KAGEFUMI
The White and The Fate
Byou memang sering datang ketempat ini, Bion adalah pemberhentian utamanya jika ia memiliki waktu luang dan berminat untuk melepas suntuknya. Tapi kali ini entah mengapa salah satu distrik lampu merah termahal di kota itu mengganggu pikirannya.
Mobil yang dikendarai Jin, sekretarisnya yang memasang wajah tanpa ekspresi, memasuki kawasan yang terkenal sebagai tempat berbagai macam manusia memperlihatkan sifat aslinya tersebut. Sebuah gedung tiga lantai dengan lampu semarak warna warni terkesan elegan dan mahal berkelap kelip seolah menggundang orang-orang untuk memasukinya. Di atasnya, spanduk baliho raksasa menampilkan foto dua belas pria muda dengan berbagai tingkat ketampanan dan fisik yang bisa dibilang nyaris sempurna menyita perhatiannya.
Diantara dua belas foto raksasa tersebut, tidak ada foto orang yang sangat dicarinya, Ruki.
Byou merasa Ruki cukup beruntung bekerja di Bion, tempat itu lebih serupa bar dan club biasa dari luar, tidak memajang foto para pemuda tampan itu, bukan karena tidak bisa tapi karena sang pemilik, Miyavi, merasa cara itu sangat norak. Memajang foto para host di baliho raksasa serupa barang obralan di swalayan. Dia benci itu.
“Byou-sama, sudah sampai.”
Teguran Jin membuyarkan lamunannya. Pria eksentrik itu tersenyum dan menyibakan mantel leopardnya sedikit dan turun dari mobil yang pintunya dibukakan oleh Jin. Cara turun dari mobil ala konglomerat.
Boots mahalnya menyentuh aspal dan beberapa petugas valet parkir menghampirnya dengan sopan dan tergesa. Jin menyerahkan kunci mobilnya pada petugas valet parkir itu dan berjalan disamping bos besarnya tersebut, masih dengan wajah tanpa ekspresi.
“Kojima-sama…” Seorang pelayan tersenyum padanya dan membungkuk hormat. “Kojima-sama datang lagi, apa yang bisa kami bantu?”
“Aku mencari seseorang…” kata Byou, tersenyum misterius.
“Apakah Uruha-san? Hari ini beliau sedang menemani Shiroyama-sama… kalau anda mau, kami bisa mencarikan yang lainnya.”
“Tidak tidak… aku tidak mencari yang nomor satu disini. Aku akan mencarinya sendiri…” Kata Byou, berlalu meninggalkan pelayan yang kebingungan itu. Jin masih mengiringinya.
“Byou-sama, sebaiknya anda open table dulu.” Saran Jin.
“Aku tidak ingin berlama-lama ditempat ini, Jinchan, setelah kita temukan anak itu, kita pulang.”
“Tapi Byou-sama menarik perhatian, liat semua orang jadi memperhatikanmu. Para pelayan dan Host disini sangat mengenalmu, kau itu CEO Duality, akan sangat aneh dan tidak biasa kalau kau datang tanpa open table, merusak imagemu, kan?”
Byou berpikir sebentar.
“Kalau begitu, kau lakukan saja untukku.” Kata Byou lagi.
“Baik.” Jin membungkukan badanya dan memanggil salah satu pelayan ditempat itu. “Kojima-sama ingin open table.” Kata Jin.
“Baik.” Pelayan itu tersenyum dan mengangguk pelan.
Selang beberapa menit, mereka sudah duduk disebuah sofa terbaik.
“Dimana anak itu?” gumam Byou, matanya terus berkeliaran mencari seseorang.
“Mungkin dia sudah dapat tamu?”
“Ini memang sudah hamper tengah malam sih…” kata Byou masih dengan pandangan yang terus bergelriya keseluruh penjuru ruangan. Jin baru saja mendaratkan pantatnya di sofa ketika Byou tiba-tiba terlonjak dan berdiri.
“Ada apa?” Tanya Jin heran.
“Aku menemukannya…” kata Byou, segera melesat menuju counter bar dengan sibakan mantel leopardnya. Jin bergegas menyusulnya.
“Ruki…” Byou menarik lengan atas Ruki yang tengah mengambil gelas jusnya dan menoleh kaget padanya.
“Kojima-sama…” kata Ruki gugup.
Pandangan Byou yang ia kenal penuh dengan kilatan nakal berubah malam itu, menyerupai ekspresi kemarahan, membuatnya sedikit takut. Apa Ruki melakukan kesalahan?.
“Aku sudah bilang padamu untuk tidak kembali ke Bion sebelum semua lukamu sembuh kan?” kata Byou, dingin. Tatapan marahnya menusuk langsung ke mata Ruki yang penuh ketakutan sekarang.
“A-aku…”
“Byou-sama, pelankan suara anda…” kata Jin tenang.
“Kau tidak menuruti perkataanku, Ruki… kau tahu kan kalau aku paling tidak suka dibantah?” genggaman tangan Byou yang mencengkram lengannya terasa menyakitkan.
“Kojima-sama, aku harus tetap bekerja. Peringkatku semakin turun, aku tidak mau kehilangan pekerjaan…” gumam Ruki lemah, wajahnya ketara sekali sangat pucat ketakutan. Ia jelas ;tak ingin mendapat masalah di tempat kerjanya.
“Aku sudah memintamu untuk tidak kembali kesini, ada ucapanku tempo hari yang tidak kau mengerti?”
“Kojima-sama…” Ruki menatapnya memelas, lalu menatap Jurri meminta pembelaan.
“Kojima-sama, Ruki-san memang harus kembali ke Bion jika dia masih ingin mendapatkan uang…” kata Jurri berusaha membela.
“Diam kau! Aku tak memintamu untuk bicara…”
“Sumimasen…” Jurri membungkukan tubuhnya. Menghadapai tuan besar yang sedang emosi sebenarnya bukan pilihannya, tapi dia tidak tega jika Ruki kena masalah dengan orang paling berpengaruh ditempat itu selain Miyavi, pemilik Bion.
“Byou-sama, Ruki-san sepertinya tak punya pilihan lain selain kembali ke Bion, biarkan dia bekerja dulu, Anda bukan invitationnya malam ini. Ruki-san hanya bersikap professional…” Jin mencoba menengahi.
“Aku bisa membelinya jika aku mau, Jinchan…” geram Byou.
“Byou-sama, anda membuatnya ketakutan. Lepaskan Ruki-san, kembali ke meja anda.” Kata Jin lagi, kali ini dengan nada yang lebih serius.
Byou melepaskan lengan Ruki dan berpikir sejenak.
“Kau Invitationku malam ini.” Kata Byou dengan angkuh. “Urus semua, Jinchan.”
“Baik…” Jin membungkuk hormat.
“Kojima-sama… apa kabar?” seorang pria tinggi dengan pakaian rapi dan sudut bibir yang dipierching tersenyum menghampiri mereka. Disebelahnya, berjalan anggun seorang wanita mengenakan dress sewarna pastel dengan rambut kecoklatan yang diurai indah. Miyavi Ishihara dan istrinya, Melody Ishihara. Sangat langka melihat mereka berdua ditempat itu, Miyavi lebih sering berada di kantornya dilantai atas dan Melody tidak biasanya berada di Bion.
“Meev!” Byou tersenyum senang seolah melupakan kalau dia tadi sedang marah pada Ruki.
“Kelihatannya kau membuat sedikit kehebohan disini, apa anak buahku tidak melayanimu dengan baik?” Tanya Miyavi masih dengan senyum bisnisnya.
“Aku berpikir untuk membeli anak ini…” kata Byou masih dengan nada angkuhnya.
“Hmm… sayangnya, Kojima-sama, Bion tidak memperjualbelikan manusia…” Miyavi terkekeh.
“Kalau kau sangat menyukai anak itu, kau bisa menjadi regulernya.”
“Kalau begitu, biar Sekretarisku yang mengurusnya. Aku harus pergi bersamanya sekarang, kalau kau tidak keberatan.”
“Tergesa-gesa sekali… kau tidak ingin minum dulu bersamaku?” Tanya Miyavi.
“Percayalah aku sangat menyayangkan kesempatan ini, tapi ada yang harus aku urus sekarang bersama Ruki. Kalau kau tidak keberatan, aku permisi sekarang.”
“Baiklah kalau begitu… selamat bersenang2, Kojima-sama…”
Byou hanya mengangguk kecil kemudian kembali menarik lengan Ruki, kali ini dengan lebih lembut, meninggalkan Jin yang disibukan dengan urusan adminitrasi invitation yang ditinggalkan Byou.
“Orang itu merepotkan saja…” gumam Jin kesal.
-----------
“Kojima-sama… kita mau kemana?” Tanya Ruki dengan cicitan kecil. Dia sudah berada didalam mobil mewah Byou yang penuh dengan interior serba leopard setelah menunggu Jin tidak berapa lama. Byou paling tidak suka menyetir sendiri, dan dia juga tidak suka menunggu, tapi dia lebih memilih menunggu Jin dari pada harus menyetir sendiri, membuatnya tampak seperti pegawai rendahan saja.
“Mengantarmu pulang ke flatmu.” Kata Byou datar.
“Pu-pulang? Anda yakin?”
“Ya, aku berniat menjengukmu tadi, tapi saat aku sampai di flatmu, tidak ada siapa2 disana…” kata Byou lagi. “Dan apa maksud semua ini?”
“Huh?”
“Maksudku, kenapa kau keluar malam ini? Aku sudah pernah mengatakan padamu kalau kau tidak boleh kembali ke Bion sampai kau benar-benar sembuh, kau ingin mati ya?”
Ruki menghela nafas.
“Kojima-sama sangat baik kepadaku. Aku tersentuh. Tapi, aku tidak ingin merepotkanmu lebih dari kemarin.”
“Kau ini sebenarnya anak baik atau bodoh sih…” gerutu Byou. “Pokoknya aku tidak suka melihatmu berada di Bion dengan keadaan seperti ini… Untunglah aku sempat datang ke Bion sebelum ada orang lain yang memakai jasamu.”
Ruki tersenyum tipis.
“Terima kasih…”
Ckiiiit!
“Sudah sampai, Tuan…” kata Jin mengabaikan ekspresi kaget Byou akan aksi rem mendadaknya.
“Jinchan, astaga… kali ini pendaratan tidak mulus, eh?” komentar Byou, merapikan mantelnya.
“Maaf.” Kata Jin tidak peduli. Ia turun dan membukakan pintu Ruki, mempersilahkannya untuk turun.
Ruki turun dengan gugup, menggumamkan terima kasih pada Jin yang entah mengapa menatapnya tanpa ekspresi yang bisa ditebaknya. Ruki merasa Jin seperti sedang menilai sesuatu dari dirinya. Dan itu membuatnya sangat tidak nyaman.
“Aku akan menemuimu besok, di jam makan siang. Bisa?” Tanya Byou.
“Eh… apa itu tidak apa2? Maksudku, aku tahu Kojima-sama sangat sibuk…”
“Tidak sesibuk itu. Lagi pula, aku punya Jin yang bisa mengerjakan semuanya dengan cepat.” Byou tersenyum.
“Jangan seenaknya…” gerutu Jin tidak ikhlas.
“Yah, pokoknya besok kita makan siang bersama, dan aku akan mengurus perihal kepemilikanmu dari Bion kepadaku, jadi secepatnya aku bisa menjadi Regulermu dan kau bisa jadi milikku.”
Meski hanya sepintas, Ruki bisa merasakan bahu Jin menegang mendengar kata2 atasannya tersebut. Senyum jahil melintas di bibir sexy Byou, senyum yang sangat khas dirinya. Ah, jika dipandangi lebih jauh, senyum nakal itu benar2 sangat menawan. Meskipun dengan mantel leopard itu terkesan sangat norak dan borjuis, tapi sebenarnya Byou sangat mempesona. Dia tampan, sexy dan baik.
“Baiklah…” kata Ruki akhirnya. “Terima kasih…”
--------------
Ruki membuka pintu flatnya secara perlahan. Ruangan itu gelap, hanya cahaya dari televisi yang menyala menyita perhatiannya.
“Tadaima, Rei…” Ruki menyalakan lampu ruang tengah dan terkejut mendapati banyak botol minuman yang hampir kosong bergeletakan di mejanya, dengan sosok Reita yang berantakan tertidur dengan kepala tertelungkup diatas meja.
“Reita, astaga, kau mabuk?” Ruki menyentuh kepala Reita.
“Si-siapa? Ck…”
“Ini aku… ayo, kau sudah terlalu banyak minum…” Ruki berusaha memapah Reita.
“Lepas! Aku masih ingin minum… kau… kau kenapa ada disini? Pergi!”
Ruki terdorong karena Reita yang sedang mabuk tenaganya jadi lebih berlipat ganda. Merasa putus asa, Ruki mengabaiknya. Ia meletakan tasnya didalam kamarnya, dan kemudian memunguti botol minuman Reita yang berserakan dan membuangnya ke tempat sampah. Lalu ia mengambil selimut tipis dan menyelimuti bahu Reita.
“… Jangan pergi….”
Ruki membeku.
Reita berkata sangat lirih, mungkin tidak sadar dengan apa yang diucapkannya, tapi Ruki merasa kata-kata itu adalah yang paling jujur dari seorang Reita setelah sekian lama mereka bersama.
“Aku tidak akan pergi kemana2…” bisik Ruki.
-------------------
“Jinchan…”
“Hmm?”
“Kau memberiku kopi pahit pagi ini, yang benar saja… kau kan tahu aku tidak suka sesuatu yang pahit…” kata Byou memandangi cangkir kopinya. Jin tersentak kaget.
“Ah, maafkan aku. Aku akan segera menggantinya.” Buru2 Jin menarik kembali cangkir kopi Byou dan bergegas dari ruangan itu.
“Kenapa anak itu? Melamun?” gumam Byou, tidak biasanya sekretarisnya yang sempurna melakukan kesalahan konyol seperti itu.
Mengabaikannya, Byou kembali pada dokumennya yang masih perlu ia periksa. Tak lama, Jin
kembali membawakan secangkir kopi lain yang kali ini mungkin lebih bisa diterima oleh atasannya tersebut.
“Kopimu…” kata Jin serya meletakan cangkir kopinya. “Lain kali, mintalah office boy untuk membuatkannya. Aku masih banyak pekerjaan.”
“Jinchaaaaan… kau tahu kan aku hanya menyukai kopi buatanmu, kecuali pagi ini, kau memberiku kopi pahit, untung saja aku tidak muntah.”
“Berlebihan..” gerutu Jin. “Aku akan kembali ke mejaku. Kali ini pastikan kau sudah tanda tangan disemua dokumen. Kita punya jadwal makan siang dengan Ruki-san nanti siang.”
“Ah! Kau membuatku sangat bersemangat, Jinchan… sudah kau urus untuk reservasi restorannya?”
“Ya, sudah kuurus, lantai teratas Royal Hotel Kingdom, semua lantai sudah dibooking hanya untukmu.”
“Bagus sekali…” Byou tersenyum lagi. “Dan anak itu….”
“Aku akan menjemputnya dua jam lagi, pastikan saja kau sudah menyelesaikan pekerjaanmu.”
“Belikan dia semua pakaian yang bagus2 dan mahal. Buat dia seperti boneka, lagi pula dia memang sudah seperti boneka porcelain…” Byou mengangguk angguk senang.
“Boneka porcelain ya…” gumam Jin. “Ya, aku akan melakukannya.”
“Dan jangan lupa Bunga…”
“Bunga?”
“Mawar merah. Terakhir kali aku memberinya bunga, dia terlihat sangat senang…”
Jin mengeratkan kepalan tangannya.
“Baik, Byou-sama…”
--------------------
“….” Reita terbangun ketika hari sudah menjelang siang. Kepalanya terasa berat dan pening. Dia melihat kesekelilingnya, sudah rapi dan bersih. Pasti Ruki yang sudah merapikan semuanya. Harum masakan menyita penciumannya.
“Ohayou…” kata Ruki, mecoba tersenyum padanya.
Reita menatapnya setajam yang dia bisa, tidak ingin disapa olehnya.
“A-aku sudah membuatkanmu sarapan…” kata Ruki gugup. Reita berdiri dengan sempoyongan.
Hang over benar2 hal yang tidak disukainya.
“Jangan melakukan hal tidak perlu!” kata Reita.
“Eeh, tapi kupikir kau pasti lapar…”
“Dengar…” Reita mengapit kedua pipi Ruki dengan ibu jari dan telunjuknya, menatapnya dengan amarah. “ Aku lebih suka kelaparan dari pada makan dari hasil pekerjaan hinamu, kau dengar? Dan sudah kukatakan padamu, jangan pernah berani membawa semua pelangganmu ketempat ini, mengerti?!”
“Ah, tapi aku tidak mem-“
PLAK!
Seketika pipi Ruki terasa sangat panas dan perih. Sebuah cetak telapak tangan besar mendarat disana.
“Kalau kau berani membantahku, kau akan tahu akibatnya… kalian menjijikan…”
“Reita…”
------------
Jin menghentikan mobilnya didepan sebuah toko bunga langganannya. Pemilik toko bunga itu adalah temannya, siapa lagi kalaubukan Manabu?.
Memang sudah takdir bila orang2 yang sangat cantik menyukai hal2 yang juga secantik dirinya, seperti Manabu yang amat menyukai bunga2 yang cantik sedari dulu, Jin sudah hapal betul, bahkan ketika Manabu memutuskan untuk membuka toko bunga kecil disudut jalan besar, Jin sangat mendukungnya. Manabu memang telaten dan lembut, berbeda dengan Jin yang keras dan selalu mengerjakan segala sesuatunya dengan cepat, Manabu mengerjakan semua pekerjaannya dengan hati2 dan penuh perhatian.
“Manachan…” Jin masuk kedalam toko tersebut ketika Manabu sibuk merawat semua bunga2nya.
“Jinchan!” Pria tersebut terkejut saat mendapati sahabatnya memasuki tokonya sepagi itu. Ini masih pukul setengah sepuluh pagi, harusnya Jin masih sibuk di kantornya. “Sepagi ini? Ada apa?”
“Aku hanya mencari bunga…” kata Jin.
“Huh? Tidak seperti biasanya. Biasanya Byou-sama yang mencari bunga mawar merah yang segar untukmu, tentu saja dengan permintaan buket berbentuk nyaris mustahil yang menurutnya sangat lucu. Seleranya kadang norak.” Manabu tersenyum.
“Yah, aku kesini pun disuruhnya, membelikan mawar merah yang segar dengan bentuk buket nyaris mustahil untuk boneka barunya…” Jin membelai salah satu mawar yang ada disudut ruangan, tidak berani menatap Manabu yang tentu saja menatapnya antara heran dan iba.
“Boneka barunya? Ini tidak apa2? Sepertinya kali ini dia serius, kan?” Tanya Manabu.
“Berapa kali aku mengatakan ini padamu, Byou-sama mungkin norak dan berlebihan, juga tidak bisa serius, tapi jika dia sudah tertarik dengan sesuatu, dia tidak akan melepaskannya…” kata Jin lirih.
“Oh…” gumam Manabu. “Jika memang tidak sanggup lagi, lepaskan saja pekerjaanmu, dan kemarilah, datang untuk menyendiri bersamaku tidak buruk juga kan?” Manabu tertawa.
“Kau membuatku terdengar depresi.” Gerutu Jin.
“Lho? Memangnya kau tidak?” Manabu tertawa lagi. Diambilnya setangkai krisan putih dan disodorkannya pada Jin. “Untuk mu, ini gratis. Anggap saja hiasan yang bagus dimeja kantormu yang membosankan.”
Jin menerimanya.
“Terima kasih…” katanya. “Jadi, tolong siapkan buket bunga mawar merah segar dengan bentuk nyaris mustahil dan kartu ucapannya, ditujukan untuk… hmm… ini bagaimana? Haruskah kita menuliskan nama Hostnya atau nama aslinya?”
“Nama panggilan saja, terdengar lebih bersahabat dan akrab kan?” usul Manabu.
“Aku tidak tahu nama panggilannya, tapi Byou-sama memanggilnya ‘Rukichan’ apa itu nama hostnya atau nama panggilannya, aku tidak begitu paham.”
“Baiklah, kita tulis saja ditujukan untuk ‘Rukichan’ begitu?”
Jin mengangguk.
Manabu kemudian mengambil mawar merah yang masih segar dalam jumlah yang banyak dan merangkainya menjadi sebuah buket mahal yang mewah dan berkelas dengan tangannya yang terampil. Ekspresi Manabu saat merangkai bunga2 cantik itu begitu lembut bagai seorang dewi. Manabu memang selalu jujur dalam berekspresi. Kadang Jin sedikit iri dengannya.
“Kau tahu, aku kadang bertanya2, apa Byou-sama mengerti arti dari setiap jenis bunga? Seperti mawar mewah ini, artinya cinta dan kasih saying tiada batas. Makanya, setiap hari valentine tiba, banyak pasangan yang memburu mawar mewah sebagai ungkapan cintanya.” Kata Manabu.
“Kurasa orang seperti Byou-sama tidak mengerti hal2 seperti ini. Hanya karena bunga itu mahal, dia pikir itulah yang paling bagus. Bagi orang dengan pola pikir sederhana sepertinya, apa yang bisa dia beli dengan uang, itulah yang terbaik…”
“Ah, sayang sekali yah. Padahal seandainya saja dia mengerti arti bunga2 ini, tentu dia tidak akan bertindak sembrono seperti ini.”
“Menurutmu dia sembrono?” Tanya Jin. Manabu hanya menanggapinya dengan senyum kemudian ia kembali menekuni pekerjaannya merangkai bunga mawar merah tersebut hingga tiba2 sebuah panggilan dari ponselnya kembali menghentikan pekerjaannya.
“Moshi2…” Kata Manabu. Jin tidak mendengarkannya, memilih melihat2 berberapa bunga yang warnanya menarik perhatiannya. Pikirannya kembali melayang. Bunga2 cantik itu mengingatkannya pada sesuatu, kejadian dimasa lalu.
“Maaf menunggu lama…” Manabu menyentakan pikirannya kembali. Jin menggeleng dan tersenyum melihat buket bunga cantik yang telah selesai dibuat oleh Manabu.
“Hmmm…” Jin mengerutkan keningnya heran. “Kalau bentuknya seperti ini, seperti buket bunga pengantin ya?”
“Kan? Aku sudah bilang kadang Byou-sama itu norak.” Manabu terkekeh pelan. “Ah, dan ini tambahannya…”
Manabu menyerahkan setangkai lain bunga mawar merah yang paling cantik dan tanpa duri dibatangnya.
“Byou-sama tadi menelepon, dia mengatakan padaku untuk memberimu bunga mawar merah tanpa duri sebagai hadiah, katanya, sudah cukup lama sejak terakhir dia memberikan bunga untukmu…” kata Manabu. Jin terdiam.
“Apa maksudnya coba….” Gumam Jin.
Manabu hanya tersenyum dalam diam, memperhatikan kawannya menelisik bunga mawar tanpa durinya tersebut.
----------
Kalau bukam karena Jin datang untuk menjemputnya, sudah jelas Ruki masih disiksa oleh Reita. Diinjak dan ditendang sudah menjadi ritual pagi harinya yang biasa sejak hubungannya dengan Reita berantakan. Seperti pagi ini, meski diawali dengan sebuah tamparan yang begitu membekas, Ruki benar2 berharap Reita terlalu mabuk untuk bisa menyiksanya lagi, tapi ternyata harapannya tidak tercapai. Sadar dari mabuk dan kembali kesal dengan apa yang diucapkan oleh Byou semalam, membuat Reita kembali meradang. Ia tak peduli kalau Byou baru saja menyelamatkan anak itu semalam dari kerja keras yang mungkin bisa memperparah keadaannya, Reita seolah tidak peduli.
Dia hanya ingin melampiaskan kekesalannya. Malangnya, saat ini hanya Ruki yang menjadi satu2nya korban.
Ruki menyeka sudut bibirnya yang robek dan setengah memeluk dirinya sendiri, membentengi diri dari serangan Reita yang seolah tanpa henti. Sakit perih dan ngilu yang dirasakannya seolah tidak ada artinya dihadapan seorang Reita.
“Hentikan… Rei, kumohon hentikan!” Ruki berusaha meronta saat kembali sebuah tendangan mengincar bagian lain perutnya.
Tapi Reita menulikan telinga.
“Re-Rei… kumohon… hentikan… sakit!” Ruki masih memohon.
Ting Tong!
“Ruki-san, saya datang untuk menjemput anda.”
Baik Reita maupun Ruki terdiam saat mendengar suara yang sudah tak begitu asing lagi diluar pintu. Reita menatap Ruki tajam.
“Kau memanggilnya?!” bentak Reita, menjambak rambut Ruki agar kepalanya mengadah menatapnya. Ruki menggeleng ketakutan.
“Aku tidak memanggilnya… aku bersumpah…”
Reita menghempaskan kepala Ruki ke lantai yang langsung membentur dengan keras dan terasa pening luar biasa.
“Kau benar2 jalang murahan…” gumam Reita. Ia mengambil bassnya, tak peduli dengan penampilannya yang baru saja bangun dari mabuknya, ia bergegas untuk pergi.
Ketika membuka pintu, ia berpas2an denga Jin yang membawakan sebuket mawar merah yang terlihat mahal. Reita membuang mukanya dan berlalu begitu saja tanpa mengucapkan sepatah kata pun padanya.
“Ji-Jin-san… ma-maafkan aku kau menunggu lama, ma-masuklah… maaf agak berantakan…” Ruki mencoba tersenyum menyembunyikan keadaannya yang menyedihkan.
“Anda baik-baik saja, Ruki-san?”
Ruki mengangguk lagi, sayangnya malah terlihat seperti ringisan kesakitan dimata Jin.
“Sebentar…” Jin menahan tubuh Ruki saat anak mungil itu hendak bergerak lagi. Jin menyuruh Ruki duduk didekat kotatsu dan ia segera beranjak mengambil air dan es batu juga handuk kecil.
“Jin-san, tidak perlu repot2, aku bisa melakukannya sendiri…” kata Ruki.
“Anda terlihat sangat berantakan, Tuan. Aku harus memastikan anda tampil sempurna dihadapan Byou-sama untuk acara makan siang nanti.”
“Ma-maafkan aku…”
“Tidak, bukan itu maksud saya, Ruki-san…”
“Aku memang berantakan harus diakui.” Ruki tertawa hambar. “Syukurlah Byou-sama begitu baik padaku, kalau tidak... aku benar2 merasa aku tidak berharga lagi…” Ruki menggumam. Tangannya membelai halus buket bunga mawar mewah yang dibawa oleh Jin.
“Maaf mencampuri urusan anda, tapi sepertinya teman yang tinggal bersama anda—“
“Reita?”
“Ya, Reita-san, sangat tidak ramah terhadap anda sendiri. Anda bisa benar2 mati jika terus menurus disiksanya…”
Ruki tersenyum kecil lagi. Senyumnya kali ini lebih polos dan tulus.
“Dia tidak bisa hidup sendiri… lagi pula, ini semua salahku… aku sudah membuatnya sangat kecewa, aku merusak segalanya…”
---------
Sepanjang jalan menuju department store tempatnya akan membeli baju2 nanti, Ruki hanya diam serya memandangi jalanan melalui pintu mobilnya, tidak mempedulikan apapun. Ia seperti sengaja menerawangkan pikirannya jauh diluar orang lain bisa menebak. Dan Jin lebih memilih tidak peduli. Lagi pula, itu bukan urusannya.
“Ruki-san… kita sudah sampai.” Kata Jin, membuyarkan lamunannya.
“Jin-san, dimana kita?”
“Roppongi, Ruki-san silahkan pilih semua baju dan aksesoris yang Tuan suka, nanti anda akan dibantu oleh seorang stylist pilihan Byou-sama.”
“Huh? Stylist?”
Belum sempat Ruki bertanya lagi, ia mendapati dirinya sudah diseret oleh Jin masuk kedalam sebuah butik mahal kenamaan dunia dan berakhir dengan membeli beberapa pasang pakaian yang sangat mahal sampai Ruki tidak tega untuk menyentuhnya.
Tapi itu semua tidak membuatnya senang. Ia hanya memikirkan Reita. Sementara ia disni senang2 membeli banyak baju mahal, entah bagaimana Reita diluar sana.
“Jin-san, ini semua sudah cukup…” kata Ruki.
“Benarkah? Anda masih bisa membeli yang lain jika mau…”
Ruki menggeleng.
“Sudah cukup.” Katanya. Jin mengangguk patuh.
“Kalau begitu, sekarang kita bisa berangkat ke tempat makan siang. Silahkan pakai pakaian ini di kamar ganti, saya akan mengurus pembayarannya.”
Ruki hanya mengangguk singkat. Dengan langkah yang kurang bersemangat, ia membawa baju yang akan ia pakai ukedalam kamar ganti, sengaja berlama2 disana hanya untuk menyegarkan pikirannya. Bekas tendangan dan injakan Reita seperti masih terasa ngilu dan sakit dibeberapa bagian tubuhnya hingga untuk mengangkat sebelah tangannya saja, terasa sangat berat.
Berpikir sampai kapan dia bisa menahan rasa sakit seperti ini, Ruki menyelesaikan pakaiannya dalam beberapa menit dan keluar dari kamar ganti masih dengan ekspresi yang muram.
“Ruki-san, sudah selesai?”
“Iya… ini, apa terlihat bagus?”
Jin menatapnya dari ujung kaki ke ujung kepala menilai.
“Anda terlihat… manis, kalau saja wajah anda tidak suram begitu.” Komentar Jin tanpa nada. Ruki menghela nafas.
“Maafkan aku…”
Jin tidak menanggapinya. Tidak ada gunanya menghibur orang yang terus menerus menyalahkan diri sendiri akan kemalangan yang terus menimpanya. Setidaknya Jin masih memiliki hal lain yang harus diurusnya.
“Ini sudah waktunya.” Kata Jin serya melihat angka di arloji mahalnya. “Ayo kita pergi sekarang.”
Ruki mengangguk dan mengikuti Jin menuju lobi utama pusat perbelanjaan kelas atas itu.
Langkahnya terkesan menyeret2 membuat Jin yang berjalan di depannya gemas karena harus
menunggunya berkali2.
“Ruki-san, kaki anda tidak apa2?” Tanya Jin.
Ruki menggeleng pelan.
“Agak terkilir, tapi tidak apa. Jangan khawatir, Jin-san…” Ruki tersenyum kecil.
Sebenarnya senyum Ruki sangat manis, wajar saja kalau Byou begitu tergila2 pada anak itu. Dibalik wajahnya yang dihiasi luka, banyakdaya tarik mempesona yang mampu menjebak seseorang untuk terus memperhatikannya. Sayangnya, Jin sudah kebal. Lagi pula dia tidak tertarik dengan anak itu dari awal.
Sepuluh menit kemudian, Ruki sudah duduk didalam mobil mewah itu dan dalam perjalanan menuju restoran tempat mereka akan makan siang.
Ruki begitu sibuk dalam lamunannya dan Jin tidak mau susah2 mengajaknya bicara.dalam hal ini, Ruki bersyukur Jin begitu dingin padanya, hingga dia bisa terus asyik melamun tanpa memperhatikan kemana dirinya akan dibawa pergi.
“Ah!” Ruki tiba2 berseru menunjuk sesuatu dijalanan.
“Ada apa, Ruki-san?” Tanya Jin, hampir saja menginjak pedalrem secara mendadak.
“Iie, Jin-san… aku hanya melihat Kai-san..” gumam Ruki.
“Kai-san?”
“Teman satu band Reita.”
“Reita-san tergabung dalam band?”
“Yah, dia bassist… kau tahu, Reita kalau sudah main bass, sangat keren, sangat sangat keren… dia yang terbaik.” Ruki tersenyum senang mengenang bayangan Reita saat diatas panggung.
Jin menatap senyuman Ruki dari pantulan kaca spionnya. Ruki terlihat sangat bahagia dan ceria ketika menceritakan kekasihnya itu. Namun tiba2 Ruki kembali muram.
“Aku… sudah lama tidak melihat Reita diatas panggung.”
“Kenapa?”
“Kurasa… Reita tidak akan suka bila aku datang untuk menontonnya…”
“Apa kau sudah melakukannya?”
“… Belum…”
“Berarti kau tidak bisa menilainya begitu saja. Mungkin saja kan kalau Reita-san akan sangat senang jika Ruki-san datang untuknya…”
Ruki terdiam.
“Tidak mungkin… itu sangat tidak mungkin…”
“Benarkah? Bagaimana jika sesekali anda mencobanya?”
------- ---------------
“Kai…” Reita memanggil sahabatnya tersebut saat melihat punggung sahabatnya dikeramaian pengunjung caffe hari itu.
“Yo, Rei!” Kai tersenyum seolah insiden penonjokan kemarin malam tidak pernah terjadi.
“Maafkan aku!” Reita membungkuk. “Maafkan aku karena menonjokmu kemarin…”
“Oh… ohahahaha… aku sudah melupakannya, Rei. Lagi pula, kupikir aku keterlaluan sudah berkata tidak menyenangkan begitu padamu.” Kai menepuk punggungnya.
“Maafkan aku… sungguh, akhir2 ini aku mudah sekali tersulut emosi…”
“Hmmm… bisa dimengerti… kita sudah berapa lama berteman? Setahun? Dua tahun?”
“Sejak SMA…”
“Sudah selama itu membuatku sangat mengerti tabiatmu, Rei. Kau juga memukulku saat aku menasehatimu untuk pulang kerumah orang tuamu. Kau mudah marah untuk sesuatu yang sedang kau pikirkan…” kata Kai lagi. “Dari pada meminta maaf padaku, bukankah lebih baik kau memperbaiki hubunganmu dengan Ruki?”
“Ruki lagi? Kumohon, jangan membuatku memukulmu lagi, Kai… kau tidak mengerti masalahnya…”
Kai menatapnya penuh rasa keingintahuan.
“Ah, kau benar, aku tidak tahu masalahnya, yang kutahu kalau anak itu sangat mencintaimu…” kata kai lagi. Reita menatapnya malas.
“Lalu kalau dia mencintaiku, kenapa?”
“Kurasa cinta itu bisa saling memaafkan…” kata Kai setengah menggantung kata2nya.
“Aku tidak percaya hal2 melankolis seperti itu…”
“Begitu… yah, semoga saja kau tidak menyesal dengan kekeras kepalaanmu hari ini. Kau tahu, penyesalan selalu datang terlambat, disaat seperti itu, berharaplah sebuah kesempatan untuk memperbaikinya…”
“Apa maksudmu yang sebenarnya Kai?”
---------- ----------------------
“Rukichan…” sosok Byou yang memakai pakaian bermotif leopard lainnya membuat Ruki tercengang. Dia tidak memakai mantel leopard, tapi dia memakai mantel bulu abu2 yang bagian dalamnya bermotif leopard yang sama dengan pakaian yang dipakainya. Ruki curiga kostumnya memang sepasang.
“Kojima-sama, selamat siang…” Ruki membungkuk hormat.
“Tidak perlu terlalu formal begitu… kemari, duduk disampingku. Kau pasti belum makan siang kan?” Byou tersenyum. Lagi, Ruki merasa senyum Byou terlalu nakal, seolah kejahilan menjadi bagian dari senyumannya tersebut. Tapi hari ini, Byou terlihat kalem dan lembut, berbeda dari biasanya.
Ruki menghampirinya.
“Astaga, kau manis sekali. Kau suka baju itu?” Tanya Byou. Ruki mengangguk.
“Terima kasih, Kojima-sama sudah melakukan banyak hal untukku, aku tidak enak menerimanya…” kata Ruki polos, menarik2 ujung bajunya, gugup.
Byou semakin mengembangkan senyumnya.
“Kupikir, anak manis sepertimu, sangat pantas menerima hal2 kecil seperti ini…”
“Kecil? Tapi kupikir ini mahal sekali…”
“Tidak perlu dipikirkan… Ah, Jinchan, kau mau kemana?” kata Byou saat Jin hendak melangkah keluar dari ruangan yang sepenuhnya disewa untuk pembesar Duality tersebut.
“Aku? Aku harus mengerjakan hal lain, hubungi aku saja jika kalian sudah selesai.”
“Kau tidak ingin bergabung makan siang bersama kami?”
“Tidak perlu. Aku akan makan siang dengan ramen di dekat kantor. Kau tahu, hari ini mereka memberikan diskon setengah harga.”
“Benarkah? Apa aku seharusnya makan siang disana?”
“Yang benar saja, kau tidak akan mau makan ditempat murah seperti itu.” Gerutu Jin. “Nikmati saja makan siangmu, dan hubungi aku jika sudah selesai, aku akanmenjemput Ruki-san untuk mengantarnya pulang.”
“Baiklah…”
“Kalau begitu, aku permisi dulu…”
“Ah dan Jinchan, pastikan kau benar2 makan siang…”
Jin menyipitkan matanya.
“Aku tahu…”
-------- -------
Jin duduk disalah satu kursi yang kosong di kedai ramen tak jauh dari tempatnya bekerja. Sebenarnya cukup janggal dengan pakaiannya yang rapi tersebut untuk duduk dan makan di tempat yang terbilang kumuh tersebut. Tapi ini tempat favoritnya dan Manabu untuk makan siang bersama. Ramennya selalu enak. Dan pemilik tempat makan itu, seorang pria paruh baya bernama Yoshiki, selalu menghibunrnya dengan guyonan garingnya.
“Oh, Jin-kun, mau pesan sesuatu?” sapa pria setangah baya tersebut dari balik tempatnya membuat ramen. Jin tersenyum.
“Yang seperti biasa saja, Yoshiki-san. Aku dapat potongan harga juga kan?”
“Tentu saja. Kau pelanggan tetap di kedai ini. Ngomong2, kemana Manabuchan? Sudah lama aku tidak melihatnya datang ketempat ini.”
“Manabu memang sedang sibuk dengan toko bunganya. Tapi mungkin aku akan mengajaknya makan lain kali.”
“Ya, jika dia datang kesini, tempat ini selalu ramai oleh pembeli. Mungkin karena dia sangat cantik ya…” Yoshiki terkekeh.
“Jadi menurutmu, aku tidak cantik, begitu?” Jin bersungut2 tidak terima.
“Jin-kun tidak cantik… tapi menurutku, kau itu manis.”
“Ah, aku tidak suka dipuji oleh kakek2 mesum sepertimu.” Jin tertawa. Tentu saja hanya bercanda. Jin tahu, Yoshiki selalu punya cara untuk menghiburnya.
“Hei, kakek mesum inilah yang akan membuatkanmu ramen super lezat yang sangat kau sukai itu.”
“Baiklah baiklah, kalau begitu cepat, aku sudah lapar…”
“Ya, tunggulah sebentar…”
Jin hanya mengangguk singkat dan mengeluarkan ponselnya dari balik saku celananya hanya untuk sekedar mengecek notifikasi.
Tiga pesan dari Manabu.
Ia membukanya.
“Kupikir kau mau tahu ini, Kazuki sudah pulang dari Ibaraki, dia ingin bertemu denganku mala mini. Kalau ada waktu, mari kita bertemu selepas kau bekerja…”
“Kalau kau mau, ajak saja Byou-sama, pasti akan menyenangkan…”
“Oh, kecuali dia masih sibuk dengan boneka barunya, kau saja yang datang itu cukup. Kau mau kubawakan krisan putih lagi?”
Jadi Kazuki sudah pulang dari Ibaraki, Manabu pasti sangat senang. Jin tahu betul bagaimana anak itu sangat menyayangi pengusaha muda tersebut. Tidak mungkin Jin datang untuk mengganggu waktu mereka berdua malam ini. Manabu benar2 tidak peka dengan perasaannya sendiri. Jin tersenyum kecil dan mulai mengetik sesuatu untuk membalas pesan tersebut.
“Tidak ingin mengganggu. Selamat menikmati malammu dengan Kazu-chan. Krisan putihnya aku ambil besok pagi.”
“Nah anak muda, ini ramen super special tanpa naruto yang kau pesan. Dan ini the oolongnya. Ada tambahan lainnya?” Yoshiki meletakan pesanan Jin dimejanya.
“Tidak, aku selalu kenyang dengan ini semua. Terima kasih, Yoshiki-san.”
Yoshiki hanya mengacungkan ibu jarinya.
Tepat ketika Jin membelah sumpitnya, pintu kedai ramen sederhana itu terbuka dan dua orang pemuda masuk kedalamnya. Salah seorang diantaranya menenteng sebuah softcase yang dilihat dari bentuknya, Jin tahu itu sebuah bass.
Entah bagaimana, Jin mengenali si pembawa bass itu.
Teman satu flat Ruki, Reita-san.
“Syukurlah, kupikir bulan ini kita tidak akan mendapatkan pekerjaan lain. Akan kupersiapkan list lagunya, nanti kita diskusikan.” Pemuda berambut kecoklatan yang berjalan disamping Reita berkata riang, senyum pemuda itu sangat manis dengan dua lesung pipit di pipinya. Aneh sekali orang semenyebalkan Reita bisa berteman dengan pemuda semanis itu.
Jin terus memperhatikan mereka berdua, lupakan kalau ramennya sudah menguar wangi dihadapannya. Lupakan juga kalau dia saat ini sedang sangat lapar. Selera makannya seolah menguap entah kemana.
“Ya, kupikir aku akan kelaparan bulan ini.” Reita tertawa kecil.
Entah sial atau untung, tapi mereka berdua duduk tepat disamping sekretaris nomor satu di Duality tersebut. Jin terbiasa bersandiwara, kali inipun dia akan melakukannya dengan baik. Dia melanjutkan makannya dengan memasang telinga dan memasang ekspresi seolah tidak tertarik dengan pembicaraan mereka. Dan meskipun penampilannya cukup janggal di kedai ramen kumuh itu, Reita tidak menyadari kalau Jin ada disana. Mungkin Jin diam2 punya bakat membaur seperti ninja. Lagi pula, apa yang tak bisa dia lakukan?. Dia adalah orang nomor satu yang paling Byou Kojima percaya.
Hanya membodohi pemuda labil seperti membalikan telapak tangannya. Begitu mudah.
“Kalau begitu, ramen ini, kau yang traktir.”
“Kenapa aku?” Reita terlihat tidak terima.
“Ah, aku lupa, kau masih punya Ruki kan yang harus kau biayai…” Pemuda berambut coklat itu menyerangai. Ekspresi Reita berubah keras. Terlihat sekali kalau dia tidak suka nama Ruki dibawa2 dalam topic pembicaraannya dengan pemuda berambut coklat itu. Reflek, Jin menajamkan telinganya, mendengar baik2. Ramen itu sekarang benar2 terasa hambar. Tidak terasa apa2.
“Dia bisa membiayai dirinya sendiri sekarang… uang dariku, yang sangat sedikit ini, mungkin hanya berupa sampah dimatanya.”
“Kupikir Ruki bukan tipe orang seperti itu. Aku sudah lumayan lama tidak bertemu dengannya.”
“Kau tidak tahu apa2 tentang anak itu…”
“Aku tidak tahu apa2 ya… terakhir kali bertemu dengannya, aku benar2 berpikir dia tidak akan berubah sejahat itu.”
“Ah, bagaimana ya… kita tidak tahu apa yang akan orang lakukan jika benar2 miskin sepertiku…” gumam Reita. “Kita mungkin bisa menjadi nekat..”
“Tapi aku masih tetap bgerpikir, Ruki bukan orang seperti itu. Dia sangat mencintaimu kan? Aku ingat sekali, tempo hari, saat dia datang untuk melihat kita diatas panggung, hari dimana kau tidak sengaja jatuh tersandung saat turun panggung, dia masih tetap dengan bangganya berkata ‘Rei keren sekali ya…’ dengan polosnya begitu. Sepertinya bagi dirinya, kau itu benar2 orang paling keren dan tampan sedunia.”
Reita terdiam.
Jin ikut terdiam. Sekarang dia meletakan sumpitnya diatas mangkuk ramennya yang masih terisi penuh.
“Tapi… dia sekarang sudah berubah menjadi sosok yang tidak aku kenal, Kai…” kata Reita lirih.
“Apa yang terjadi?”
Reita meminum bir dinginnya.
“Aku tidak mengenalnya lagi… aku mungkin bisa membencinya, jika itu terjadi, aku akan membenci diriku lebih dari aku membencinya…” Reita meletakan kepalanya diatas meja.
“Perbedaan benci dan cinta itu memang setipis benang ya…” kata pemuda yang diapnggilnya Kai itu. Jin ingat, Ruki pernah tersentak saat di dalam mobil kalau dia melihat orang yang dipanggilnya ‘Kai-San’. Jadi pemuda berdimple itulah yang bernama Kai. Jin tanpa sadar mengangguk2.
“Padahal… beberapa saat sebelumnya, kami baik2 saja… kupikir mungkin dia memang tidak tahan denganku yang miskin ini…”
“Aku masih berpikir kalau Ruki bukan orang seperti itu…”
“Aku… yang paling memikirkan kebahagiaannya, tapi saat ini, mungkin ada orang lain yang bisa membahagiaannya.”
“Ada orang ketiga?”
“Mungkin…” Reita menggumam lagi.
“Kalau itu bisa membuatnya berpaling darimu, mungkin orang itu sangat amat hebat ya…”
“Ya… mungkin seperti itu… tapi aku….”
“Kau masih mencintainya?”
“Sangat… tapi yang kulakukan sekarang hanyalah membuatnya membenciku…”
Mereka berdua terdiam.
Jin merasa sudah cukup untuk mendengarnya. Dia bangkit dan meletakan sejumlah uang di atas mejanya.
“Oh, Jin-kun, sudah selesai?”
“Uhm… uangnay sudah kuletakan disana…”
“Terima kasih…” Yoshiki sebenarnya merasa heran, Jin keluar dari kedai itu dengan ekspresi yang aneh, seolah sedang memikirkan sesuatu. Yoshiki menghampiri meja sepeninggal Jin.
Ramennya masih penuh.
“Anak itu… tidak enak hati ya? Padahal datang dengan lembut…”
-------- ---------
Byou meletakan pisau dan garpunya lalu menyesap wine yang dipesannya.
Ruki menatapnya heran.
Masih siang sudah minum wine, memang hanya CEO Duality yang eksentrik yang terpikirkan hal aneh tersebut.
“Kenapa?” Tanya Byou, tersenyum saat sang host baru itu menatapnya heran.
Ruki buru2 menggeleng.
“Kojima-sama, apa tidak apa2, makan siang denganku ditempat yang mewah seperti ini? Seluruh ruangan disewa hanya untuk acara ini pula. Aku hanya merasa ini semua terlalu berlebihan…”
“Ckckck…” Byou menggeleng2 serya tersenyum kecil. “Aku hanya berpikir, orang sepertimu sudah pantas mendapatkan pelayanan terbaik.”
“Orang sepertiku?” Ruki menunjuk dirinya sendiri.
“Manis…” kata Byou lagi. Menatap Ruki lekat2. Wajah sang host langsung merona sangat merah.
“Kojima-sama memandangku terlalu tinggi…”
“Benarkah?” Byou tertawa kecil. “Aku hanya tidak tahan pada hal yang sangat manis. Membuatku ingin memakanmu saja…” \
“Eeeh…” Ruki salah tingkah.
“Apa Jinchan memperlakukanmu dengan baik?” Tanya Byou.
Ruki mengangguk bersemangat.
“Jin-san sangat baik denganku. Dia bilang aku boleh beli apapun yang aku mau, ah, aku memilih pakaian ini sendiri, apa seleraku buruk?”
“Tidak, kau sangat manis dan fashionable. Apa sebaiknya kapan2 kita belanja berdua saja? Ah, tapi untuk minggu depan sayangnya aku harus pergi keluar negeri.” Kata Byou, menyesali jadwalnya yang padat.
“Kojima-sama sangat sibuk ya, aku jadi tidak enak menyita waktumu seperti ini…”
Byou hanya tersenyum. Lagi, Ruki merasa senyumnya selalu penuh maksud.
“Katakan padaku, kenapa kau bekerja di Bion? Kudengar kau bekerja di sebuah konbini sebelumnya. Apa orang yang tinggal bersamamu –“
“Reita?”
“Ya, siapapun namanya, memaksamu mencari uang?” Tanya Byou penuh selidik. Ruki menggeleng dan menundukan kepalanya.
“Reita tidak seperti itu… dia bahkan sangat tidak suka aku bekerja di Bion…”
Byou mengangguk paham. Sejujurnya dia pun sangat tidak tega anak sepolos Ruki bekerja di tempat prostitusi kelas kakap seperti itu.
“Dia kekasihmu kan?”
Lagi, wajah Ruki merona merah meski sesaat kemudian kembali murung.
“Reita dan aku sudah saling mengenal sangat lama… kalau dibilang kekasih pun… mungkin seperti itu…” kata Ruki lirih. “Ah, dia seorang bassist dari sebuah band kecil. Reita sangat hebat, dia yang terbaik. Kalau sudah memainkan bassnya, seolah bass itu memiliki nyawa sendiri yang terhubung dengan batinnya. Aku sangat suka menontonnya diatas panggung…”
“Benarkah? Jadi Reita ini seorang musisi?”
“Ya, dia sangat keren dan berbakat… dia memiliki impian untuk terkenal bersama musiknya dan bandnya lalu kami bisa… hidup lebih layak. Reita bilang, impiannya adalah Budokan, lalu Tokyo Dome. Dan konser keliling Jepang, mungkin hingga ke seluruh dunia. Punya banyak fans, kemana2 semua orang akan mengelukan namanya.”
“Impian seorang musisi memang seperti itu ya…”
“Uhm… dan, Reita bilang… nanti suatu saat mungkin aku bisa lebih bahagia saat disampingnya. Karena, menurutnya, aku tidak pernah bahagia… Reita tidak tahu, kalau dia adalah sumber kebahagiaanku… aku sangat bersyukur bertemu dengannya. Tinggal bersamanya, menontonnya berlatih setiap saat, membuatkannya makanan, adalah sesuatu yang paling membuatku bahagia… meskipun saat ini dia bukan siapa2, aku sangat menyukai saat2 seperti ini… sebenarnya aku tidak peduli apakah dia berhasil mencapai Budokan atau tidak, apakah dia akan terkenal atau tidak, aku… tidak peduli….” Tanpa sadar pipi Ruki sudah basah oleh air mata.
Byou mendekatinya dan menyeka air mata yang hendak mengalir jatuh kembali kepipi putih mulus itu.
“Kau pasti sangat menyayanginya…” bisik Byou.
Ruki menjauhkan tangan Byou dan menghapus airmatanya sendiri menggunakan lengan bajunya.
“A-ahahaha… maafkan aku Kojima-sama, seharusnya bersama denganmu aku tidak membahas orang lain, aku… kumohon maafkan aku, ada yang aneh denganku, aku tidak bisa – “
“Sssh… kalau kau ingin menangis, tidak apa. Aku benci air mata, tapi aku tahu, meskipun tidak bisa mengembalikan waktu dan penyesalan, air mata itu berharga, kan?”
Ruki menggigit bibirnya mencoba menahan getaran isak tangis yang hendak ia keluarkan.
Byou merengkuhnya hangat.
Meskipun tidak sehangat milik Reita, tapi Ruki tahu, pemuda kaya raya ini sangat tulus dan baik hati. Entah mengapa Ruki merasa sangat tersentuh. Dia tahu dia dikelilingi orang baik. Meskipun hidup mungkin mengubah takdirnya.
Tsuzuku….
A/n : Bwakakakakaka… nani kore? #tabokh
Eeer, saya nulis ini sambil terus membayangkan senyum Raden KangMas Byounkichi yang ngehe. Part 2 ini, kayaknya ga menjelaskan apapun ya? Ehe ^_^’
Tadinya mau menyiksa Ruki lebih banyak lagi, tapi saya ga tega. Takut dianggap KDRT, masa seorang istri yang baik hati, tidak sombong dan rajin menabung demi masa depan bangsa dan Negara tega menyiksa suami sendiri di fanficnya *syalalala~ silahkan muntah berjamaah*
Ngomong2, ada yang tau ga? Sebenernya kalau di dunia nyata, para Host itu dilarang berhubungan dengan pelanggannya diluar host clubnya tersebut. Kalau ketauan, mereka bisa dipecat. Lalu soal pillow bisnis yang saya banyak sebut di part sebelumya, itu memang ada. Yang disebut pillow bisnis adalah… uhm, mari kita bahas mengenai Host dan Host Club terlebih dahulu.
Jadi gini, host itu kan sebenernya hanya temen minum di host club, mereka ada untuk menghibur dan menemani minum si pelanggan (yang biasanya mbak2 abis putus dan sulit move on *uhuk*, tante2 yang suaminya jarang pulang/sibuk, sosialita yg kebanyakan duit,dan cewe2 yang jomblo), ga lebih dari itu. Si Host wajib membuat si pelanggan merasa nyaman dan akhirnya si pelanggan tersebut jd ketagihan buat dtg ke host club. Kan mereka memang tidak diperkenankan buat bertemu diluar host club. Bahkan si host itu dibuatkan identitas palsu (semacam name stage) saat bekerja, diluar tempat mereka bekerja, ya si host Cuma org biasa, yg biasa2 aja. Makanya biasanya para host itu wajib menyembunyikan identitas aslinya. Dan biasanya para host juga menyembunyikan pekerjaan mereka. Karena pekerjaan sebagai Host masih dianggap pekerjaan yang hina gitu.
Pekerjaan mereka aslinya Cuma gitu, begitu pelanggan datang ke host club, mereka dibebaskan biaya masuk, tapi mereka wajib membeli minuman yang dijual disana. Biasanya minumannya mahal2 gitu. Diatas 5000 yen lah, itu belum termasuk kalo kita mau ngasih tips ke si hostnya. Biasanya sih kalo yang kebanyakan duit, ngasih tipsnya banyak, pesen minumannya banyak. Jadi peringkat para host itu adalah yang paling banyak melakukan penjualan minuman. Itu biasanya yang pelanggannya paling banyak. Dan biasanya si nomor satu itu yang paling ganteng dan paling jago ngerayu lah #lol soalnya bisa bikin pelanggannya datang lagi buat ditemenin dia dan bisa bikin pelanggannya pesen minuman yang mahal2 lebih dari sekali pesen.
Jadi, host itu berbeda sama sekali dengan pelacur atau pekerjaan asusila ya. Host di Jepang bener2 dibuat seberetika mungkin. Mereka dilatih untuk bicara sopan sama pelanggannya, diajarkan untuk membangun karakternya sebaik mungkin, diajarkan cara menjual yang baik, dilatih agar bisa mengerti perasaan dan mood pelanggan, juga dituntut untuk bersikap professional.
Host club itu ada 4 macem yang saya tau.
Host club yang isinya para pria tampan yang menemani para pelanggan wanita
Host Club yang isinya wanita cantik yang menemani pria2 kaya
Host Club yang isinya campuran anatara pria dan pria setengah mateng yang menemani para pria belok atau bi
Host club yang isinya okama doang khusus buat yang menyimpang menyimpang pokoknya #lol
Pakaian para host biasanya necis n mahal2, kadang ada pula yang bermerk kelas dunia gitu. Mereka rajin update soal fashion juga. Ga kalah pokoknya sama artis. Di dalam host clubnya juga ada pekerja yang mengurus bagian wardrobe dan make up. Sebelum mulai bekerja mereka akan didandani sekeren mungkin dan semenarik mungkin. Tapi ngga jarang juga host yang dapet hadiah kayak jam tangan mahal, pakaian mahal juga ponsel dan lainnya dari para pelanggannya yang kesemsem ama mereka. Karena sebenarnya penghasilan utama host itu bukan dari gaji bulanannya yang diambil dari komisi penjualan minuman, tapi dari tips dan hadiah dari pelanggan. Saya pernah denger ada seorang host yang sampe dibeliin apato dan mobil sama pelanggannya tanpa mereka harus melakukan pillow bisnis. Itu mah hoki2an sih, soalnya ga banyak juga kan pelanggan kelas kakap kayak gitu.
Kalau kita masuk host club, kita dilarang bawa kamera, hp dan sebagainya untuk menjaga privasi si hostnya. Mereka semacam artis di host club lah. Kita juga bisa memilih tipe host yang kita suka, misalnya suka cowo yg dingin, yang cuek, yang manis unyu, yang liar, yang gombal, dll pokoknya karakternya macem2, kayak di anime gitulah. Dan jangan berharap kita bisa berhubungan dengan mereka diluar jam kerja mereka. Soalnya gini, yang disebut pillow bisnis adalah hubungan sex yang dilakukan oleh host dan pelanggannya. Biasanya setelah melakukan pillow bisnis, peringkat si host jadi anjlok dan namanya bakal tercemar sebagai host murahan yang ga jauh beda ama pekerja sex komersil gitulah. Makanya, sangat amat jarang sekali seorang host mau melakukan pillow bisnis, karena mereka biasanya sangat menjaga pekerjaanya dan ga mau jadi pengangguran. Lagi pula, mayoritas host ga mau punya masalah ama pelanggannya, misalnya si pelanggannya hamil atau apalah gitu. Host yang sebenarnya justru lebih terdidik dari pada pekerja kantoran biasa yang hobinya mampir ke love hotel ama wanita penghibur :v
Alasan lain kenapa pihak management host club dan para hostnya sendiri bener2 menyembunyikan identitas si host adalah karena, tidak sedikit pelanggan host itu adalah orang2 penting dunia perekonomian, istri2 pejabat, orang terpandang, anggota yakuza, petinggi yakuza, atau mungkin istri2 petinggi yakuza yang notabene mereka males urusan panjang lebar kalo sampe kejadian yg tidak diinginkan melibatkan pelanggan2 kelas atas tersebut. Untuk urusan melindungi privasi, Jepang memang nomor satu. Karena pelanggan Host Club juga biasanya menggunakan identitas palsu, atau nama palsu saat menjadi member host club demi nama baik keluarga. Dan pihak management sangat menjaga baik hal tersebut. Lalu bagaimana kita bisa tahu kalau pelanggan itu dari kalangan keluarga terpandang, yakuza, atau pejabat?.
Host itu adalah gudangnya informasi.
Ingat, pelanggan mereka mayoritas adalah mereka yang butuh teman bicara, hal apa aja, kehidupan, cinta dan lainnya. Pada akhirnya host club tau kalau si Ibu A itu istri pejabat B, atau Mbak C itu tunangannya Ketua Yakuza blok F, atau si Mas2 D itu kerjanya di perusahaan migas dsb. Hal tersebut biasanya bisa ketauan dari isi curhatan pelanggan, dari cara bicara pelanggan, dari besaran tips yang dikasih pelanggan, dll. Hebatnya, biasanya meskipun udah tau sama tau, baik pelanggan host club maupun management host club sendiri menjadikannya rahasia umum. Paling gossip sesama host aja.
Syarat utama jadi host yang pasti punya tampang dan menarik secara fisik. Mereka tidak mengutamakan pendidikan akademis. Banyak juga kok host yang merupakan siswa dan siswi SMA yang kerja paruh waktu sebagai host. Ada juga orang yang punya dua kerjaan. Pagi sampe siang kerja kantoran, sore sampe malem jadi host. Karena system Kerja di Jepang itu menyenangkan, kita bisa ambil sebanyak mungkin part time job selagi mampu.
Mengenai ‘Reguler’ yang saya sebut dalam FF ini, sebenernya ga ada. Didunia nyatanya, kalo kita emg seneng banget ama itu host, paling banter kita Cuma bisa datang ke host club itu sering2, jadi member tetap dan minta ditemani host yang sama setiap kali kita datang. Ngga ada tuh judulan kalo kita bayar lebih atau jadi member VIP, kita bisa pake jasa sex si Host. Intinya, dalam host club ngga ada bisnis berbau prostitusi seperti itu. Mereka pure hanya sebagai penghibur. Jikalau pada akhirnya entah gimana si host akhirnya bersedia melakukan pillow bisnis dengan pelanggannya, maka taruhannya ya karir nge-hostnya yang hancur.
Sekarang2, host club juga banyak dijadikan tempat untuk hang out bersama teman2. Di Jepang, lumrah banget kalo misalnya pegawe cewe kantor A rame2 datang ke host club sepulang kerja. Karena host club itu bukan tempat prostitusi. Lebih seperti caffe atau bar dengan service cowo ganteng atau cewe cantik. Tapi Host beda dengan pelayan ya. Karena di tiap Host club pasti ada pelayan yang menyajikan minuman, itu beda lagi.
Saya punya beberapa kontak line host di Shinjuku-cho, nama host clubnya P****P (maap, sensor yak) , termasuk salah satu host club yang terkenal kalo kita main ke kawasan Shinjuku. Host disana cakep2, modelan cowo2 visual kei gitulah, ada yang namanya Mio, astajim, cantik banget, saya kira dia cewe, atau personel band vikei, ternyata doi cowo, host pula X’D
Beberapa host yang bisa bahasa inggris suka chat juga meskipun intinya mereka nyuruh saya datang ke host club mereka kalau saya berkesempatan ke Jepang sana. Dan inti chat selalu berputar2 ngomongin even yang lagi diadain di host club mereka. Ga pernah ngomongin masalah pribadi T_T padahal maksud saya mah, kali aja kan jadi punya kecengan cowo ganteng gitu X’D
Dan sisanya ga pernah bales chat saya, tapi di read X’D mungkin mereka ga bisa eigo ya, hidup emang berat kalo lo cuman punya tampang ganteng tapi otak bolong :v
Oh, saya inget, di host club mereka itu ada promo, kalau kita pelanggan baru, biaya masuknya hanya 6800 yen gratis minuman. Kedatangan kedua kita hanya dikenai 4000 yen udah termasuk minuman. Jadi dikedatangan pertama kita itu daftar member dan kita bayar 6800 yen udah full service, full service disini berarti udah termasuk minuman, ditemani ngobrol ama cowo ganteng, terus kita bisa karokean juga. Nah dikedatangan kita selanjutnya, karena kita udah jadi member, kita Cuma bayar 4000 yen, udah termasuk minuman, tapi kalau kita mau nambah minuman, kena charge lagi sesuai harga minumanya. So, buat kawan2 yang mau datang dan mencoba sensasi minum sambil curhat ditemenin cowo ganteng all variant, tinggal datang aja ke Shinjuku-cho, Host Clubnya namanya P*****p atau boleh cek Fb saya, soalnya tanpa sadar, saya udah masuk grup fb host club itu -___-‘’
Saa minna, arigatou udah baca.
Big Thanks:
Mamah, yang komen kalo Raden Kang Mas Byounkichi senyumnya kayak om2 mesum dan sampe kebawa mimpi mau beliin jaket Anithya yg mustajab bgt emak gue mau beliin barang gituan :v
Miss SM yang malem2 dateng bawain rokok terus pergi lagi
Kawaii Ame yang udah setia ingetin soal kerjaan di grup :v
Masih, tante Rukira Matsunori, yang obrolan geje di bbm menggugah hati nurani bgt :v
Sakurazawa Nadine, ayo dong kapan kita ke Jepang n nyewa host? X’D
Mood waktu bikin FF ini:
Full Album Screw dari jaman Duality ampe yang terbaru Fugly n Anithya
Ditemenin Pv2
Screw; Ancient Rain, Tear Drop, Calvade, Duality, Death Doors, Deep Inside ;
The Gazette; Pledge, Suicide Circus, Last Heaven, Dogma, Ugly, Undying, Guren, Taion, Chizuru ;
Malice Mizer ; Le Ciel, Gardenia, Gekka No Yosouka ;
Hyde ; Cape of Strom, Hallowen Junky Orchestra ;
Laruku ; Vivid color, Blurry eyes, Seventh Heaven, Wing Flap ;
Mejibray ; Echo n Eiki
Dibubuhi joget2 alay dari : Golden Bomber ; Memeshikute Kpop Version , Dance Generation
Sampai jumpa di lanjutan Kagefumi, bagian 3
KAGEFUMI
The Argent and The Star..
Follow my twitter : @tsualla
IG : @tsuallamethuselluth
Tidak ada komentar:
Posting Komentar