jejak setelah mengumumkan nama barunya yang sama sekali ga bawa hoki. White Judas? Apa itu? White Judes maksudnya? :v

Terlepas dari semua itu, saya Cuma berharap ex memba Screw nanti bikin band baru dengan ganti nama jadi Nail mungkin, bikin lagu baru yang lebih nyeni, member yang tetap, bassist baru, dan konser dimana2, dan hidup bahagia selamanya tanpa ikatan kontrak 10 tahun perpanjang lainnya. Saya berharap banyak sama mereka setelah dikecewakan ViViD yang setelah bubar, bakat2 indah mereka seolah terkubur aja gitu.

Saya mungkin bukan Siesta sejati, tapi saya merasa kalau Screw bubar, itu semacam tidak adil dan tidak waras.

Lalu yang lebih ngagetin, Girugamesh juga ikutan pensiun. Selanjutnya apa? Vokalis The GazettE mati digigit kucing? Bassist Laruku ikutan Boyband? Dunia dikuasai Robot dan Dajal keluar dari perut bumi? That was too much for me -___-‘’

 Makanya saat syok seperti itu pun saya tetap berusaha menyelesaikan fic ini sebelum tanggal resmi bubar mereka.

Ah, tokoh utama disini sebenernya Ruki, tapi disisi lain saya lebih suka menceritakan banyak hal mengenai Byou dan Jin. Meskipun penuh kontra, tapi saya lebih menyukai pair Byou x Jin disbanding Byou x Kazuki yang udah umum. Saya juga lebih suka kalau Manabu berpasangan dengan Kazuki. Byou itu tipekal orang yang jailnya ga ketulungan apalagi menghadapi tsundere macem Jin n Manabu itu seperti pawangnya Kazuki yang begajulan (?) X’DDDD

Baiklah, fic ini belum selesai, semoga tepat sebelum 1 november udah kelar, saya luar biasa sibuk akhir2 ini. Ngomong2, Harvestmoon itu benar2 menyita waktu, tenaga dan pikiran saya #apaan
Typo dan kesalahan geblek lainnya mohon dimaafkan, saya memang ga jago edit. Baik edit naskah maupun edit foto :v itulah sebabnya tesis dan novel saya berkali2 kena revisi T___T

See ya to the chapter,

KAGEFUMI
The White and The Purple

Saat menulis, diiring lagu2 dari:

Screw ; Antic Rain, Tear Drop, Deep Six, Gather Rose, Horizon
The GazettE ; Kagefumi, Last Heaven, Dogma, Undying, Malum, Shiver, Pledge, The Dazzling Darkness, Juunana Sai
 ViViD ; From The Beginning, Hikari, Ever, Calling, Natsubana
 Lynch ; Frozen
Mejibray ; Eiki, Echo
Laruku ; Time Slip, Jujoushi, Dearest Love, Singing In The Rain
Tetsuya; Cant Stop Believing, Mahou No Kotoba
Hyde ; Evergreen, Secrets letter Japan Version
Mad Soldier n Kotani Kinya ; Anti Nostalgic *ost Gravitation anime* , Glaring Dream *Ost Gravitation*
Gackt : Last Song
Kuroyume ; Maria, Kiss
Morrigan ; Black Alice, Devil Parade
SuG ; Black, D.O.T, Gimme Gimme, Howling Magic, SweeToxic
BLAiR; Colorless
Loud Grape; Kodomo Sekai
Anli Pollicino; Angel Heart, Lip Kiss
ABC; Aishitenai, Yes, Chou, Black Cherry
Dan sisanya lagu2 yang saya ga ngerti cara baca kanjinya dari mas2 Kobokuro, diselingi Joget2 Memeshikute Golden Bomber dan dimeriahkan oleh Pv2 Om2 ganteng dari Kuroyume n SOAP *Ken Laruku n Sakura ex Laruku*

Big Thanks to:
Tante Rukira Matsunori,  FFmu opo kabare, tan? T___T
Nadine Sakurazawa yang nemenin cari bahan cerita *uhuk*
Miss SM yang selalu nanyain kapan lanjutan Fake *wakaakakak*
Mbak Lilith yang sabar selalu nunggu dikirimin email lanjutan LQ
Neng Miya, saya udah sebut yah! Utang lunas! XD
Abang2 gw, Yasunori Sakurazawa, Mets, Seth, Abigail, dkk yang paling ga mau baca karena takut jadi homo tapi ikutan nonton Seven Days Friday- Sunday paling depan -____-‘’
Thanks bgt, juga buat Shiroyama Lappychan, My laptop yang tabah bgt gw pake ngegame, ngetik ff, ngetik tesis, ngetik novel, ngetik laporan, nonton film yaoi, nonton donlotan *wkwkwkw*, denger lagu, browsingan bahan kerjaan, dll. I loph you dah!

Thx thx thx… yang mau komen boleh via BBM, WA, Fb, atau mungkin disini juga boleh…

Follow my twitter: @tsualla
IG : @tsuallamethuselluth








Tidak ada komentar:

Posting Komentar