LAST QUESTION
Genre: Shonen Ai *yang ga suka, mundur teratur*
Rating: ... ? #plak
Starring: The Gazette
Pairing: Reituki, saya Reituki garis keras #lol
Summary: .... Apa itu summary? #ditabok
A/n : Ini bukan karya terbaik saya, tapi FF ini lama bgt mendem di Lappychan dan Keitaichan #ngok
sebelumnya sih yang minta baca saya Share via email ketemen2 deket aja, tapi saya memiliki HAK PENUH dan ABSOLUTE atas FF ini.
Komen bisa via fb atau komen disini juga ga apa2. Caci maki asal bahasa sopan pasti direspon XD
Enjoy minna...
Chapter 1
Untuk yang
kesekian kalinya, Ruki malas untuk berinteraksi dengan mereka. Bahkan menatap
pun ia benar-benar tidak mau.
Mereka yang ia maksud adalah
sekelompok pemuda, band matenya. Tidak ada alasan khusus kenapa ia malas
bertemu dengan band mate yang seharusnya ia menjaga kekompakan dengan mereka.
Ia hanya tidak suka.
Terutama, pada pemuda itu.
Ruki menguap. Kertas lirik
ditangannya sudah penuh coretan disana sini. Laptop yang menyala terang
dihadapannya tak membuat minatnya beralih dari coretan ditangannya itu.
Berkali-kali ia coba mencocokan kata-kata agar pharase dan majasnya menjadi
sebuah kesatuan yang indah namun masih saling berhubungan. Ia tidak peduli bila
liriknya sulit dimengerti atau bahkan sebagian besar dari fansnya tidak
mengerti makna sesungguhnya dari lagu yang ia buat. He just love it...
“Ru, kau masih mau disini?“ tanya seorang pemuda berambut
raven. Ruki mendongkak dan tersenyum tipis. Ia tidak dalam kondisi akan
menjawab pertanyaan si rambut raven, sehingga sang penanya pun kembali
melanjutkan kalimat singkatnya. “Coba aku lihat.“
Ruki hanya diam tidak menjawab
saat si rambut raven tersebut mengambil kertas coretan dari tangannya dan
mengamatinya sebentar. Dibiarkannya oleh Ruki si Raven itu membaca lirik
setengah jadi yang penuh coretan dan tulisan tidak rapi.
Ruki beranjak mengambil gelas
kopinya dan segera mebghilang beberapa detik di pantry untuk membuat kopi. Lalu
kemudian ia kembali duduk di hadapan si raven. Masih tidak ada suara diantara
keduanya. Hanya deting suara sendok yang beradu dengan gelas yang mengisi
kesunyian diantara keduanya.
“Kau mau pulang, tidak?“ tiba-tiba saja Ruki terlonjak
saat seorang pemuda lainnya masuk kedalam ruangan, dan langsung duduk
disebelahnya. Ruki bergeser agak menjauh.
“Aku hanya melihat ini sedikit,
kau mau lihat? Liriknya aneh, tapi seperti biasa, keren...“ kata Aoi, si Rambut raven.
Reita, pemuda yang baru saja
datang, mengambil lirik itu dari tangan Aoi. Ruki tidak bisa melihat expresi
sebenarnya dari Reita, karena pemuda itu, Reita, memakai masker yang menutupi
sebagian besar wajahnya. Dan untuk apa Ruki peduli dengan expresi Reita?
Melihat wajahnya saja Ruki sudah muak.
“Keren.“ hanya itu yang diucapkan
Reita sebelum ia mengembalikan kertas liriknya kehadapan Ruki. “Itu tentang apa? Hal yang kau
benci tapi kau tak bisa mengerti kenapa kau membencinya? Mantan pacarmu kurasa.“
“Kau bisa mengerti maksudnya
kemana, rRei? Kupikir kau bodoh dalam eigo...“ Aoi nyengir. Reita hanya meringis sementara Ruki mencibir.
Lalu pintu studio tiba-tiba
terbuka. Pemuda lain yanv berparas cantik menerobos masuk. Rambut tembaganya
yang bergelombang menjuntai indah.
“Aoi, syukurlah kau belum
pulang... Mobilku mogok, aku ikut denganmu sampai stasiun terdekat, kai sudah
pulang.“
Katanya. Ada nada sedikit manja yang Ruki tidak suka dari nada bicaranya.
“Kenapa dengan mobilmu, Uru?“ Aoi bertanya heran. Uruha
hanya mengangkat bahunya, tanda ia tidak tahu.
“Rei dan Ruki, kalian kenapa
belum pulang? Lampu gedung ini akan dimatikan selama sejam pukul 8 malam nanti,
memperingati hari bumi, kalian tidak dengar ya?“ Kata Uruha lagi.
“Benarkah? Kalau begitu, ayo
kita pulang, Uruha. Aku benci harus bergelap-gelap di dalam gedung berhantu ini“ Aoi bergegas menarik tas dan
kunci mobilnya lalu berjalan keluar. “Kalian juga sebaiknya pulang, Sakano-san meminta kita
mereview ulang lagu yang akan naik record besok. Kalian tahu kan, Kai sudah
minta kita untuk istirahat dan tidur cukup supaya besok bisa datang lebih pagi.“
“Yak, satu atau dua gelas white
russian cukup kurasa“
kata Uruha.
“Jangan, nanti kau bs hang over
dan datang terlambat besok.“
Aoi menarik ujung baju Uruha, memaksanya untuk mengikutinya keluar dari ruangan
itu. Mereka terus berceloteh hingga suara mereka tidak terdengar lagi. Ruki
tidak berkata apa-apa lagi, segera membenahi semua coretan dan
laptopnya,kemudian ia segera memakai jumper suitnya. Ia tidak menyadari Reita
saat ini tengah menatapnya tajam, memperhatikaan dengan sangat intens.
“Aku duluan.“ Kata Reita sangat mendadak
dan spontan, membuat Ruki agak mencelos karena kaget. Namun Ruki tidak
menghiraukannya, hanya menjawab ya dengan singkat.
Ruki bisa mendengar Reita
keluar ruangan dan menutup pintu studio. Ia kemudian mengikuti Reita untuk
pulang dari gedung managementnya.
Keesokan harinya, Ruki tiba
paling awal di studio, memakai jumper suitnya dan sepatu sneaker kesayangannya.
Mobilnya pagi ini agak sedikit bermasalah, entah kenapa lampu sennya tidak mau
menyala dan tiba-tiba saja suspensinya tidak enak. Ruki tidak terlalu mengerti
mobil, namun ia sangat menyukai Audi hitamnya tersebut. Saat ia sedang asyik
berpikir kenapa mobilnya yang semula baik-baik saja, tiba-tiba bisa terjadi
kerusakan menggangu seperti itu. Ruki sesaat teringat kalau kemarin mobil Uruha
pun sampai mogok dan Uruha terpaksa pulang bersama Aoi. Kalau nanti malam
mobilnya juga mogok, apa dia juga harus minta diantar oleh salah satu dari
bandmatenya sampai stasiu. Tunggu, kalau begitu, Uruha kemarin naik kereta
juga? Bukankah itu agak berbahaya, karena meakipun sudah malam kemungkinan
mereka masih bisa bertemu fansnya. Sekalipun Uruha sudah pakai masker, tapi
dandananya sangat nyentrik, masih ada kemungkinan dia dikenali fansnya yang
terkenal fanatik.
Ruki berhenti untuk
membayangkan dan memikirkan satu dari bandmatenya dan segera ia mengambil
gitarnya, memulai mencari melody.
“ah, Ohayou. Kau datang paling
pertama?“
Ruki mengangkat wajahnya untuk
melihat siapa yang datang. Dan Begitu tahu siapa yang menyapanya, Ruki menyesal
mendongkakan wajahnya.
Sebenarnya tak perlu Ruki
sampai membenci Reita, secara personal, Reita sangat baik kepadanya. Reita
selalu menyapa dan sebenarnya mereka berdua tidak memiliki masalah pribadi.
Tapi entah kenapa Ruki selalu menjaga jarak kepadanya. Ruki sebisa mungkin
tidak ingin bicara mengenai hal yang terlalu pribadi dengannya. Ia juga tidak
ingin satu ruangan berdua saja dengan Reita. Pokok Ruki ingin hubungan mereka
aebatas rekan kerja saja, tidak lebih.
“Iya.“ Ruki menjawab malas.
“Kau mau kopi? Aku akan membuat
kopi.“ Tawar Reita. Ruki menggeleng
sebagai jawaban. Reita beranjak ke pantry sementara Ruki merebahkan dirinya di
atas sofa bed yang disediakan management untuk para member beristirahat
sejenak.
Tak lama, Reita kembali
membawa dua cangkir kopi. Ruki yang baru saja ingin memejamkan matanya
mengerutkan dahi, melihat secangkir kopi yang harum terhidang dihadapannya.
“Aku sudah bilang tidak mau,
kan?“Kata Ruki dingin.
“Aku menuang bubuk kopi ke
dalam coffe press terlalu banyak. Cukup untuk dua gelas.“ Reita beralasan.
Dan Ruki, sama sekali tidak
menyentuh kopi itu seharian setelahnya.
“Ruki, kau mau kopi? Kau
terlihat mengantuk?“
Ruki membuka matanya perlahan.
Cangkir kopi yang dibuatkan Reita masih disana, sudah tak panas lagi. Semebtara
Reita sibuk tertawa dengan kai dan Uruha yang baru datang. Aoi duduk disamping
Uruha memainkan ponselnya serya bersandar kebahu Uruha. Pemandangan yang
memuakan.
Suara yang dikenalnya dalam
mimpi, ia menghela nafas. Ini gara-gara Reita mengucapkan kata-kata yang sama.
“Sakano-san sudah datang?“ tanya Ruki meninterupsi
mereka yang sedang bercanda.
“Ya, sebentar lagi kita harus
kelantai atas, untuk membicarakan preview naik record.“ Jawab Kai.
“Baiklah...“
“Hei lihat, wajahmu terlihat
mengantuk.“
celetuk Reita. Dan Ruki menatapnya dengan pandangan marah.
Seharian itu mood Ruki berubah
memburuk. Dia tidak bicara sama sekali dengan Reita. Dan bahkan ketika Uruha
mengajaknya makan siang, Ruki memilih untuk menjauh dari Reita.
Sikapnya yang dingin tentu
saja bisa dirasakan oleh Reita. Namun Reita tjdak mengerti kenapa Ruki bersikap
seperti itu padanya. namun membahasnya hanya akan membuat mood Ruki semakin
berantakan. Sehingga Reita tidak mau ambil pusing, kembali mengobrol dengan
Uruha dan Aoi.
Ia akan membicarakan masalah
dengan Ruki berdua saja nanti. Mungkin.
Tsuzuku~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar