Minggu, 26 Juni 2016

LAST QUESTION _ A Fanfic by Tsualla Methuselluth_

LAST QUESTION

Genre: Shonen Ai *yang ga suka, mundur teratur*
Rating: ... ? #plak
Starring: The Gazette 
Pairing: Reituki, saya Reituki garis keras #lol


Summary: .... Apa itu summary? #ditabok

A/n : Ini bukan karya terbaik saya, tapi FF ini lama bgt mendem di Lappychan dan Keitaichan #ngok
sebelumnya sih yang minta baca saya Share via email ketemen2 deket aja, tapi saya memiliki HAK PENUH dan ABSOLUTE atas FF ini. 
Komen bisa via fb atau komen disini juga ga apa2. Caci maki asal bahasa sopan pasti direspon XD
Enjoy minna... 


Chapter 1

Untuk yang kesekian kalinya, Ruki malas untuk berinteraksi dengan mereka. Bahkan menatap pun ia benar-benar tidak mau.

Mereka yang ia maksud adalah sekelompok pemuda, band matenya. Tidak ada alasan khusus kenapa ia malas bertemu dengan band mate yang seharusnya ia menjaga kekompakan dengan mereka. Ia hanya tidak suka.

Terutama, pada pemuda itu.

Ruki menguap. Kertas lirik ditangannya sudah penuh coretan disana sini. Laptop yang menyala terang dihadapannya tak membuat minatnya beralih dari coretan ditangannya itu. Berkali-kali ia coba mencocokan kata-kata agar pharase dan majasnya menjadi sebuah kesatuan yang indah namun masih saling berhubungan. Ia tidak peduli bila liriknya sulit dimengerti atau bahkan sebagian besar dari fansnya tidak mengerti makna sesungguhnya dari lagu yang ia buat. He just love it...

Ru, kau masih mau disini? tanya seorang pemuda berambut raven. Ruki mendongkak dan tersenyum tipis. Ia tidak dalam kondisi akan menjawab pertanyaan si rambut raven, sehingga sang penanya pun kembali melanjutkan kalimat singkatnya. Coba aku lihat.

Ruki hanya diam tidak menjawab saat si rambut raven tersebut mengambil kertas coretan dari tangannya dan mengamatinya sebentar. Dibiarkannya oleh Ruki si Raven itu membaca lirik setengah jadi yang penuh coretan dan tulisan tidak rapi.

Ruki beranjak mengambil gelas kopinya dan segera mebghilang beberapa detik di pantry untuk membuat kopi. Lalu kemudian ia kembali duduk di hadapan si raven. Masih tidak ada suara diantara keduanya. Hanya deting suara sendok yang beradu dengan gelas yang mengisi kesunyian diantara keduanya.

Kau mau pulang, tidak? tiba-tiba saja Ruki terlonjak saat seorang pemuda lainnya masuk kedalam ruangan, dan langsung duduk disebelahnya. Ruki bergeser agak menjauh.

Aku hanya melihat ini sedikit, kau mau lihat? Liriknya aneh, tapi seperti biasa, keren... kata Aoi, si Rambut raven.

Reita, pemuda yang baru saja datang, mengambil lirik itu dari tangan Aoi. Ruki tidak bisa melihat expresi sebenarnya dari Reita, karena pemuda itu, Reita, memakai masker yang menutupi sebagian besar wajahnya. Dan untuk apa Ruki peduli dengan expresi Reita? Melihat wajahnya saja Ruki sudah muak.

Keren. hanya itu yang diucapkan Reita sebelum ia mengembalikan kertas liriknya kehadapan Ruki. Itu tentang apa? Hal yang kau benci tapi kau tak bisa mengerti kenapa kau membencinya? Mantan pacarmu kurasa.

Kau bisa mengerti maksudnya kemana, rRei? Kupikir kau bodoh dalam eigo... Aoi nyengir. Reita hanya meringis sementara Ruki mencibir.

Lalu pintu studio tiba-tiba terbuka. Pemuda lain yanv berparas cantik menerobos masuk. Rambut tembaganya yang bergelombang menjuntai indah.

Aoi, syukurlah kau belum pulang... Mobilku mogok, aku ikut denganmu sampai stasiun terdekat, kai sudah pulang. Katanya. Ada nada sedikit manja yang Ruki tidak suka dari nada bicaranya.

Kenapa dengan mobilmu, Uru? Aoi bertanya heran. Uruha hanya mengangkat bahunya, tanda ia tidak tahu.

Rei dan Ruki, kalian kenapa belum pulang? Lampu gedung ini akan dimatikan selama sejam pukul 8 malam nanti, memperingati hari bumi, kalian tidak dengar ya? Kata Uruha lagi.

Benarkah? Kalau begitu, ayo kita pulang, Uruha. Aku benci harus bergelap-gelap di dalam gedung berhantu ini Aoi bergegas menarik tas dan kunci mobilnya lalu berjalan keluar. Kalian juga sebaiknya pulang, Sakano-san meminta kita mereview ulang lagu yang akan naik record besok. Kalian tahu kan, Kai sudah minta kita untuk istirahat dan tidur cukup supaya besok bisa datang lebih pagi.

Yak, satu atau dua gelas white russian cukup kurasa kata Uruha.

Jangan, nanti kau bs hang over dan datang terlambat besok. Aoi menarik ujung baju Uruha, memaksanya untuk mengikutinya keluar dari ruangan itu. Mereka terus berceloteh hingga suara mereka tidak terdengar lagi. Ruki tidak berkata apa-apa lagi, segera membenahi semua coretan dan laptopnya,kemudian ia segera memakai jumper suitnya. Ia tidak menyadari Reita saat ini tengah menatapnya tajam, memperhatikaan dengan sangat intens.

Aku duluan. Kata Reita sangat mendadak dan spontan, membuat Ruki agak mencelos karena kaget. Namun Ruki tidak menghiraukannya, hanya menjawab ya dengan singkat.

Ruki bisa mendengar Reita keluar ruangan dan menutup pintu studio. Ia kemudian mengikuti Reita untuk pulang dari gedung managementnya.

Keesokan harinya, Ruki tiba paling awal di studio, memakai jumper suitnya dan sepatu sneaker kesayangannya. Mobilnya pagi ini agak sedikit bermasalah, entah kenapa lampu sennya tidak mau menyala dan tiba-tiba saja suspensinya tidak enak. Ruki tidak terlalu mengerti mobil, namun ia sangat menyukai Audi hitamnya tersebut. Saat ia sedang asyik berpikir kenapa mobilnya yang semula baik-baik saja, tiba-tiba bisa terjadi kerusakan menggangu seperti itu. Ruki sesaat teringat kalau kemarin mobil Uruha pun sampai mogok dan Uruha terpaksa pulang bersama Aoi. Kalau nanti malam mobilnya juga mogok, apa dia juga harus minta diantar oleh salah satu dari bandmatenya sampai stasiu. Tunggu, kalau begitu, Uruha kemarin naik kereta juga? Bukankah itu agak berbahaya, karena meakipun sudah malam kemungkinan mereka masih bisa bertemu fansnya. Sekalipun Uruha sudah pakai masker, tapi dandananya sangat nyentrik, masih ada kemungkinan dia dikenali fansnya yang terkenal fanatik.

Ruki berhenti untuk membayangkan dan memikirkan satu dari bandmatenya dan segera ia mengambil gitarnya, memulai mencari melody.

ah, Ohayou. Kau datang paling pertama?

Ruki mengangkat wajahnya untuk melihat siapa yang datang. Dan Begitu tahu siapa yang menyapanya, Ruki menyesal mendongkakan wajahnya.
Sebenarnya tak perlu Ruki sampai membenci Reita, secara personal, Reita sangat baik kepadanya. Reita selalu menyapa dan sebenarnya mereka berdua tidak memiliki masalah pribadi. Tapi entah kenapa Ruki selalu menjaga jarak kepadanya. Ruki sebisa mungkin tidak ingin bicara mengenai hal yang terlalu pribadi dengannya. Ia juga tidak ingin satu ruangan berdua saja dengan Reita. Pokok Ruki ingin hubungan mereka aebatas rekan kerja saja, tidak lebih.

Iya. Ruki menjawab malas.

Kau mau kopi? Aku akan membuat kopi. Tawar Reita. Ruki menggeleng sebagai jawaban. Reita beranjak ke pantry sementara Ruki merebahkan dirinya di atas sofa bed yang disediakan management untuk para member beristirahat sejenak.

Tak lama, Reita kembali membawa dua cangkir kopi. Ruki yang baru saja ingin memejamkan matanya mengerutkan dahi, melihat secangkir kopi yang harum terhidang dihadapannya.

Aku sudah bilang tidak mau, kan?Kata Ruki dingin.

Aku menuang bubuk kopi ke dalam coffe press terlalu banyak. Cukup untuk dua gelas. Reita beralasan.

Dan Ruki, sama sekali tidak menyentuh kopi itu seharian setelahnya.

Ruki, kau mau kopi? Kau terlihat mengantuk?

Ruki membuka matanya perlahan. Cangkir kopi yang dibuatkan Reita masih disana, sudah tak panas lagi. Semebtara Reita sibuk tertawa dengan kai dan Uruha yang baru datang. Aoi duduk disamping Uruha memainkan ponselnya serya bersandar kebahu Uruha. Pemandangan yang memuakan.

Suara yang dikenalnya dalam mimpi, ia menghela nafas. Ini gara-gara Reita mengucapkan kata-kata yang sama.

Sakano-san sudah datang? tanya Ruki meninterupsi mereka yang sedang bercanda.

Ya, sebentar lagi kita harus kelantai atas, untuk membicarakan preview naik record. Jawab Kai.

Baiklah...

Hei lihat, wajahmu terlihat mengantuk. celetuk Reita. Dan Ruki menatapnya dengan pandangan marah.

Seharian itu mood Ruki berubah memburuk. Dia tidak bicara sama sekali dengan Reita. Dan bahkan ketika Uruha mengajaknya makan siang, Ruki memilih untuk menjauh dari Reita.

Sikapnya yang dingin tentu saja bisa dirasakan oleh Reita. Namun Reita tjdak mengerti kenapa Ruki bersikap seperti itu padanya. namun membahasnya hanya akan membuat mood Ruki semakin berantakan. Sehingga Reita tidak mau ambil pusing, kembali mengobrol dengan Uruha dan Aoi.


Ia akan membicarakan masalah dengan Ruki berdua saja nanti. Mungkin.


Tsuzuku~ 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar